Sabtu, 27 Juni 2009

Bungklang Bungkling: KLEPON

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Klepon’, di harian Bali Post, Minggu, 21 Juni, 2009,
oleh I Wayan Juniartha

Diterjemahkan oleh Putu Semiada






Klepon (Jajanan Bali)


Apa sebabnya jajanan Bali kalah dengan jajanan asing?


“Ah kamu kok bawa-bawa nama jajanan asing? Jangankan terhadap jajanan asing, terhadap jajanan Jawa saja sudah kalah,” I Made Kliad Kliud menyela.


Semenjak kasus arak plosan merebak, para anggota sekehe tuak sekarang beralih ke kopi. Mengingat kopi tidak cocok dengan kacang, pepes, tum (daging cincang yang dikukus), makanya kelompok peminum itu sekarang seolah semuanya menjadi ahli jajanan tradisional.


“Dimana letak kelemahan jajanan Bali dibanding jajanan Jawa, ?” I Wayan Ajeg Bali bertanya dengan semangatnya.


I Wayan memang semangat kalau sudah menyangkut urusan tentang Bali. Artinya, kalau sudah buatan orang Bali, produksi Bali, menurut I Wayan pasti paling bagus. Kalau yang berasal dari Bali kualitasnya nomer dua, makanya dibilang ‘dauh tukad’ (seberang sungai; luar pulau, bukan ‘duur langit’ (di atas langit).


Kenapa kamu pura-pura tidak tahu, Yan? Sepertinya kamu tidak tahu masalah laklak masebun Banyuwangi (gadis Banyuwangi) yang memang renyah dan membuat ketagihan. Jelas kalah laklakBalinya,” kata I Madé lagi.


Semua anggota kelompok sekehe tuaknya tertawa terpingkal-pingkal. Made ini memang orangnya konyol, sampai-sampai urusan jajan dibawa ke masalah porno.


“Jajan Bali mamang ada kaitannya dengan masalah porno. Siapa sih yang tidak pernah mendengar lagu jaja uli, jaja gina, satuh-satuh,” I Made semakin semangat.


Diskusi semakin ngawur saja. Ini mirip dengan debat calon presiden, namanya saja debat tapi tidak ada yang berani bertentangan pendapat. Semuanya pada sibuk saling setuju. Memang kurang seru.


“Sebenarnya jajan Bali kalah variasi,” tambah I Made lagi.


Jajan Bali rasanya terbatas: karena bahannya berkisar antara ketan, beras, gula Bali, kelapa, pisang, nangka, dan pewarna, kalau mau sedikit kreatif, kadang-kadang diisi racun sedikit.


“Kalau jajanan asing, seperti donut (donat) misalnya, jenis rasanya bisa sampai lima puluhan, mulai dari rasa coklat, keju, green tea, strawberry, blueberry dan sebagainya. Tidak kuat aku sebutkan semuanya, bisa terkilir lidahku kalau terus bahasa Inggris.


Itu baru masalah rasa, belum lagi masalah warnanya yang juga banyak macamnya. Apalagi kemasannya.


“Kalau klepon, satu hari tidak dimakan, sudah langsung basi, tapi kalau donat disimpan dua minggu di kulkas masih terasa enak. Oleh karena itu kalau saudara-saudara kita beli jajanan untuk oleh-oleh maka mereka akan beli Roty (Roti) Boy, Dunkin Donut dan J.Co,” tambah I Made.


Jajanan Bali tempatnya di sudut, dipakai sesajen, dan juga untuk ngopi di rumah. Tapi kalau ngopi di mal, restoran dan café, pasti tidak ada yang menyediakan klepon.


“Jajanan Bali itu mirip istri di rumah, tidak suka berhias, jarang mandi, tidak gaul, jadi biar dipakai di rumah saja.”


Kalau di luar, jelas perlu yang gaul, penuh warna, bersih, dan kemasan yang menggoda.


“Artinya, jajanan asing itu mirip CO kafe, sangat gaul, modern dan mengikuti perkembangan zaman.”


Akibatnya, kalau sudah bosan dengan segala sesuatu yang tampak modern, dan mengikuti perkembangan zaman, pada akhirnya juga akan pulang ke rumah mencari istri, mencari klepon, laklak, iwel dan satuh.


Glosari:

- jaja uli, jaja gina, satuh-satuh: lagu di Bali yang berkonotasi porno

- klepon, laklak, iwel dan satuh: beberapa nama jajanan Bali