Selasa, 14 Juli 2009

Bungklang Bungkling: A R J A

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘’Arja’, di harian Bali Post, Minggu, 12July, 2009, oleh I Wayan Juniartha
Diterjemahkan oleh Putu Semiada





A R J A
Hanya orang-orang tua saja yang masih senang menonton arja. Mereka yang muda-muda sudah tidak hirau lagi. Jangankan untuk melestarikan, untuk nonton (menonton) saja mereka sudah ogah.

“Jika aku nonton juga tidak bakalan mengerti apa yang dibicarakan, bahasanya tidak pernah aku dengar, jalan cerita (ceritanya) lamban sekali, ceritanya juga tentang cerita zaman dahulu saja, kalau tidak Kediri, ya Daha,” kata I Made Kliud Hollywood.

Maklum, I Made adalah anak muda Bali masa kini, tidak tahu tentang Jenggala dan Singasari. Kalau tentang New York dan Las Vegas tentu dia bisa cerita banyak. Otaknya otak global, matang karena pendidikan Balimodern yang kagum dengan pariwisata dan dunia luar. Semua warisan leluhur dianggap kuno, tidak perlu dilirik.

“Manusia seperti kamu adalah seperti anak haram, tidak taat sama leluhur. Kalau leluhur tidak ada, maka kamu tidak akan lahir. Kalau tidak ada warisan leluhur, apa yang akan kamu jual biar bisa menjalani kehidupan modern,” Pekak Dangap-Dangap menyampaikan pendapatnya.

I Pekak asli orangnya jadul sekali, produk orde lama, yang merasa zaman dahulu  paling baik, pemikiran zaman dahulu paling benar. Kalau dia disuruh nonton arja, wayang kulit, gambuh, maka hatinya akan sangat senang. Tapi kalau diajak nonton tivi (televisi), maka dia tidak akan mau. Semua hasil karya orang zaman sekarang, pasti dianggap sepélé oleh I Pekak.

 “Anak-anak muda zaman sekarang tidak ada yang mengerti hidup, tidak tahu tentang Ramayana, tidak tahu tentang Mahabrata, tidak tahu tentang Panji, pantas saja hidupnya ‘kebarat-kebirit’ (tidak karuan), tidak punya jati diri,” katanya lagi.

Para krama peminum tuaknya tidak ada yang berani memberi komentar. Maklum keduanya sudah tidak bisa dipertemukan. Mungkin sudah seperti Mega dan SBY, tidak mungkin ada dialog.

Jika dipikir-pikir, dua-duanya ada benarnya. Jika arja hanya menceritakan tentang raja-raja zaman dahulu, tetap urusan perang memperebutkan perempuan sampai-sampai menghancurkan kerajaan, dan tidak peduli dengan urusan masalah-masalah yang menyakiti warga zaman sekarang, jelas makin sedikit yang akan peduli dengan arja.

“Kalau tetap seperti itu saja arja tidak akan ada bedanya dengan sinetron di tivi (televisi). Yang satunya menceritakan tentang raja, satunya lagi sibuk menceritakan tentang orang kaya saja.  Satunya menceritakan tentang merebut perempuan dan warisan, satunya lagi tentang merebut perempuan dan warisan juga. Bedanya, pemain sinetronya cantik-cantik,” sahut I Madé.

Namun kalau arja sampai punah, berarti hilang warisan kesenian Bali lagi satu (atau hilang satu lagi warisan kesenian Bali). Hilang lagi satu sarana untuk memberi petuah sama orang Bali, hilang lagi satu sarana untuk menceritakan keunikan masa lalu.

“Bikin (buat)saja arja seperti yang diinginkan I Madéarja yang menceritakan tentang kisruh DPT, tentang Prabowo bertentangan dengan SBY, tentang KPU yang buta, tuli dan pura-pura bodoh, dijamin I Madé akan melestarikanarja nya,” kata I Wayan Golput (Golongan ‘Patut’ (benar) menjadi penengah.

Semuanya tepuk tangan. Maklum kalau tidak ada yang menjadi penengah bisa-bisa mereka tidak bisa minum karena yang biasa tugas meracik tuak adalah I Pekak, dan yang menjadi juru bayar adalah I Madé.

“Bangsa kita memang senang dan pintar ngomong, namun tidak ada yang menyelesaikan pekerjaan. Sampai-sampai hampir pingsan krama nya menahan haus,” kata I Wayan.

Catatan:
Arja adalah sejenis kesenian mirip opera di Bali.
Krama: warga, anggota

=========================

A R J A
The old Balinese people would like to preserve arja, but the young don’t. They don’t really care. They don’t even want to watch.
“I don’t really understand when I watch it, the language is not familiar with me, the story is very slow, and also it is all about old times, only about Kediri and Daha,” says I Madé Kiud Holywood (I Made Loves Holywood).
I Made is a modern young Balinese. He doesn’t understand about Jenggala and Singasari. But he does know about New York and Las Vegas. He thinks global. He has ‘Bali modern education’ who admires tourism and overseas. Everything traditional is out of date for him.
“You are really a bastard, you don’t respect our ancestors. If is not because of your ancestor, you would not exist in this world. If our ancestors didn’t inherit you what we have know, what would you sell to be able to look modern?” I Pekak Dangap-Dangap (I Pekak Slow Walk).
I Pekak is an old fashioned person, who thinks that old time is much better, and old thinking is the best. If you ask him to watch arja, shadow puppets, gambuh, he will be very happy. But if you ask him to watch television, he will be upset. He considers everything modern is not good.
“The young now don’t understand about life, do not know about Ramayana, Mahaberata and Panji, and the don’t have self-identity either,” he says.
Nobody wants to interfere between I Pekak and I Madé’s business. They both like Méga and SBY, no possible for dialog.
Both of them are right. If arja only talks about kings in the past, about power struggle and war for woman, and do not refer to situation that the Balinese are facing today, nobody will really care about the arja.
“If the arja remains like this, it will have no different with cinetron on TV. The earlier talks about kings, the later about rich people. They both talk about woman and inheritance. The difference is that the cinetron artists are very beautiful,” I Made says.
If the arja is extinct, then Balinese will loose another inheritance; something that can be used to remind the Balinese about old times.
“Why don’t we just create arja like I Madé wants which talk about DPT (Fixed Voter’s List), the hostility between Prabowo and SB, about problems in KPU (Indonesian Election Commission), I am sure that I Madé will love to preserve the arja,” says I Wayan Golput (I Wayan Abstain) who tries to be mediator.
Everybody claps their hands. They really expect somebody as mediator. Because it is only I Pekak who is good at making good tuak and it is I Made who often ‘treat’ them.
“Our people are very fond of and smart in talking but lazy in action. It has made everybody has been thirsty waiting for palm toddy,” says I Wayan.