Jumat, 29 Januari 2010

Bungklang Bungkling: Dedaraan Makanan)

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Dedaraan’, di harian Bali Post, Minggu, 24 Januari 2009, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada

Dedaraan (Makanan)

Jenis makanan tradisional menunjukkan watak sebuah suku bangsa. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan I Wayan Cupak Bagus.
Mereka lagi bersuka cita. Ada seseorang yang mengirimi mereka pepesan babi (tum) 200 biji dan kacang dua kilo. Maklumlah, pilkada sudah dekat, tim sukses masing-masing peserta rajin mengirimkan bingkisan kemana-mana. Jika ada orang yang memberi, kita mesti menerimanya, nanti pada saat memilih menggunakan hati nurani masing-masing, begitu semboyan mereka.
“Contohlah orang Jawa,” kata Wayan.
“Orang Jawa paling gemar dengan tempe dan tahu. Harganya murah dan membuatnya tidak sulit, tahan lama, gizinya tinggi dan bisa dikombinasikan dengan berbagai bahan makanan lainnya: jika dicampur kelapa, bisa jadi botok, dicampur asam dan kecap menjadi tempe manis, kalau diisi tepung menjadi mendoan.
“Artinya, orang Jawa memang senang irit, tidak ribet, tidak senang kalau waktunya habis hanya untuk mengurusi makanan.”
Oleh karena itu orang Jawa masih bisa menabung, giat dan kuat bekerja.
“Kalau orang Bali, memang senang dengan makanan yang ribet.”
Misalnya lawar. Jika membuat lawar, harus ramai-ramai mengerjakannya. Tidak ada yang bisa membuat lawar sendirian. Membuat lawar sendiri sama artinya bermain kartu Cina (ceki) sendirian.”
Artinya, orang Bali memang senangnya ramai-ramai, senang berkumpul dengan sanak saudara, senang mengeluarkan uang untuk lebih banyak untuk makanan.
“Karena senang kumpul-kumpul ini, sehingga waktu untuk bekerja menjadi semakin sedikit.”
Apalagi makanan di Bali kebanyakan bahannya daging babi.
Sehabis makan tempe dan tahu, mata menjadi terang. Tetapi sehabis makan babi, mata menjadi mengantuk. Karena mengantuk, jelas kita tidak bisa bekerja.”
Mereka mengangguk-angguk. Tidak ada yang terlalu serius mendengar omongannya Wayan. Mereka lebih serius makan tum dan kacang. Sampai jatahnya Wayan pun dihabiskan oleh mereka.
“Orang Bali juga senang dengan makanan yang terdiri dari berbagai macam jenis sayur serta rasanya pedas, seperti srombotan misalnya.”
Artinya orang Bali senang dengan makanan yang membuat kita berkeringat dan mencret.
“Itulah teoriku, jika anak-anak kita senang dengan pizza, KFC, dan McDonald, mungkin wataknya sudah mirip orang barat,” kata Wayan sambil mengambil gelas tuaknya.
Ternyata gelasnya sudah tidak ada isinya, bagian tum dan toples kacangnya juga sudah kosong. Begitulah adat di Bali, kalau kebanyakan ngomong maka tidak akan mendapat apa-apa.


================================

Dedaaran (Food)


There is a theory that one can tell the ‘character’ of a country by its traditional food, according to I Wayan Cupak Bagus.

The members of the group are happy today. Someone has sent them 200 tum (Balinese wrapped steamed pork meat) and 2 kgs of peanuts. No wonder: as the local elections are coming the team of each contestant is busy distributing things to attract constituents. They think that when one gives you something, just accept it: you can decide later which contestant you are going to vote.

“The Javanese are an example,” says Wayan.

The Javanese like bean curd (tofu) and fermented soybean curd (tempe). They are not expensive, easy to prepare, and can be combined with any kind of food.

“The point is that the Javanese are economical people, they don’t like to make things complicated or waste their time just for food matters.”

“That’s why they are able to save their money and they are hard-working people too.”

“They are very different from Balinese who are very complicated in food matters.”

“Take lawar (Balinese chopped food) for example. You need a lot different kinds of spices. It takes time and people to prepare too.” But it is stale in just a few hours.”

“On the other hand, if you want to eat tempe or tahu, you can prepare it yourself. You don’t need many people like when you make lawar.

“It means that Balinese like hanging around with their friends, spending lots of money for food.”

“As they hang around too much, they have less time to work then.”

And the Balinese eat too much pork too.

“After eating tempe you will feel healthy, but after eating pork you will feel sleepy. You can’t do any work when you are sleepy.

Nobody really listens to Wayan. They enjoy the tum and peanuts. They finish them all so nothing left for Wayan.

“Balinese also like spicy food which consists of different kinds of vegetables, like srombotan (spicy Balinese vegetable salad).

“They like food which makes you sweat when you eat it and can bring problems to your stomach.”

“That’s my opinion. Now, when our children eat pizza, KFC, and McDonald, it means that their characters may become like westerners,” Wayan keeps talking.

After talking too much Wayan feels thirsty and tries to get a glass of palm toddy — but nothing is left. Even the tum and peanut are also finished. That’s another kind of situation in Bali: “If you talk too much you will get nothing.”