Jumat, 02 April 2010

Bungklang Bungkling: Balian (Dukun)

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Balian’, di harian Bali Post, Minggu, 28 Maret 2010, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada


Balian (Dukun)

Pamor I Wayan Uyah Sere alias Abhiseka Batu Bulitan Nyem Lalah Galaktika I semakin naik seiring pelaksanaan Pilkadal (Pemiloihan Kepala Kadal).
Maklumlah jika dekat Pilkadal, semua calon mendatangani balian.
Awalnya para kandidat semuanya berlomba memasanga baliho yang besar-besar. Lama-lama mereka sadar bahwa cara ini hanya sebegitu-begitu aja. Isinya semua sama: para kandidat itu tersenyum sambil mencakupkan tangan, seolah-olah mereka adalah orang yang paling alim di dunia. Semuanya memakai pakaian adat dan destar, seolah-olah mereka tidak pernah ke karaoke dan kafe remang-remang.
Sehabis perang baliho, semuanya mengadu program. Akibatnya tetap saja juga sama program-programnya: kalau bukan pendidikan gratis, paling juga berbagai macam bantuan tunai langsung, mulai dari bantuan untuk orang melahirkan hingga bantuan untuk kematian. Kalau memang program seperti ini dilaksanakan mungkin banyak yang melaporkan salah satu keluarganya meninggal.
Setelah itu mereka sibuk mencoba simpati para dewa, yaitu dengan cara memberi sumbangan untuk upacara di pura maupun untuk renovasi pura. Namun yang menjadi masalah adalah bahwa para dewa berupa akasa (tidak tampak), jadi tidak bisa diminta untuk menandatangani nota kesepakatan untuk memilih calon tertentu.
Sampai saat ini pun belum ada ‘dewa’ yang menyatakan dukungan terhadap calon A atau B.
Karena tidak kunjung mendapat dukungan dari para dewa, para kandidat sibuk mencari dukungan ‘niskala’ dari para balian (dukun). Istilah kerennya ‘penasehat spiritual’.
“Wayan memang pintar menangkap peluang, kemanapun dia pergi dia mengaku bahwa dia adalah ‘balian’ politik paling top’,” kata I Made Saru Gremeng.
Mereka semua pada tertawa. Mereka teringat dengan yang dahulu ketika Wayan menjadi balian yang tidak jelas juntrungannya, apakah sebagai balian usadha (pengobatan), balian sonteng (perjodohan), atau balian ngiring (untuk menghubungkan yang masih hidup dengan roh leluhurnya). Dia menjadi balian hanya secara kebetulan saja.
“Dia menjadi balian karena pada awalnya dia stress kena PHK lalu ditinggal istrinya, sehingga sedikit-sedikit dia kerauhan (kesurupan), mengaku-ngaku ‘menyungsung’ Ida Bethara Dalem Weteng.
Pada awalnya I Wayan mengaku bisa menyembuhkan segala peyakit yang diakibatkan oleh ilmu hitam. Tetapi anehnya kebanyakan pasiennya Wayan malah tambah sakit. Jangankan mau berperang melawan leak, keluar waktu malam saja dia amat takut.
Terlalu sulit buat Wayan untuk melawan leak. Kemudian dia mulai mengambil ‘spesialisasi’ baru, yaitu melancarkan jodohdan mengharmoniskan rumah tangga. Mulai dari paket pélét murah yang konsumennya mulai dari murid SMA sampai paket ‘penangkeb jagat’ untuk ibu-ibu pejabat yang suaminya suka ‘Jumat Selingkuh’, dijual oleh Wayan.
Akibatnya Wayan harus tutup praktek karena dia justru malah sibuk meraba-raba pasiennya. Maunya menjadi balian, malah menjadi gigolo.
Jika hendak memasang ‘penangkeb’ memang harus dimasukkan dari bawah, begitu alasannya Wayan. Lucunya, ibu-ibu pejabat yang berpendidikan tinggi percaya saja dengan alasan yang dikemukan oleh Wayan.
Setelah gagal menjadi balian pelet, Wayan langsung banting setir. Dia kemudian berubah namanya menjadi Abhiseka Batu Bulitan Nyem Lalah Galaktika I, spesialis menolong pejabat yang ingin naik pangkat dan politikus yang ingin menjadi ‘tikus’.
Karena banyak para pejabat yang penjahat dan politikus yang menjadi tikus, maka Wayan tidak pernah sepi pesanannya.
Sekarang Wayan sibuk menawarkan minyak ajaib kepada para kandidat. Untuk kandidat yang lebih miskin Wayan pasang harga 50 juta per botol dan untuk yang lebih mampu dia pasang harga 75 juta per botol.
Jika minyaknya itu di oleskan di TPS maka pemilih tidak akan melihat foto kandidat yang lain. Yang kelihatan hanya foto kandidat yang membeli minyak ajaib itu.
“Masalahnya semua kandidat membeli minyak di Wayan. Bisa-bisa nanti kertas suaranya kosong semua.”
Semuanya tidak percaya. Sekarang sudah tidak penting lagi kandidat mana yang menang. Yang jelas sekarang Wayan bisa mendapatkan uang dari mana-mana semenjak menjalani profesi balian ini.




=========================================


Balian (Shaman)

The local election is coming soon. And as a shaman (balian), I Wayan Uyah Sere alias Abhiseka Batu Gulitan (I Wayan ‘River Stone’) is getting famous because many major electoral candidates/politicians pay him a visit.

Formerly all of them used ‘billboards’ for their campaign. They tried to use billboards as much as possible. Finally, they realized that everyone did the same. All ‘billboards’ had the same messages; smiling faces, to make impression as if they are good people, in spite of their habit of visiting ‘karaoke’ and ‘prostitutes’. They ‘hide’ behind their traditional costumes.

When they are tired of ‘billboards’, they start campaigning with their programs. But they contain the same messages as well: free medical treatment, free allowance for the poor, etc.

Next, they try to get blessing or support from ‘unseen world’ (niskala) or the gods by giving donations to temples for ceremonies or temple renovations. The problem is that the gods are ‘unseen’ so they can not ask the gods to ‘sign’ a Memorandum of Understanding and choose a certain candidate. So far no candidate has been chosen by the gods.

That’s why they change their strategy. Now they visit shamans to get ‘spiritual’ supports. They are called ‘spiritual advisors’.

“Wayan knows how to take a business opportunity. Everywhere he goes, he introduces himself as the best ‘political’ shaman, says I. Made Saru Gremeng (Much Talk But No Meaning).

Everyone laughs. They know that Wayan is a ‘fake’ balian. He becomes a balian by coincidence.
“He was fired from his office and his wife left him — so he is stressed. He often goes into trance and claims that he gets his magical power from the God Betara Dalem Weten.

He claims that he is able to heal all kinds of sicknesses that are due to black magic. As a matter of fact, most of his patients coming to him do not get better, they even get worse. Not to mention that he is afraid of going out in the dark.

Wayan then realizes that dealing with black magic is a difficult job: That’s why he has changed his ‘specialization’. He tries to become a shaman specializing in marriage consultancy. He offers his service on how to make a good relationship between a husband and a wife, and how to use ‘magic’ to help ‘attract’ someone you like easily, and how to prevent your husband/wife from ‘making an affair’ with others.

Unfortunately he doesn’t do his job very long. Instead of doing consultation, he does more sexual harassment of his female patients.

His reason is that something must be ‘inserted’ to your body to make the magic work; many of his patients believe that, including the high ranking officials’ wives.

Next Wayan changes his specialization again. Now he helps politicians or high ranking officials on how to raise their careers easily. And he has changed his name to Abhiseka Batu Gulitan Nyem lalah Galaktika I.

Wayan is quite successful in his new job, as many politicians and high ranking officials come to him for help. He offers magic oil. And he charges different prices depending on who is his customer. The richer the customer, the more he will charge. And he explains that if the oil is scrubbed on the voting booth, the voters will only see the picture of the candidate who buys the magic oil from Wayan and they choose him.

“The problem is that all candidates buy magic oil from Wayan. The voters may get confused.”
Everyone laughs: now they think that it’s not really important who will win. The fact is that Wayan gets good income from this job.