Senin, 17 Mei 2010

Bungklang Bungkling: SELAMAT HARI RAYA GALENGAN

Diambil dari kolom Bungklang Bungkling, ‘SELAMAT HARI RAYA GALENGAN’, di harian Bali Post, Minggu, 16 Mei 2010, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Wiwid Budiastra.


Selamat Hari Raya Galengan

Setiap kali selesai hari raya besar pasti banyak ibu-ibu yang mengeluh badannya pada sakit dan pegal. Ada yang pinggangnya keseleo, ada yang kakinya keram.

“Aduuuh…seperti tidak berasa tangan, setelah membuat empat ratus buah canang,” begitu kata Ni Luh Mantu Andel Matua Kendel (Ni Luh Menantu Rajin Mertua Senang).

Maklum, Ni Luh menikah ke keluarga yang sangat kaya raya, tapi juga sangat khawatir dengan hal-hal yang bersifat niskala (gaib). Karena kaya, kalau tidak mengahabiskan sepuluh juta untuk sarana dan prasarana upacara, seperti tidak merayakan Galungan rasanya, menurut mereka. Karena saking khawatirnya dengan hal yang tak nampak, setiap sudut rumah dihaturkan canang. Dimana pun setiap mertuanya kesandung atau terpeleset, tempat itu akan dianggap angker, dan langsung dihaturkan canang. Dimana pun mertuanya merasa merinding, membuat bulu kuduknya berdiri, langsung tempat itu dianggap angker dan patut dihaturkan canang plus sesembahan plus tetabuhan.

Mulai dari Penyajaan (hari untuk membuat kue persembahan Galungan) sampai Penampahan (sehari sebelum Galungan) Ni Luh tidak bisa tidur nyenyak. Target produksi sudah jelas: 400 canang genten, 300 canang meraka, 150 ajuman, 100 tumpeng. Pada waktu Penyajaan masih ada tiga pembantu. Waktu Penampahan, ketiga pembantu sudah lenyap, mengutip peraturan perburuhan serta keputusan menteri tenaga kerja tentang jam kerja, waktu lembur dan hari libur. Tepat di hari Galungan, jadilah Ni Luh seorang diri yang sibuk, naik-turun menghaturkan semua banten.

“Kalau naik-turun dengan suami kan bagus, kalau sendirian ujung-ujungnya jadi lepas rasanya lutut ini,” begitu katanya.

Para perempuan yang ada disana pada tertawa mendengarnya. Semua sedang bersantai ria dibawah pohan sukun. Kalau jaman dulu mungkin mereka sambil mencari kutu. Tapi sekarang rambut mereka sudah pada direbonding, sudah tidak ada tempat untuk kutu bergelantungan. Semua bersantai sambil mengecat kuku dan asyik ber-sms-an dengan selingkuhan atau calon selingkuhan. “Baru segitu, aku jam tiga pagi sudah dibangunkan mertua, jam empat katanya harus sudah menghaturkan banten, jam lima sudah harus beres. Perasaan Ida Bhatara saja belum bangun jam segitu,” Ni Nyoman Lain di Bibir Lain di Hati menjawab.

Mereka semua tertawa lebih keras lagi. Kalau menceritakan tentang kehabisan tenaga, letih-lesu, tensi rendah dan kurang tidur, memang tidak ada yang bisa mengalahkan para perempuan Bali ini.

Jika dipikir-pikir, yang mengokohkan agama Hindu Bali hanya para istri. Contohnya saat Galungan. Mulai dari berdesakan di pasar untuk membeli buah bahan banten, menyiapkan banten yang begitu rumit, membawa ke Pura, menghaturkan beberapa banten kehadapan Ida Bathara, melayani suami, anak dan mertua saat sembahyang, mengambil banten setelah sembahyang, sampai membersihkan sisa-sisa sampah upakara, semua perempuan yang melakukan.

Yang laki-laki paling hanya sibuk menggorok babi dan membuat lawar, yang tidak dipersembahkan untuk Ida Bhatara, tetapi untuk dimakan sendiri. Kadang juga sibuk main ceki (kartu Cina); main ceki bukanlah judi tapi melestarikan tradisi, menurut mereka. Kalau tidak begitu, paling hanya membuat penjor. Selesai mendirikan satu penjor sudah mengaku habis tenaganya, disuruhlah isrti membuatkan kopi, pisang goreng, dan memijat pinggangnya.

“Tugas laki-laki gampang. Pagi mandi, pakai kemben paling bagus, safari paling putih, lantas sembahyang sambil lirik-lirik, sehabis itu kalau tidak nonton sabung ayam, ya main ceki lagi,” Ni Nyoman menyela.

Karena terlalu banyak beban kerja, membuat para istri tidak merasakan hari raya. Kebanyakan stres, banyak yang sakit badannya. Akhirnya, jangankan mengheningkan jiwa dan pikiran, membuka mata saja susah.

“Sebenarnya, yang aku pikirkan saat Galungan itu hanya bantal, sangat mengantuk, terbayang-bayang kasur dan bantal di mata ini. Akhirnya, Galungan berubah menjadi Galengan (bantal),” Ni Luh menjawab.

Para istri manggut-manggut. Yang tidak ikut menganggut hanya I Made Pecadang Kuang (I Made Cadangan). Ia tersinggung. Dari tadi mendengar gosip mereka, bahwa hanya perempuan yang mengokohkan agama Hindu Bali.

“Siapa yang tidak bisa tidur kalau tidak punya kebaya brokat Perancis baru untuk dipakai waktu Galungan? Siapa yang dari sebulan sebelum Galungan sudah sibuk meminta satu set cincin, kalung, anting, gelang, bros yang terbaru? Itu yang namanya mengokohkan agama?” I Made mencela.

Ibu-ibu pada memanas. Ni Luh langsung lari ke kamar. Saat kembali keluar, Ia membawa bungkusan yang langsung diserahkan kepada I Made.

“Ini…, kamu sekarang yang memakai brokat Perancisku, pakai sampai long torso-nya, satu set perhiasan perak bakar juga ada disitu, juga sanggul dan sandal Yongki Komaladi. Kamu bisa ambil semua. Tapi Kuningan nanti kamu yang menyiapkan banten ya? 400 canang genten, 300 canang meraka, ajuman 150, juga tumpeng 100,”

Mau lepas rasanya kumis I Made. Ia pura-pura menaruh kembali bungkusan itu, lantas bergerak mundur dan menghilang. Kalau menjadi laki-laki Bali, apalagi laki-laki Bali yang tidak bisa melakukan apa-apa, memang lebih baik diam saja, begitu I Made menggumam dalam hati.


=====================================================

Happy Galungan (Selamat Hari Raya Galengan)
Usually after Galungan celebration, most of Balinese women suffer extreme fatigue.

“I am so exhausted after making 400 hundred canang (offerings),” says Ni Luh Mantu Andel Matua Kendel (Ni Luh Reliable Daughter-In-Law, Happy Parents In Law).

NI Luh is married to a man from a rich family. The family are very rich but too scared of niskala (unseen) things. Being rich, they think that they must spend millions of Rupiah for offerings, otherwise they won’t feel celebrating the Galungan. As they are too afraid of unseen things, they think that they must put offering in every corner. Everyplace where her mother-in-laws gets small accident or feels scared she will put a small offering as she considers it is a ‘spooky’ place.

Consequently from penyajaan (two days before Galungan) until Penampahan Ni Luh has never been able to sleep well. She has to make 400 hundred canang genten, 300 canang meraka, 150 ajuman and 100 tumpeng. She is still lucky as during the penyajaan, three of her house maids still help her. But on penampahan they are all gone. They are supposed to have holidays according to Labours Laws and regulations from Department of Manpower. So she has to do it all alone.

“If my husband help me do this, it will be much easier for me. Otherwise, I’m too tired,” says she.
The women laugh having heard what Ni Luh says. They relax under the ‘sukun’ tree. In old days, Balinese women look for lice in one another’s hair. But we can’t see thing like that today as modern Balinese women look after their hair properly so it looks clean and shiny and of course no more lice. Instead they do texting (sms) with their friends or lovers. “It’s nothing compared to what I do. My mother-in-law woke me up at 4 o’clock and asked me to do offering and at 5 o’clock everything must have been complete. I don’t think our ancestors wake up by that time,” Ni Nyoman Lain Di Bibir Lain Di Hati (Ni Nyoman Never Keep His Words) says.

Everyone laughs loudly. If you talk about women who are happy to dedicate their energy, time and money and have to suffer low blood pressure, and even have less sleep just for ceremonies, no-one compared to Balinese women.

Given above, it can be said that it is the Balinese women who mainly maintain the Balinese culture. It’s them who have to buy fruits and cake in the market, make elaborate offerings, carry the offerings to the temples, dedicate offerings to the gods, serve their husbands, children and parents-in-laws when they pray, take back the offerings to the house and even remove the rubbish left after praying.

On the other hand what the Balinese men do are just killing the pigs and make lawar, which is not dedicated to the gods, but they eat themselves. If not, they play Chinese cards (ceki). They say that playing ‘ceki’ is not a gambling but to maintain traditions. Or they just make ‘penjor’ (decorated bamboo pole put in the front of house during Galungan holiday). After making a penjor, they often ask their wives to give them massages.

“It is much easier for Balinese men. They start their day by taking a bath in the morning, put on their best sarong and shirt and then go to the temples and in the temple they sometimes steal a glance at beautiful girls. After that they go see cock-fighting for gambling,” Ni Nyoman interrupts.
As they are to busy with workload, the Balinese women never really feel celebrating the Galungan holiday. They get stressed and fatigue. Consequently, they are even too sleepy and never able to enjoy the holiday.

“Actually, all I think of during Galungan is pillow because I feel very sleepy, so Galungan turns to Galengan (pillow),” Ni Luh says.

They all nod, except I Made Pecadang Kuang (I Made Needed at the Last Time). He has been listening to the women gossiping. He doesn’t really agree that only Balinese women play important rule in maintaining the Balinese culture.

“But who always think of new French brocade for wearing during Galungan. Who has been thinking of a set of jewellery since one month before Galungan. Is it what you call maintaining the culture?” I Made pleads.

All the women get angry. Ni Luh rushes to her room and returns with a box and delivers it to I Made.

“Well, now you wear my French brocade, long-torso, the jewellery, the hair bun, nad the Yongki Komaladi shoes as well. You take them all. But when Kuningan comes, you do the offerings; make 400 canang genten, 300 canang meraka, 150 ajuman and 100 tumpeng.

I Made has nothing to say. He puts back the box and disappears. The lesson is that for Balinese men, let alone the lazy ones, it’s better for them to be quiet instead of giving comments on their women friends.