Kamis, 13 Agustus 2009

Bungklang Bungkling: PENGECUT

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, 'PENGECUT’, di harian Bali Post, Minggu, 9 Agustus 2009, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada


Pengecut
Ada pertanyaan mengapa orang Bali senang bertengkar dengan saudaranya sendiri?
Tentu saja karena bertengkar dengan saudara sendiri lebih gampang dibandingkan bertengkar dengan orang lain.
“Jika bertengkar dengan orang Jawa, tentu saja orang Bali tidak bisa mengeluarkan amarahnya dengan bahasa Bali. Apapun yang dipakai untuk mengumpat, ‘cicing’ (anjing), ‘bojog poleng’ (monyet), bangké maong’ (mayat), orang Jawa tidak akan peduli karena dia tidak mengerti bahasa Bali,” kata I Pekak Gunung Dusun.
I Pekak adalah generasi terakhir pejuang 45 yang belum dipanggil oleh Sang Hyang Widi. Dia bisa berbahasa Belanda dan bahasa Bali semua tingkatan (kasar, menengah, halus) dan juga bahasa isyarat (seperti yang dia gunakan di tempat sabungan ayam). Tetapi dia tidak bisa berbahasa Indonesia, bahasa Inggris, apalagi bahasa Jawa.
“Apalagi yang harus dia hadapi seorang turis, jangankan mau bertengkar, baru melihat turis saja dia sudah gugup, dan tidak bisa mengeluarkan kata-kata, lututnya gemetar, karena semua itu mengingatkannya sewaktu jaman penjajahan Belanda dahulu.
Sehingga kalau ada orang Jawa yang menjemur pakaian tinggi-tinggi, bikin warung sampai melewati patok tanah, membikin keributan pada saat Nyepi, maka orang Bali pura-pura tidak tahu masalah. Makanya kalau ada orang bulé yang membuat vila di muara sungai, membangun hotel di dekat pura, pura-pura menjadi turis di sini padahal sambil bekerja, orang Bali bisanya cuma diam saja. Meskipun dalam hatinya marah, tapi dipendam saja.
Tapi kalau yang menjemur pakain tinggi-tinggi orang Bali sendiri, atau membuat warung yang melewati patok tanah, memelihara babi yang kotorannya sangat menyengat hidung, maka semuanya akan buka suara. Ada yang mengomel sendiri, ada yang datang menyampaikan keberatan, ada juga yang dengan diam-diam melempari rumah orang yang bersangkutan dengan batu. Jangankan mau membuat vila dekat pura, baru merencanakan membuat desa ‘pekraman’ (adat), maka akan langsung mendapat reaksi keras. Begitu pula halnya, jika mau membuat vila dekat muara sungai, ataupun seperti kemarin, membuat krematorium yang bertujuan agar orang-orang miskin di Bali bisa juga melakukan pengabenan, maka reaksi yang amat keras bermunculan.
Oleh sebab itulah meskipun orang Jawa dan bulé tidak terdaftar di desa adat, tidak ikut organisasi banjar, lupa membayar iuran, orang Bali pura-pura tidak tahu.
Tapi jika yang tidak terdaftar di desa adat, tidak ikut organisasi banjar, atau tidak membayar iuran (karena memang saking miskinnya) adalah orang Bali, maka saudara-saudara Bali mereka akan mengamuk. Yang bersangkutan akan dikenakan denda yang sangat besar sekali, dan bisa juga dikucilkan.
“Jika bosnya orang bulé atau orang Jawa, maka orang Balinya akan tunduk luar biasa. Mereka bisanya cuma manggut-manggut saja. Jika disuruh ke timur, maka mereka akan ke timur. Jika mereka disuruh ke barat, maka mereka akan ke barat. Dijamin mereka tidak bakalan berani bertanya kenapa mereka di suruh seperti itu. Mereka tidak punya nyali.” Kata I Made Kuli di Daerah Sendiri.

Akan tetapi kalau bosnya orang Bali sendiri, maka semuanya akan bicara, seolah-olah mereka lebih pintar dari bosnya sendiri. Apalagi kalau bosnya saudara sendiri, maka bosnya tidak akan pernah dianggap benar.
Kalau tidak percaya, kita lihat saja apa yang terjadi dengan gubernur Bali misalnya. Jika yang menjadi gubernur orang Bali, maka suasana tidak akan pernah benar. Apapun yang dikerjakan oleh gubernurnya tidak akan pernah dianggap benar. Semuanya merasa seolah-olah lebih pintar dari gubernur. Ada juga yang merasa dirinya lebih pantas menjadi gubernur. Akibatnya, habis waktu sang gubernur untuk menangani orang-orang seperti ini.
Jadi mengapa orang-orang Bali senang sekali ribut dengan saudara sendiri?
Hal ini karena orang Bali tidak berani ribut dengan orang lain. Kebanyakan dari mereka adalah penakut. 

------------------------------------------


C O W A R D

There has been a question why Balinese like having quarrel among them?
It might be because of having quarrel with your own brothers or relatives is much easier than with other people.
“For instance, if you are having quarrel with a Javanese, it’s useless if you curse him as he might not understand Balinese language. Whatever you call him, cicing (dog), bojog pelung (‘blue’ monkey), bangké maong (dead body), he will not care” says I Pekak Gunung Dusun (Uneducated Granpa).
I Pekak is the last person from 45 generation who still alive. He can speak Dutch and Balinese (of any level: high, middle, and low). But he can not speak Indonesian or English, let alone Javanese.
“I always get nervous when I have to speak to a tourist. I can’t even say a word…..as they remind me what I went through during the Dutch era.”
Most Balinese are like I Pekak at the moment. They get nervous when they have to face
outsiders (westerners and Javanese). For instance, when they see Javanese dry his clothes in high place (which is forbidden in Balinese culture), or has food stall which break the street setback line, or makes noise during the Day of Silence (Nyepi), the Balinese will pretend as if they didn’t see. Also, when a westerner builds a villa by river delta, or builds a hotel very close to a temple, the Balinese don’t dare to protest. They might be upset but they will prefer to be silence.
It will be different when a Balinese found drying his or her clothes in high place, builds food stall which breaks the street setback line, or has pig breeding which smell very bad, their Balinese fellows will immediately protest. Some even will do vandalism. Being a Balinese, you should never even think of building a villa by a temple, nor establish your own new traditional village (desa pekraman), or make your own villa by a river delta, otherwise you will socially be punished. You know, when a crematorium was built some months ago which was aimed at helping the poor Balinese to be able to hold cremation ceremony for their late family member, a big protest came from their own Balinese fellows.
Now we can see, that’s why Balinese never protest against Javanese or westerners when they don’t participate in traditional activities with the Balinese, or when they are not registered at banjar (local village council), or when they do not pay any donation.
It will be different when a Balinese does not join the local village organisation (banjar), or forget to pay monthly contribution to the banjar, (or can not afford as he is too poor), strong reaction will come from their Balinese fellows. The person will be fined with big money or even worse…isolated form social life (kasepekang).
“When his boss is a westerner or Javanese, a Balinese will do whatever he is told to do. He will say yes to every order given. He will never argue with his boss, not even ask why he should do it. He will be a coward,” says I Made Kuli di Gumi Pedidi (I Madé-Servant-in-Your-Own-House).
The thing is when his boss a Balinese. Everything his boss does will never considered right. He will criticize him all the time. He thinks that he can do better than his boss does. Worse, if the boss is his own relative, he will always blame him.
Look at what happen to the governor of Bali. When the governor is Balinese, the situation never seems right. Whatever policy he makes, protests will come from every different party. These kinds of people might think that they deserve the position. Therefore this kind of situation has made the governor does not have time to do more important things because he has to deal with these kind of people.
So the question is why the Balinese prefer having dispute with their own Balinese fellows?
It is because the Balinese are ‘afraid’ of people from other island or overseas. Most of them are now coward.