Jumat, 24 Juli 2009

Bungklang Bungkling: B O M

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Bom’, di harian Bali Post, Minggu, 17 Juli 2009, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada



B O M
Semuanya pada bengong menoton televisi. Tetapi mereka bukan menonton sinetron yang isinya cuma mimpi, dan juga bukan talkshow yang isinya para pengamat yang ngomongnya sampai berbusa-busa.
Yang muncul di televisi adalah tentang bom yang meledak di Jakarta. Gambar orang-orang berlarian, ambulan meraung-raung, korbannya berlumuran darah, adegan ini terus diulang-ulang sampai-sampai mereka muak menontonnya.
“Sungguh kasihan, seorang turis yang sudah kakek-kakek, dengan tubuhnya yang berlumuran darah, duduk tak berdaya di tepi jalan. Tidak ada yang menolong. Yang lewat malah sibuk menonton dan memotret. Ini artinya Pancasila dan agama baru sampai dibibir saja,” kata I Made Alim Jaim.
I Made ini memang orang yang baik sekali. Ia adalah seorang guru agama dan juga juag sibuk di Pura Dalem. Cocok kalau dia diangkat menjadi seorang pemimpin. Namun dia tidak pernah terpilih. Jangankan terpilih menjadi kepala desa, menjadi kepala dusun saja dia sudah kalah suara. Maklumlah para pemilih sekarang lebih suka dengan uang. Tidak apa-apa punya pemimpin yang korup, yang penting bisa bagi-bagi.
“Lagi-lagi hancur pariwisatanya. Baru tenang sebentar, sekarang sudah muncul bencana lagi. Bisa-bisa kita miskin lagi,” kata I Wayan One Dollar Two Rangda.
I Wayan bukanlah seorang pelaku pariwisata. Dia bukan karyawan hotel, pemandu wisata juga bukan, apalgi pemilik artshop. I Wayan hanyalah seorang Anggota Permata Bunda (Persatuan Makelar Tanah Bungut Dogen (Modal Mulut Saja)), yang khusus mencari tanah sawah untuk dijual kepada tamu/turis yang mau membuat villa atau rumah di sini.
“Wah, batal jadinya menonton Manchester United. Kalau tidak ada bom sudah pasti kita jadi dapat menonton MU, yang pasti dihabisi oleh kesebelasan Indonesia,” I Ketut Bonek Leklek menjawab.
I Ketut adalah penggemar fanatik kesebelasan Indonesia yang memiliki ilmu yang lengkap: bisa nendang bola, dan juga menendang kepala lawan.
“Sekalipun kalah main bola, pasti kesebelasan Indonesia menang kalau berkelahi,” lanjutnya sambil terkekeh-kekeh.
“Inilah bukti bahwa bangsa kita perlu seorang pemimpin yang berani dan tegas, bukannya seorang presiden yang lembut, gemar tersenyum, yang kalau bicara tangannya kemana-mana seperti konduktor,” I Kadek Poli-Tikus menyela.
Maklum, calonnya Kadek sudah kalah dalam pemilihan presiden. Jadinya kemana-mana dia bawaannya marah-marah saja. Semua dituduhnya curang, mulai dari KPU hingga para dewa. Maklum dia sudah banyak sekali keluar uang, tidak terhitung dia memborong kupon basar dan dia juga rajin menyumbang. Setiap dia bertemu dengan teman-temannya, pasti dia menceritakan kejelekan SBY. Dikiranya kalau Mega atau JK jadi presiden, bom tidak akan meledak.
Hanya satu orang yang tidak memberi komentar, yaitu I Nyoman Belog Polos. Dia sibuk sendiri dengan pikirannya tentang padinya yang dimakan hama tikus, sawahnya yang dikurung villa, pupuk yang kadang-kadang ada, kadang-kadang tidak, hujan yang tidak kunjung datang, iuran yang semakin banyak saja.
“Kalau terus begini, sudah pasti kita tidak bisa hidup sebagai petani,” katanya lagi.
Tapi pekerjaan apa nantinya yang akan ditekuni oleh Made. Dia tidak pintar bicara, nafasnya tidak harum, jelas tidak bisa menjadi politikus. Orangnya tidak pongah, perilakunya tidak rakus, jadi tidak bisa menjadi anggota Permata Bunda. Orangnya tidak tebal muka, forum mukanya tidak meyakinkan, jadi tidak cocok menjadi pengemis.
“Kalau terus seperti ini jelas aku akan cepat mati,” lanjutnya lagi.
Yang lain pada sibuk bicara masalah Pancasila, MU, industri pariwisata, pemilihan presiden, jadi tidak sempat membicarakan masalahnya Nyoman. Semuanya pada sibuk memikirkan hal-hal yang tinggi, sehingga lupa urusan yang dibawah. Bom meledak di Jakarta, semuanya pada ribut, tapi jutaan petani hidupnya amat susah di republik ini, tapi tidak ada yang bicara.

=======================


B O M B
All members of the local drinking club are staring at the television. They are not watching a cinetron, nor talkshow with a lot of bullshit.
The presenter is describing about the Jakarta bomb. The pictures shows people running, ambulance come and go, and injured victims. They are featuring the tragedy over and over and it make the members get sick of it.
“I am sorry to see an old man, powerless, with blood all over his body by the roadside. Nobody helps him. The passers by just look at him and some busy take pictures of him. It seems that we the Indonesians do not really practice our Five Principles (Pancasila),” says I Made Alim Jaim (I Made Nice and Atractive).
I Made is really a nice person. He is a religion teacher and also a custodian at Dalem Temple. He is supposed to be a leader. But nobody ever chooses him as head of banjar (traditional community leader) or village head. The voters now prefer to choose one who give them more money. They don’t really mind having a corrupt leader, as long as he is generous.
“Oh My God, the tourism sector will suffer again, just at the time when it recovers. So we have to be ready to suffer again,” says I Wayan One Dollar Two Rangda.
I Wayan does not work at tourism sector. He is not a hotel employee, nor a guide, nor have an artshop. I Wayan is only a member of ‘Permata Bunda’ (Persatuan Makelar Tanah Bungut Daki)―an ‘Association of Dirty Mouth Realtors’ who specialising at looking for rice field areas to sell to tourists who want to have a villa or a house in Bali.
“Well, my dream to watch Manchester United has gone. If there had been no bomb, I would have been able to see Indonesian team ‘kick’ them, I Ketut Bonek Leklek (I Ketut Crazy Hooligan) interrupts.
I Ketut is a fanatic fan of Indonesian football team. According to I Ketut, only Indonesia football players have ‘complete ability’. They can kick ball and they dare to ‘kick’ opponent’s heads too.
“When they loose the game, they will get angry and ‘fight’ the opponent,” he further says.
“That’s why we need a strong and brave leader, instead of a smiling, soft one who always move his hands when talking like a conductor,” says I Kadek Poli-Tikus (I Kadek Dirty Politician).
He might say that as his favourite lost during the presidential election. That’s why he always says like that which refer to the current president, wherever he is. He thinks that everybody is cheating, especially the Election Commission. I Kadek has used a lot of his money; he bought a lot of fund-raising vouchers and gave donation. Everytime he meets his friend, he always talk something bad about SBY (the current president). He might think that if the president were Mega or JK, there wouldn’t any bomb explode.
The only person who doesn’t give any comment is I Nyoman Belog Polos (I Nyoman Honest and Humble). He keeps thinking about his rice planting that spoiled by rats, and his rice field that ‘surrounded’ by villas, about scarcity of fertilizers, rain that hasn’t come yet, and the more and more levies.
“If the situation is keeping like this, I will never be able to be a farmer anymore,” he says to himself.
But what kind of job he is going to do then. That’s another problem. He is not so good at speaking, so he will not be able to be a politician, he is a very honest person, so he doesn’t fit to be a realtor.
“If the situation is keeping like this, I might die soon,” he then says.
The others are busy talking about the bomb, Pancasila (the Five Principles, MU, tourism industry, presidential election and they don’t really have time to discuss Nyoman’s problem. Everybody is talking big, and forget about ‘small’ things. Everybody talk loud when bomb explodes in Jakarta but nobody say something when million of farmers are suffering.