Rabu, 07 Oktober 2009

Bungklang Bungkling: BISUL

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘’Bisul’, di harian Bali Post, Minggu, 4 Oktober 2009,
oleh I Wayan Juniartha
. Diterjemahkan oleh Putu Semiada




Bisul

Para leluhur kita dahulu banyak sekali mempunyai petuah yang aneh-aneh dari sidut pandang kemajuan zaman abad komputer seperti sekarang.

Yang paling sering kita dengar adalah masalah tidak boleh duduk di atas bantal. Jika ada anak-anak yang duduk di atas bantal, maka sang nenek secepatnya akan menakut-nakuti mereka. Nanti bisa bisul katanya kalau berani duduk di atas bantal.

Tapi hingga saat ini belum pernah ada ada anak-anak Bali yang bermasalah dengan pantatnya gara-gara duduk di atas bantal. Mungkin karena pantatnya sudah kebal.

“Dahulu, bahan bantal adalah kapuk. Kalau sering diduduki maka akan cepat rusak. Apalagi habis duduk pakai kentut segala. Maka baunya akan melekat,” I Made Sok Tahu memberi penjelasan.

Mereka yang ada di warung itu hanya manggut-manggut saja. Mereka pikir dalam suasana hujan lebat dan dingin seperti ini lebih baik tidak usah berbicara terlalu banyak. Menikmati kopin panas dan arak adalah hal yang lebih baik.

“Disamping itu, bantal tempatnya di kepala, tidak boleh diduduki, cemar jadinya, sama halnya dengan menaruh sepatu di kepala.

Masalah pantat bisul ini tidak terlepas dari kesulitan yang dihadapi oleh para leluhur kita dalam menjelaskan bantal yang harganya mahal dan juga masalah konsep Tri Angga (tiga bagian tubuh manusia; kepala, badan, dan kaki). Jadi lebih baik dengan cara menakut-nakuti.

Tidak boleh memotong kuku di malam hari. Kalau melanggar dianggap mendoakan orang tua cepat-cepat meninggal. Tentu saja tidak ada anak-anak yang mendoakan orang tuanya cepat meninggal, kecuali orang tuanya banyak memiliki warisan.

Sebenarnya, masih banyak petuah-petuah orang tua yang kelihatannya seram tapi sebenarnya tidak ada apa-apanya.

“Dahulu tidak ada lampu listrik. Kalau nekat memotong kuku bisa jadi kelingkingnya kena potong,” kata I Putu Adi Kene Adi Keto.

Kita juga dilarang membeli paku apalgi memotong rambut malam hari. Kalau tidak ada listrik, maunya mencukur rambut gaya SBY, malah jadinya mirip rambut Lolak (pelawak Bali).

Kami juga dilarang menyapu halaman sambil bersiul-siul pada malam hari. Katanya bisa mengundang leak.

“Sebenarnya kalau kita menyapu sambil bersiul-siul pada malam hari jelas saja bisa mengganggu para tetangga,” kata Made lagi.

Zaman sekarang, yang lebih heboh dari bersiul juga sudah umum, terutama para kaum muda. Ada yang naik motor dengan suara yang sangat bising tengah malam. Ada juga yang teriak-teriak saat mendengarkan musik keras di kafe remang-remang. Polisi tidak berani menembak mereka, apalagi leak. Yang belajar ilmu leak saat ini adalah mereka yang takut disrémpét motor atau mobil.

Sampai saat ini belum ada yang ketahuan menyapu malam-malam. Maklum kalau sudah malam para pembantu sibuk pacaran, sedangkan nyonya rumah sibuk nonton sinetron.

Karena dahulu berasnya mahal, makanya orang tua menasehati anak-anaknya agar tidak menyisakan makanan. Kalau makan harus dihabiskan. Kalau tidak habis maka ayam yang hitam akan mati.

Sekarang, semakin banyak anak-anak yang tidak makan nasi. Orang tuanya juga tidak ada yang memelihara ayam, apalagi ayam hitam. Jadinya semakin jarang kita mendengar urusan menyisakan makanan. Petuah-petuah yang lain juga semakin hilang.

Dahulu, kita mesti menyisakakan sedikit makanan di tempat nasi. Sebab jika malamnya ada leluhur kita yang datang ke rumah supaya ada yang dimakan, katanya.

“Sekarang sudah ada warung Padang yang buka 24 jam. Jadi jika leluhur perlu nasi, belikan saja nasi dan rendang,” komentar Putu sambil tertawa.

Sepertinya, zaman baru perlu petuah baru.

=======================================


A B S C E S S

In the old days our parents often told us advices (piteket) which sound strange from modern point of view.
The one that we often told is that the children are not allowed to sit on pillow. If they do, they may get abscess.
But it has never happened to children. Probably it because they are now immune to such disease.
“Formerly, the material for the pillow was kapok. So if you had often sat on it, it would have been torn. And if you farted as well, it would be very stink, though,” comments I Made Sok Tahu (I Made Pretends to Know).
The others don’t really pay attention to what Made says. They think that in the rainy and cloudy weather like this, it would be better for them to just be quiet. Drinking hot coffee or palm wine would be much better.
“In addition, pillow is supposed to be placed by your head, so never sit on it. It’s like you put your shoes on your head.”
Thing like this is understandable as our ancestors didn’t really know how to explain about expensive pillow or Tri Angga concept (concept on the three part of human body; top (head), middle, and bottom (legs).
As they had problem how to explain about sacred-profane, so they might think the best way to deal with thing like this is by creating irrational reason.
We are also not allowed to cut our nail in the evening. They say if we do, it means that we want our parents die soon. It sounds strange of course, as no children want their parents die soon.
So many of their advices sound spooky but as a matter of fact, they don’t.
“There was no electricity in the old days. If you cut your nail in the dark, you might cut your finger,” says I Putu Adi Kene Adi Keto (I Putu Why Is That)
It is not allowed either to buy nails or have hair cut in the evening. If you do, your hair cut may look ugly in spite of SBY look.
We are not allowed either to sweep the yard nor whistle at the same time in the evening because a witch may come approaching you.
“Of course when you are whistling while sweeping in the evening, your neighbour may get disturb,” says I Made.
Ironically, the situation now is very different where the young people do things more than just whistling; they are more ‘noisy’. Some ride their motor bikes late night with very loud noise exhausts. Some even scream while enjoying music in the cafés. The police do not dare to shoot them, nor the black magic women. People practising black magic are the ones who are afraid of being hit by cars or motor bikes.
But we find no people sweeping the yards in the evening now. Because the house maids go out with their boyfriends and the house wives are busy watching cinetrons.
In the old days, rice is something ‘expensive’ and rare, so they asked their children to finish up the rice every time they had meal. No leftover. Otherwise their black chicken would die.
These days more and more children eat less and less rice. And their parents do not have chicken, let alone the black ones. So now it is common for the children not to finish up their rice.
In the old days, we should leave a small amount of rice in the jar. So if our ancestors ‘visited’ our house, they still had something to eat.
“Look now we have Warung Padang (Sumatran dish food stalls) which open twenty four hours. If our ancestors ask for rice, we can buy them rice and rending (beef),” says Putu jokingly.
So, new era needs new way of life.