Jumat, 26 Maret 2010

Bungklang Bungkling: PAJAK

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Pajak’, di harian Bali Post, Minggu, 21 Maret 2010, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada



Pajak

Sebuah perdebatan yang seru sedang berlangsung antara I Made Pahit Makilit (I Made ‘Sangat Kikir’) dengan I Putu NPWP (I Putu Pembayar Pajak).
“Coba kamu pikir, mengapa aku harus membayar pajak penghasilan? Mengapa gajiku mesti dipotong sekian persen untuk diserahkan ke pemerintah?” kata Made.
“Yang bekerja aku sendiri, yang keluar keringat aku sendiri, yang ke sana ke mari aku sendiri. Presiden sama sekali tidak pernah membantu aku bekerja. Jangankan membantu, memberi kerja saja tidak, lalu kenapa pemerintah sekarang minta bagian.”
Semuanya tepuk tangan. Tetapi tepuk tangan itu bukannya untuk mendukung Made, namun hanya sebagai sopan santun dalam kehidupan: jika kita melihat orang berpidato berapi-api, maka kita wajib tepuk tangan, jika melihat ada orang yang mendapat kecelakaan kita patut menontonnya, jika kita melihat orang berbibir sumbing kita patut menertawainya, jika melihat orang berkelahi kita patut memberi semangat, jika kita melihat pejabat dan calon pejabat maka perlu kita mintai sumbangan.
Made semakin bertambah semangat karena mendapat tepuk tangan langsung saja dia memesan tuak dua jerigen untuk mentraktir teman-temannya. Maunya dia agar terus mendapat dukungan. Inilah yang dinamakan tuak politik, mirip seperti ‘bansos politik’ dan ‘money politic.’
“Jika kamu ke kantor, melewati jalan aspal hot mix, jembatan yang bagus, pelayanan kesehatan gratis hanya dengan menyetor KTP, gedung sekolah ada, puskesmas ada, kamu kira uangnya dari mana kalau bukan dari pajak?” jawab Ketut.
Maklum, Ketut adalah pegawai kantor pajak, maka dia akan membela matian-matian jika berkaitan dengan urusan pajak.
“Punya mobil lima, tapi tidak berani mengeluarkan uang untuk memperbaiki jalan rusak. Bukankah itu curang namanya,” Ketut mencoba menyindir Made.
Kali ini tidak ada yang tepuk tangan. Maklum, komitmen Putu belum jelas perihal urusan ‘Tuak Politic’. Jangankan hendak mentraktir minum, dia sendiri dari tadi hanya minum teh tawar.
“Nah, jika urusan membayar pajak motor dan mobil untuk membuat jembatan ataupun memperbaiki jalan, aku masih bisa terima.”
“Tapi ada hal yang aku tidak bisa terima. Apa alasannya aku mesti bayar pajak tanah? Sejak kapan pemerintah membuat tanah. Sejak kapan pemerintah peduli dengan tanahku,” Made bertanya.
“Sekarang semuanya tertawa terkekeh-kekeh. Mereka berfikir Putu akan kesulitan menjawab.
“Sudah jelas Undang-Undang Dasar menyatakan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya adalah milik negara. Artinya kalian semua hanya mengontrak sifatnya, jadi kalian perlu membayar kontrakan.”
Semuanya tertawa terpingkal-pingkal setelah mereka mendengar jawaban Putu. Mereka tertawa karena menyadari bahwa mereka sudah tidak punya apa-apa di dunia ini. Dahulu kalau raja yang mengendalikan Negara, maka wajib menyetor upeti. Sekarang negara yang berperilaku sama. Namanya lain, tetapi sifatnya sama saja.
“Ya, kalau dasarnya Undang-Undang Dasar aku tidak berani. Tetapi masih ada satu lagi pertanyaanku. Kamu kan bekerja di dinas pajak dan pendapatan, dan sudah mendapat gaji. Artinya tugas kamu menarik pajak sudah dibayar oleh rakyat lewat gaji. Lalu kenapa kamu masih mendapat upah pungut lagi? Bukankah itu artinya kamu mendapat gaji dobel?”
Sekarang Ketut tidak bisa berkata apa-apa.Tiba-tiba saja dia mengeluarkan uang segopok untuk membeli enam jerigen tuak. Akhirnya dia memakai cara ‘Tuak Politik’. Jika mereka dibelikan tuak enam jerigen biasanya mereka langsung diam. Mereka langsung lupa dengan urusan yang berat-berat. Ketut juga ikut mabuk. Jika sudah mabuk pasti tidak akan ada yang berani bertanya macam-macam.

========================================

Pajak (Tax)

Two members of drinking club are debating. They are I Made Pait Makilit (I Made ‘Very Stingy’) and I Putu NPWP (I Putu ‘You Pay Tax You Get Rewards’).
“I can’t understand why we have to pay income tax? Why do the government take percentage of my income?” asks Made.
“I do the job myself. No one help me, nor the president. So why do they have to take some from me?”
Everyone gives applause to Made. It should be noted applause doesn’t always mean respect in reality. It is the same like when you give an applause to speech, or when you just stand watching a victim of an accident without trying to help, or when you make a joke when you see a ugly person, or when you enjoy seeing a fight, or when you ask for a donation to a candidate or official.
Made is getting more excited. He orders two jerry cans of palm toddy for his friends. He wants them keep supporting him. It’s like money politics.
“What about when you go to your office, drive passing a good road, or pass by a huge bridge, free medical treatment, school for your kids, public health centre. How do you think our government cover the cost? The money comes from the tax though,” comments Ketut.
Ketut works in tax department office. That’s probably why he talks about how important to pay tax.
“You have 5 cars but you are not willing to pay tax for road maintenance,” comments Putu about Made.
But this time nobody gives applause. They still wait for Putu’s commitment if he will treat them palm toddy. He himself just drinks plain tea.
Made nods.
“Pay motor bike and car taxes for road maintenance is something that I still can accept.”
But there is something I can’t accept, that is paying land tax. Why should I? Since when the government cares for my land,” asks Made.
Everyone thinks that Putu will have a problem in answering Made’s questions.
“Well, it has been indicated in our Constitution that land, water, and other natural resources belong to the state. It means you are only a ‘lessee’, and you have to pay your ‘land lease’.”
Everyone laughs as if they make joke to themselves and realize that they ‘have nothing’ being a citizen. They note that when the island was ruled by kings, they had to give something (upeti) to the kings, and when the country is ruled by a president, it is still the same. Different rulers, but still the same game.
I have no comment if it’s all about Constitution. But I still have another question. You work in tax office. You get paid. And your task is to collect taxes in which your salary is paid using the money from the taxes you collect, right? But why do you then get ‘fee’ from collecting taxes. Doesn’t it mean you get double salaries?
Ketut can’t say anything. Suddenly he takes some money out from his pocket to treat his friends some palm toddy. He thinks that by buying palm toddy, they will be quiet. They will forget their problems. Ketut gets drunks as the others. When everyone gets drunk, they will not ask tricky questions.