Selasa, 15 Juni 2010

Bungklang Bungkling: SUDAMALA

Diambil dari kolom Bungklang Bungkling, ‘SUDAMALA’, di harian Bali Post, Minggu, 13 Juni 2010, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Wiwid Budiastra.



SUDAMALA
(KEMURNIAN & KEBERSIHAN NURANI)


Kemarin lusa, I Gede Ahli Filsafat Sing Dadi Tungkas (I Gede Ahli Filsafat Tidak Bisa Ditentang) sangat bahagia. Anaknya yang pertama, I Wayan Bagus Demen Roti Kukus (I Wayan Tampan Suka Roti Kukus) sudah punya anak. Hal yang paling membuat I Gede begitu bahagia adalah karena cucu pertamanya ini laki-laki.
“Sekarang waktunya sangat bagus, bertepatan dengan musim Pesta Kesenian Bali, temanya sangat bagus, Sudamala. Mau aku beri nama Ia I Wayan Sudamala, atau Bagus Sadewa” begitu Ia sok yakin.
I Gede Ahli Filsafat Sing Dadi Tungkas memang biasa memberi nama yang bagus. Sesuai dengan pembawaan si kecil yang baru lahir. Kalau anak kecil putih kuning langsat, dinamai Pudak Sategal, Pudak Wangi, Cempaka Sari, Gitasanti dan sebagainya. Kalau laki-laki, biasanya dinamai Prabasastra, Pralingga, Garbadatu dan nama lain yang sangat-sangat bagus.
“Sekarang kan cucu sendiri, darah daging, kuberi Ia nama I Sudamala, atau Bagus Sadewa, kalau perempuan biar kuberi nama Sudasih,” begitu kata I Gede Ahli Filsafat Sing Dadi Tungkas kepada istrinya Luh Ayu Polos Pang Pada Payu (Luh Ayu Polos Biar Pada Laku). Seperti biasa Luh Ayu tidak mau menentang suaminya. Tidak ada untungnya. Pakai kata apapun, suaminya itu tidak akan mau kalah, selalu ada kata ampuh dan masuk akal yang terlontar dari I Gede.
“Daripada berdebat, tidak selesai membuat sarana sembahyang nanti, lebih baik diam, kalau tidak setuju tutup telinga,” begitu rahasia Luh ayu menghadapi suaminya yang merasa terkenal sebagai ahli filsafat itu.
Tadi I Gede sudah menjenguk cucunya ke bidan, juga memberikan nama yang sudah disiapkan. Namun, belum satu jam Ia pergi meninggalkan rumah, sekarang I Gede sudah balik, wajah yang tadinya begitu bahagia, berjalan dengan begitu semangat, sekarang berubah seketika. Wajahnya merah, jalannya pun terlunta-lunta. Luh Ayu Polos Pada Payu terkejut melihat perubahan suaminya seperti itu. Ia tidak berani bertanya, takut kalau nanti suaminya berang.
Ia berpura-pura, memantau tingkah suaminya. Sekarang dilihat I Gede bengong, Dilihat air mata suaminya mau menetes.
“Luh Ayu, kisini dulu, tolong buatkan Bli kopi,” I Gede memanggil istrinya dengan suara bergetar. Luh Ayu pun merasa dadanya ikut berdegup kencang.
Setelah memberi secangkir kopi, dengan pelan Ia duduk disebelah suaminya.
“Rugi sekali kita menjadi orang tua Luh, rugi kita membesarkan I Wayan hingga besar, menikah dan punya anak seperti sekarang. Seolah tidak ada gunanya kita memeliharanya dari kecil,” I Gede berhenti bicara, berusaha menghusap air mata yang tak bisa Ia bendung.
“Dari dulu Bli sudah siapkan nama untuk cucu Bli, agar kelak Ia menjadi anak yang berguna, menebus semua kesalahan kita, lascarya (penuh dengan keiklasan), seperti tokoh Sadewa di cerita pewayangan, agar mampu merubah Ida Bhatari Durga kembali menjdai Dewi Uma. Dari dulu Bli sudah meminta supaya cucuku diberi nama Sadewa atau Sudamala. Sungguh benar-benar tega menantumu Luh, tidak mau. Harus bagaimana lagi Bli jadi orang tua Luh,” I Gede berkata penuh penyesalan.
Merasa ada celah, Luh Ayu mulai bicara dengan pelan.
“Mungkin mereka berdua sudah menyiapkan nama untuk anaknya kalau lahir dengan selamat Bli, janganlah terlalu dipikirkan. Terus, mereka kasi nama siapa cucu kita Bli? Apa alasannya tidak mau kasi nama sesuai permintaan Bli?”
Gede Ahli Filsafat Sing Dadi Tungkas hanya menggeleng. Mungkin Ia benar-benar tidak setuju dengan nama yang diberikan kepada cucunya.
“Terus diberi nama siapa Bli?”
“Maliana Putra katanya,” I Gede menjawab pelan.
“Itu, kan sudah ada mala-mala Bli, kenapa tidak dilengkapi menjadi Sudamala Bli?”
I Gede langsung terbangun dari duduknya, mungkin kekesalannya sudah memuncak.
“I Wayan tidak mau memberi nama Sudamala, katanya Sudamala itu nama kafe esek-esek, kafe yang menyediakan perempuan yang bisa diajak tidur,” I Gede Ahli Filsafat Sing Dadi Tungkas menjawab dengan berteriak sambil menutup pintu.


==================================================

Sudamala (Holiness)
Two days ago, I Gedé Ahli Filsafat Sing Dadi Tungkas (I Gede Philosopher – Never Argue With Him) was very happy. His eldest son, I Wayan Bagus Demen Roti Kukus (I Wayan Good Looking Who Likes Muffin), has a new baby. And it is I Gedé’s first grandson.
“The Bali Art Festival has just started and its theme is Sudamala. That’s why I’m thinking of naming him I Wayan Sudamala or Bagus Sadewa,” says I Gedé confidently.
I Gedé has always named his family members with good names, which usually in accordance with the parents’ desire. If the born child is a beautiful white-skin girl, she will be named Pudak Sategal, Pudak Wangi, Cempaka Sari, Gitasanti, etc. If the child is a boy, he will be named Prabastra, Pralingga, Garbadatu, etc.
“This is my own grandson, I will name him I Sudamala or Bagus Sadewa. If she had been a girl, I would have named her Sudasih,” says I Gedé to his wife Luh Ayu Polos Pang Pada Payu (Beautiful Woman Good For Everybody). As always Luh Ayu does not argue her husband. She knows that it’s useless to argue him. She knows whatever she says, he will never listen. He always has a straight answer to defend himself.
She thinks that rather than arguing her husband, it would be better for her to be quiet and ‘seal her ears off’ and just do other things, like prepare offerings instead. That’s how she deal with her husband who claims himself a famous philosopher.
Just this morning, I Gedé went to the hospital to visit his grandson and ready with a name. Less than an hour, he returned home. But he doesn’t seem to be happy and strong like when he left home. Instead, his face is red and he walks slowly. His wife is very surprised to see her husband like that. But she is afraid to ask him what happens because he might get angry.
She tries to have a quick look to her husband. She finds her husband sitting silently in the north pavilion. His tears are almost coming out.
Luh Ayu, come to me, and make me some coffee please,” he says to his wife with quivering voice. His wife feels sad too.
When the coffee is ready, Luh Ayu slowly walks approaching her husband and sit beside him.
“How useless we are as parents. We have looked after I Wayan since he was a baby until he is grown up, married and has children,” says I Gedé. He stops talking for a moment, and wipes off his tears.
“I have prepared a name for my grandchild, hoping that he will be a good person and make our family proud of him, like Sadewa in wayang (shadow puppet) story, always try to do good things. I told my son long time ago that I wanted to name my grandchild Sadewa or Sudamala. How dare our daughter in laws reject the name I have prepared. How am I supposed to be a father in laws?” I Gedé said sadly.
Luh Ayu thins that it is time for her to talk.
“They both might have already prepared a name for their son. Don’t be too sad. By the way, what they name their son that they reject the name from you?”
I Gedé shakes his head. He can’t believe what they name their son.
“What do they name their son, Bli?
Maliana Putra,” says I Gedé.
“The name already has something with ‘mala’, Bli…why don’t they add Sudamala?
I Gedé stands up and leaves without saying anything. He might be too upset.
I Wayan doesn’t want to name his son Sudamala as it is a name of a ‘red light’ café which provides girls for sex,” says I Gedé angrily and bangs the door.