Kamis, 04 Februari 2010

SELAMATKAN BUKIT

Diambil dari posting di FB – Halaman dialog "SELAMATKAN BUKIT"


@ AMir: masalah: Jangan berfikir negatif dan sinis", dan masalah:"pendidikan".

@ PAk AMir: Masalah: “tidak berfikir negatif " dan "masalah pendidikan"

Dan mungkin tahu Pak Amir, hidup adalah sebuah pendidikan, dan saya telah menyadari bahwa:

1. Jika Bali tidak bisa membuat jalan lingkar/by pass tanpa ada bangunan perkotaan yang merusak jalur hijau, apalagi setelah 3 kali gagal, maka selamanya tidak akan pernah bisa. Sehingga berfikiran negative dan sinis terhadap situasi pengaturan lalu lintas pada saat sekarang di Bali Selatan menjadi sebuah keadaan pikiran yang sehat. Sehingga jika kita setiap hari jalan-jalan dengan perasaan gembira sambil berkata: "WOW, alangkah bagusnya papan reklama besar baru milik SEA SANTOSO yang menutup sebagian besar pemandangan sepanjang jalan Sunset Road!!!" akan menjadi sebuah delusi. Berpura-pura bahwa sejumlah orang-orang Indonesia yang berpendidikan akan bisa membawa perubahan dengan berbicara pada rapat di gubernuran adalah sebuah kesia-sian. Tapi kita juga mesti ingat: ‘Tidak ada salahnya terus berharap.


(Seorang yang terkenal dan berpendidikan dari Jakarta pernah berujar, karena merasa gerah dengan munculnya selera Ibu PKK/Orde Baru: "Jika orang Jakarta didikan belanda terakhir sudah mati, maka kota akan kembali ke jaman Barbar
Dia memang berbicara dengan bahasa metaforis. Dan dia adalah seorang nasionalis tulen.


2. Jika sebuah budaya tidak bisa menjaga warisan leluhurnya, seperti yang kita amati di Bali saat ini – ketika gapura dan pura dari bata merah bergaya Majapahit dirobohkan, hampir setiap hari – dan diganti dengan batu hitam bak monster dan prasati dari marmer putih yang terjadi hampir di semua pura – maka tidklah berlebihan kalau orang menjadi gelisah dan sinis. Terutama bagi seseorang yang telah 35 tahun menghabiskan waktunya mengabadikan keindahan dan daya tarik yang mesti dijaga.

3. Jika saya telah memutuskan di tahun 1973, untuk menghabiskan hidup saya di Bali, itu karena Bali memiliki daya tarik pemandangan yang luar biasa dan tata ruang yang bagus , maka, akan tetapi disamping itu, saya memilih Bali karena saya jatuh cinta dengan penduduk dan budayanya, yang hebatnya, meskipun digempur oleh polusi visual dan kerusakan lingkungan, tetap tidak berubah. Dan saya kira, kita bersyukur bahwa kita para pendatang yang berpendidikan merasakan hal yang sama. Dan saya kira bahwa adalah sebuah kekonyolan jika kita percaya bahwa tekanan sekeras apapun akan bisa merubah para pengembang yang berdarah dingin, keras hati dan tidak simpatik (terhadap lingkungan dan budaya; hadapi saja kenyataan ini) – Lihatlah Sakenan, Tanah Lot.
Negatif dan sinis menjadi sesuatu yang baik bagi kami (para konsultan desain) pada saat berurusan dengan pengembang dan klien yang ngawur (yang jumlahnya 95%, kalau tidak percaya, tanya saja arsitek yang lainnya juga……jangan hanya mengandalakan apa yang saya sampaikan)......Tapi saya yakin saya tidak akan menyerah.