Rabu, 01 Juli 2009

Bungklang Bungkling: SENIMAN

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Seniman’, di harian Bali Post, Minggu, 28 Juni, 2009, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada




Seniman


Apa perbedaan antara seniman dan pengrajin?

Zaman dahulu tidak ada yang begitu peduli perbedaan antara ‘dadag’ (Kol Banda) dan ‘kelor’. Maklumlah dahulu banyak sekali urusan yang jauh lebih penting, sehingga orang Bali tidak sempat memikirkan hal-hal yang réméh téméh.

Apalagi zaman dahulu tidak ada kata ‘seniman’ dan ‘pegrajin’, yang ada hanya kata ‘tukang’. Mulai pekerjaan yang paling baik hingga yang paling jelek bisa dipakai kata ‘tukang’ di depannya, mulai dari tukang banten (sesaji) hingga tukang amah (tukang makan). Mulai dari pekerjaan halus hingga pekerjaan kasar tetap dikatakan ‘tukang’, mulai dari tukang sulam hingga tukang batu dan tukang kayu bakar.

Dahulu, yang disebut seniman hanya tukang gambel (penabuh), tukang kendang, tukang gambar dan tukang ukir. Pengrajin juga disebut tukang. Sehingga tidak ada bedanya.

Jaman (Zaman) sekarang, meskipun kawitan (leluhur) nya sama (sama-sama dari trah tukang), tapi antara seniman dan pengrajin masing-masing sudah menjaga jarak.

Jelas sekali, mereka yang merasa dirinya seniman, merasa seolah-olah lebih tinggi dibandingkan pengrajin. Lebih tinggi karena merasa karya-karya mereka lebih bermutu, lebih sulit, lebih berbobot dari karya-karya pengrajin.

“Itulah sebabnya, kalau aku menyelesaikan satu karya lukisan bisa sampai tiga bulan, makanya lukisanku dipasang di galeri. Kalau pengrajin, bisa menyelesaikan lukisan sampai empat buah dalam satu minggu, makanya lukisannya sampai berserakan di pasar seni,” kata I Made Pablo Akroso.

Semua anggota sekehe tuak mangut-manggut. Hanya I Nyoman Kuah Pindang yang tidak setuju.

“Tapi kalau lukisan yang diselesaikan dalam waktu tiga bulan itu jelek sekali, apakah yang melukis masih layak disebut sebagai seniman? Sebaliknya kalau lukisan yang di pasar seni itu dipajang di galeri, apakah si pengrajin itu bisa disebut sebagai seniman,” tanya I Nyoman.

Mendadak I Made pura-pura tidak mendengar. Agar tidak kalah hawa, dia mengeluarkan jurus baru lagi.

“Seniman berkarya untuk kedamaian dunia. Seniman membuat karya seni untuk memuja Ida Sang Hyang Mbang (Tuhan) agar dunia tenteram. Kalau pengrajin tujuannya hanya untuk mencari penghasilan, suapaya (supaya) dapur tetap bisa ngebul (mengepul),” katanya lagi.

I Nyoman langsung menjawab lagi dengan secepat kilat.

“Baik, kalau misalnya kita mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan anak istri, bukankah itu untu (untuk) kedamaian dunia juga? Sebab kalau anak istri sampai menderita kelaparan dan kurang gizi, bagaimana mengharapkan dunia ini damai?

Wajah I Made menjadi merah. Tapi dia tidak bisa membalas. Lalu keluarlah argumennya yang lebih ilmiah.

“Seniman berkarya bukan karena uang, tapi karena hendak ‘melayani’ dunia, juga untuk melestarikan segala hal yang berbau seni yang baik dan menghibur.”

Belum selesai I Made bicara, I Nyoman sudah ngomong lagi.

“Apa benar ada seniman yang mau tidak dibayar? Sumpah? Coba kalau tidak diberikan pejati (semacam sesaji), kopi, dan tidak dikasi amplop, apakah mereka akan dengan sukarela ngayah, tidak dibayar sampai kelaparan?”

“Kalau memang benar-benar mau ngayah, kenapa harga lukisan bisa sampai laku dua ratus juta Rupiah? Paling juga tujuannya agar bisa beli Toyota, Nokia, dan kepentingan pariwisata.

Sekarang I Made sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Akhirnya keluarlah senjata rahasianya.

“Seniman menghasilkan karya yang orisinil, dari hasil kreasi sendiri, kalau pengrajin hanya meniru hasil karya orang lain,” I Made berkata dengan berapi-api.

I Nyoman tertawa terpingkal-pingkal.

Sejak kapan manusia bisa menciptakan sesuatu dari yang tidak ada? Jika pengrajin meniru karya orang lain, lalu bukankah seniman juga hanya meniru karya dari Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan), mulai dari alam hingga binatang,” sahut I Nyoman.

Lalu apa bedanya antara seniman dan pengrajin?
Apa bedanya kodok dengan katak?
Bedanya hanya yang satunya cuma lebih pintar ngomongnya.


Glossary:
Ngayah : melakukan sesuatu secara sukarela untuk tujuan keagamaan

=====================================


A R T I S T

What is the different between artist (seniman) and craftsman (pengrajin)?
Formerly, nobody really cared about what the different between ‘dadag’ (moonlight tree) and ‘kelor’ (Horseradish Tree).because there were so many more important issues that the Balinese didn’t really have much time to think about that.
In addition, the word ‘seniman’ and ‘pengrajin’ did not really exist in the past. What they had was the word ‘tukang’ (worker). No matter what kind of job people do, there was always the word ‘tukang’ in front of one’s profession, from ‘tukang banten’ (people making and selling offerings) to ‘tukang umah’ (building worker). From ‘tukang sulam’ (knitter) to ‘tukang batu’ (mason) and ‘tukang kandik saang’ (fire wood man).
Formerly what we called ‘seniman’ were supposed to be people like ‘tukang gambel’ (musician), ‘tukang kendang’ (drummer), tukang gambar (painter) and ‘tukang ukir’ (carver). Craftsmen were also called ‘tukang’. There were no differences.
Today, even though you are from the same ‘kawitan’ (ancestors), but when you are an artist and the other is a craftsman, you are not really close to each other.
Artists think that their status is higher than craftsmen. They think that their work is more valuable, better in quality, and more elaborate than the craftsmen’ ones.
“That’s why I usually finish one painting in 3 months, and that’s why they display my paintings in galleries. On the other hand, ‘pengrajin’ can finish 4 paintings in one week. So art market is the right place for their work,” I Made Pablo Akroso says.
The members of drinking club are nodding, except I Nyoman Kuang Pindang.
“What if the quality of your painting that you completed in 3 months is very bad, do you still expect people call you an artist? On the other hand, if a painting made by a ‘pengrajin’ and displayed in a gallery, do you think we can call him an artist?” I Nyoman asks.
I Made is pretending not to listen to I Nyoman’s question. As he feels ashamed, he is trying to give a new argument.
‘Seniman’ dedicates himself for world peace. He makes paintings to show his devotion to the God, while ‘pengrajin’ makes painting just because of economic reason, just to be able to survive,” I Made continues.
I Nyoman doesn’t really agree to I Made’s opinion.
“If you work to feed your own family, isn’t that supposed to make the ‘world peace’ as well. Because if they suffer malnutrition, how do you expect ‘peace’ in your life?
I Made’s face is getting red of embarrassment. But he doesn’t’ know how to reply I Nyoman’s comment. So he gives another opinion.
‘Seniman’ does not work for money, but they work to serve the world, they want to preserve the world’s art.
Just as I Made finishes his opinion, I Nyoman gives his further opinion
Are you really sure that ‘seniman’ doesn’t get paid? If no ‘pejati’ (kind of offering), no coffee served, no money is given, I am sure that they will not do the ‘ngayah’ on free will.
“If they don’t work for money, why do their paintings cost up to two hundred millions Rupiahs each. Aren’t they doing that to afford ‘Nokia’, ‘Toyota’, and for tourism?
I Made thinks for a while how to reply I Nyoman’s comment. He continues:
‘Seniman’ makes original work, as inspiration comes from an original idea while ‘pengrajin’ just copy other’s work, I Made says proudly.
I Nyoman laughs very loud having heard I Made’s comment.
“Since when do you think a man can create something from nothing? If you do think ‘pengrajin’ copy one’s work, and don’t you think that ‘seniman’ copy things created by the God, like nature, animals.
What is the difference between ‘seniman’ and ‘pengrajin’?
And what is the different between ‘frog and toad?’
The only difference is: one is better than the other at bullshit.

Glossary:
I Made Pablo Akroso: I Made A Lot of Things.
I
Nyoman Kuang Pindang: I Nyoman Fish Gravy.
Ngayah
: Doing something voluntarily without expecting the rewards.