Jumat, 04 September 2009

Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta berbicara tentang kehidupan setelah usaha percobaan pembunuhan,.....Huffington Post, 3 September 2009

President Timor Leste Jose Ramos-Horta berbicara tentang kehidupan setelah usaha pembunuhan, hipokrasi, dan apa artinya memaafkan atas nama pembunuhan massal yang didukung Amerika yang telah merenggut secara membabi buta nyawa empat saudara kandungnya dan sepertiga rakyat negerinya.


Photo: Richard Kern


Sabine Heller: Anda sudah menghabiskan hidup anda berkampanye bagi kemerdekaan Timor Timur.

President Horta: Ya, saya pertama kali mendarat di New York tahun 75, di tengah-tengah musim dingin yang paling buruk, untuk memulai advokasi saya untuk Timor-Timur di PBB

Sabine Heller: Kenapa sebagian besar kekuatan besar mendukung Indonesia dan memalingkan muka mereka terhadap horror yang berlangsung setiap hari di Timor Timur?

President Horta: Timor Timur adalah rentan karena Indonesia bisa bermain dengan siapa saja. Kekuatan-kekuatan Barat bersekutu dengan Indonesia karena perang dingin dan arena banyak alasan lainnya, termasuk diantaranya karena posisi Indonesia yang strategis dan mengendalikan Selat Malaka dimana 70% minyak dari Timur Tengah menuju Jepang melewati selat ini. Juga, sebagai Negara Islam terbesar di dunia, Indonesia mempunyai solidaritas dengan Negara-negara. Bahkan Cina and Rusia tidak mau melukai perasaan Indonesia. Jadi siapa saja yang masih memiliki simpati terhadap Timor Timur. Hanya Negara-negara Africa, karena mereka peka terhadap penjajahan dan perubahan batas-batas colonial. Mereka tahu faktanya bahwa jika itu bisa terjadi terhadap Timor Timur, maka hal itupun bisa terjadi terhadap mereka. Dan juga Brazil, karena warisan Portugis mereka.


Sabine Heller: Apa yang paling membuat anda frustasi dalam kampanye anda?

President Horta: Ya, yang paling membuat saya frustasi, dan paling tidak menyenangkan adalah kemunafikan dan sikap mendua Negara-negara seperti Amerika yang mengumandangkan hak-hak asasi manusia dan demokrasi dimanapun, mereka tidak tertarik. Mereka bahkan pergi berperang ke Angola untuk menghentikan penyebaran komunisme di sana dan memborbardir Nikaragua, El Salvador... dan mereka juga mensuplai senjata, pesawat terbang, untuk Indonesia, yang membom Timor Timur. Salah seorang saudara perempuan saya tewas oleh salah satu pesawat buatan Amerika.


Sabine Heller: Dan peran Inggris?

President Horta: Inggris dan Amerika adalah pemasok semua senjata terbesar.

Sabine Heller: Bukankah pemboman terhadap Timor Timur mulai segera setelah Kissinger meninggalkan Indonesia saat lawatannya ke negeri itu?


President Horta: Ya, invasi tersebut terjadi 12 jam setelah Gerald Ford dan Kissinger meninggalkan Indonesia, tanggal 6 December.


Sabine Heller: Bagaimana anda menemukan jalan untuk bekerja dalam sebuah sistem yang secara moral sudah bobrok?


President Horta: Ada orang-orang yang percaya dengan saya. Saya diberi tugas, mandat, saat saya meninggalkan negara saya untuk menjadi advokat. Selalu ada suara, suara dari dalam, agar saya tidak menyerah. Saya selalu ingat darah saya sendiri, saudara laki-laki dan saudara peremuan saya, yang kemudian akhirnya terbunuh.


Sabine Heller: -Benarkah tiga saudara laki-laki dan satu saudara perempuan yang terbunuh?

President Horta:
Ya, saya tidak bisa mengkhianati mereka. Dan saya terus berjalan dan berjalan sepanjang koridor gedung PBB dan berbicara sama orang-orang. Ada orang yang tidak mau berbicara dengan saya dan berusaha pura-pura sibuk. Saya akan bepergian dengan bis dan kereta ke Washington guna melobi para anggota kongres. Sebagian menjadi teman-teman baik saya, misalnya almarhum Senator Ted Kennedy atau Senator Tom Harkin dari Iowa dan anggota kongres wanita, sekaligus juru bicara gedung Nancy Pelosi.


Sabine Heller: Bagiamana anda bisa tahu siapa yang mesti dipercaya? Misalnya Kissinger, yang dikenal sebagai seorang negarawan hebat, namun membantu salah satu Negara yang melakukan kejahatan yang paling kejam terhadap kemanusian.


President Horta: Saat kita menemui orang-orang yang mempunyai kekuasaan, apakah yang berada pada posisi yang memiliki hak-hak istimewa seperti anggota Kongres atau Pemerintahan, bukan hak saya untuk menilai apakah mereka bisa dipercaya atau tidak. Saya mesti berbicara dengan mereka, mencoba mengetuk hati mereka, dan jika gagal, harus dilihat, apakah itu sejalan dengan kepentingan mereka, atau kepentingan Amerika, misalnya, dan tidak sepenuhnya berpihak pada rezim seperti yang di Indonesia itu.

Sabine Heller: Benarkah ada sekitar 200,000 orang yang menjadi korban pembunuhan missal di Timor Timur, tapi melihat dari segi jumlahnya per kapita itu lebih sebagai Holokus.


President Horta: Ya, di tahun 1975 penduduk Timor tidak lebih dari 700,000. Sekitar tahun 1981, 6 tahun setelah pendudukan Indonesia, ada 200,000 yang meninggal, akibat pembunuhan missal, penembakan, pembunuhan besar-besaran, dan juga karena kelaparan missal akibat perang. Jadi secara per kapita, 1/3 penduduk meninggal dalam beberapa tahun.


Sabine Heller: Dan mereka meninggal secara membabi buta.

President Horta: Ya, hal itu sulit dibayangkan dan tidak mungkin sama sekali akan apa yang dilakukan terhadap rakyat Timor Timur. Namun hal itu tidaklah berbeda jauh dengan apa yang dilakukan oleh militer Indonesia terhadap rakyat mereka sendiri saat regim Soeharto mengambil alih di tahun 65 dan setengah juta orang terbunuh dalam tempo enam bulan. Jadi, sebuah lembaga militer yang dapat membunuh setengah juta rakyatnya sendiri—yang dituduh komunis dan simpatisan komunis, mahasiswa, pekerja, petani… lalu apa yang bisa anda harapkan mereka akan lakukan saat mereka menjajah Negara lain yang sama sekali tidak terkait dengan mereka.


Sabine Heller: Kapan dunia mulai menaruh perhatian akan hal-hal buruk yang menimpa rakyat anda? Apakah ada titik balik yang pasti?

President Horta:
hal itu berawal di tahun 91. Tetapi titik balik sesungguhnya terjadi di tahun 96 bersamaan dengan Penganugrahan Nobel Perdamaian. Penganugrahan Nobel Perdamaian semakin mencuatkan masalah Timor; hal tersebut meningkatkan biaya diplomasi bagi Indonesia dan memaksa mereka untuk menyelenggarakan referendum di tahun 99. Indonesia adalah sebuah Negara yang memiliki penghargaan yang peduli terhadap citra internasional


Sabine Heller: President Clinton banyak juga membantu.


President Horta: Ya, William Jefferson Clinton adalah orang yang berperan dalam kemerdekaan Timour Leste tahun 99. Jika bukan karena Bill Clinton di sana, berdiri di halaman Gedung Putih, pada intinya memberikan ultimatum kepada militer Indonesia supaya memberikan pasukan internasional masuk, mungkin kami tidak akan bisa merdeka. Jadi kami sangat berterimakasih kepada Presiden Clinton a lot. Dia adalah salah satu politisi favorit saya di muka bumi ini.


Sabine Heller: Bagaimana perasaaan anda saat kembali dari pengasingan menuju Timor Timur yang sudah merdeka?

President Horta: Saat saya menuju kota, menapaki bukit Dili, menatap ke bawah ke arah kota dengan keindahannya yang memukau, saya berbicara pada diri saya sendiri, “Ini pasti perbuatan Tuhan bahwa Timor sekarang sudah merdeka." Saat anda menatap kuat-kuat ke arah kami, anda tahu bahwa itu adalah perbuatan Tuhan.


Sabine Heller: Atau itu karena tindakan anda! Pada intinya anda melangkah dari seorang aktivis lalu memerintah. Dimana anda belajar memerintah?


President Horta: Saya sebenarnya tidak pernah belajar bagaimana memerintah. Saya dulunya seorang wartawan dan kemudian menjadi aktivis, menggalang demonstrasi jalanan, menulis, membuat pidato―jadi saya tidak tahu apapun tentang memerintah negara manapun. Dalam pengertian pengetahuan dan kemampuan mengendalikan sebuah Negara, saya orang yang tidak tahu.


Sabine Heller: Apakah anda pesimis atau terlalu optimis akan dampak psikologis terror terhadap pendududuk? Selama pembrontakan di tahun 2006, dunia bertanya-tanya apakah Timor Leste bisa menjaga demokrasi yang independen. Apakah anda merasa pemerintah terlalu yakin akan kemampuan negera anda untuk pulih?

President Horta: Apa yang terjadi segera setelah kemerdekaan kami, adalah terjadinya perselisihan pribadi dan tumpang tindih pandangan, munculnya saling curigai, dan para pemimpin tidak bias bekerja sama untuk menangani ketegangan yang memanas di negeri ini. Saya adalah seorang menteri luar negeri jadi saya tidak terlibat dalam politik dalam negeri. Saya tidak biasa mempengaruhi—Saya sudah mencoba, sekalipun sebagai Mentri Luar Negeri saya selalu mencoba untuk mengingatkan kolega-kolega saya akan perilaku mereka.


Sabine Heller: Bagaimana keadaan dewasa ini? Bagaimana rasanya membangun sebuah negera paling baru di muka bumi ini?


President Horta: Kami sudah banyak membuat kemajuan yang pesat dalam 2 tahun terakhir. Dewasa ini, jika anda mengunjungi negeri kami, kamu akan lihat kota-kota yang sibuk, ribuan orang di jalan, ada ratusan restaurant, toko, lalu lintas yang sibuk. Survei terkhir yang dilakukan oleh International Republic Institute menyatakan bahwa sebagian besar masyarakat senang dengan arah kemana negeri ini melangkah.


Sabine Heller: Anda sudah banyak mengalami penderitaan pribadi. Siapa yang mesti bertanggung jawab dan apakah mereka sudah bertanggung jawab? Apakah sudah ada sumbangan yang memadai terhadap kehancuran yang terjadi pada negeri anda dalam 30 tahu terakhir?


President Horta: Pada tataran dunia ideal, semua orang, siapapun yang terlibat dalam kejahatan, apapun bentuknya, mesti menghadapi pengadilan, dan bertanggung jawab. Tetapi kita tidak berada di dunia ideal. Di negara-negara seperti halnya negara saya, atau di negara-negara lainnya, tidak selamanya keadilan menjadi pilihan, sebab lembaga-lembaganya sangat rentan, masyarakatnya berada pada masa transisi. Jika anda mulai mengejar para pelaku dari kejahatan tersebut, system pengadilan tidak bisa menanganinya, lembaga-lembaga itu lemah, dan orang-orang yang anda kejar memiliki pendukung dan teman. Anda pasti tidak pernah mendengar saya mengkritik Indonesia, Amerika maupun Australia lagi setelah tahun 99. Saya tidak suka menambah luka pada orang-orang yang saya tahu, telah kehilangan. Bagi saya, prinsip yang utama adalah: dalam kemenangan, anda mesti bisa rendah hati. Rendah hati terhadap lawan yang telah merasa kehilangan. Buatlah mereka merasa seperti mereka tidak merasa kehilangan dan dengan demikian kita semua akan menang. Kenapa saya bilang bahwa Indonesia menang? Saya bilang Indoensia menang karena mereka telah menyelesaikan konflik, yang telah membebani hidup mereka.


Sabine Heller: Saya tahu anda selama ini bicara keras masalah Burma. Masalah lain apa yang sedang berlangsung yang mungkin luput dari perhatian masyarakat.


President Horta: Tidak, Untungnya, dewasa ini, pada abad ke duapuluh satu ini, ada sejumlah masalah di dunia, seperti pembunuhan/pemusnahan massal, yang luput dari perhatian media karena globalisasi dan jaringan media internasional, internet. Ada sejumlah kausus yang benar-benar ditutup-tutupi.

Sabine Heller: Setelah terjadinya usaha pembunuhan atas hidup anda, apakah rasa takut itu bertambah atau berkurang dalam hidup anda?


President Horta: Saya tidak mengalami satupun mimpi buruk terhadap hal apapun


Sabine Heller:
Anda mengalami banyak sekali tekanan mental yang luar biasa, apa yang masih anda ditakuti?


President Horta: Kematian…….adalah hal yang paling saya takuti. Saya benci kematian. Saya tidak suka kematian.


Sabine Heller:
Apa penyesalan anda yang paling besar?


President Horta: Sesuatu yang sangat pribadi.