Selasa, 18 Mei 2010

Sertifikasi, Meningkatkan Kualitas Atau Tunjangan

Dikutip dari kolom Orti Bali, Bali Post, Minggu, 9 Mei 2010,
diterjemahkan
oleh Putu Wiwid Budiastra



Sertifikasi, Meningkatkan Kualitas Atau Tunjangan

Perasaan Wayan Nada sangat senang sekali saat ini. Walaupun Ia hanya sebagai guru di sekolah swasta, namun Wayan telah lulus sertifikasi. Kini Ia mendapat tunjangan sertifikasi yang sama banyaknya dengan gaji yang Ia peroleh.

“Walaupun sedikit, tapi lumayan untuk menambah uang bulanan,” kata Wayan Nada sambil tersenyum.

Memang benar, tunjangan sertifikasi yang diberikan kepada para guru yang lulus sertifikasi membuat mereka bangga telah mengikuti program ini. Walaupun masih banyak yang harus dipersiapkan supaya bisa lulus, para guru tetap berusaha dengan keras.

Untuk lulus sertifikasi, beberapa dari mereka ada yang mengambil cara yang tidak sepatutnya. Sebagai syarat sertifikasi misalnya, supaya mereka membuat karya tulis dan juga mengikuti seminar atau pelatihan yang harus mereka hadiri. Namun, kebanyakan hanya sebagai formalitas saja.

Ada beberapa guru yang membeli karya tulis atau menyuruh orang lain untuk membuatkannya. Demikian pula saat menghadiri seminar atau pelatihan, tidak serius menyimak, hanya untuk mencari sertifikat seminar.

Hal ini yang menyebabkan banyak orang yang meragukan program sertifikasi guru. Akankah sungguh menghasilkan kualitas pendidikan yang benar-benar bagus. “Yang ada justru kebalikannya. Tunjangan sertifikasi menjadi berkat sekaligus bumerang. Karena bukan kualitas yang meningkat, tetapi harapan guru tentang gaji, nyata meningkat,” pendapat warga kota Denpasar.

Keadaan ini ditanggapi oleh Ketua Dewan Pendidikan Kota Denpasar, Ir. Putu Rumawan Salain, M.si. Menurut Putu Rumawan, memang ada guru yang mengambil cara yang tidak benar saat mengikuti program sertifikasi. Tetapi, cara seperti itu sudah dapat dicegah oleh para asesor.

Cara yang tidak benar seperti itu, menurut Putu Rumawan, disebabkan tanggapan yang tidak bagus dalam menjalankan program sertifikasi. Sertifikasi dipandang hanya sebagai peningkat tunjangan belaka, bukan usaha meningkatkan ilmu pengetahuan dan keteladanan sebagai guru,” kata Putu Rumawan, yang juga sebagai dosen di Fakultas Teknik Universitas Udayana.

Menurut Putu Rumawan, tunjangan sertifikasi hanya sebagai symbol untuk memotivasi para guru agar bisa meningkatkan ilmu pengetahuan dan keteladanan sebagai guru.

“Yang menjadi inti semuanya adalah meningkatkan kualitas pendidikan terutama kualitas para guru,” kata Putu Rumawan.