Kamis, 22 Juli 2010

Bungklang Bungkling: Halaman Belakang (Teba)

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Teba’, di harian Bali Post, Minggu, 18 Juli 2010, oleh Wayan Juniartha’ Diterjemahkan oleh Putu Semiada



Halaman Belakang (Teba)
Ketika usia bumi makin tua, bencana pun kian banyak muncul.
“Global warming memiliki berbagai dampak, yang paling kentara adalah perubahan iklim. Saat ini sebenarnya bukan musim hujan, tetapi hujan justru dating terus menerus, seperti tidak habis-habisnya,” begitu kata I Made Aktivis Pesan Clengis.
Sekaa tuak nya manggut-manggut saja. Mereka sangat serius mendengarkan I Made bicara. Meeka belum pernah mendengar tentang Global warming.
“Kalau ‘gombal warming’ aku memang tidak pernah mendengar. Memang benar juga kalau ‘musim’ saat ini tidak begitu teratur, jadi rugi juga kalau kita berocock tanam di sawah,” komentar I Wayan Belog Megandong.
Mereka semua pada tertawa. Memang jika I Wayan yang bicara, maka omongannya sering menyimpang. Maklumlah dia lahir di bawah rerumpunan bamboo, maka bahasa yang dikenalnya pun bahasa memedi (roh halus). Makanya global warming menjadi gombal warming.
“Semakin lama bumi akan semakin panas, es di kutub mencair, sehingga membuat air laut semakin banyak, sehingga pulau-pulau kecil, seperti Bali akan tenggelam.”
Semua terkejut mendengarnya. Jika masalahnya hujan yang turun terus menerus, cucian yang tetap basah, rematik yang kumat, masih bisa dibikin guyonan. Tetapi jika msalahnya pulau Bali akan tenggelam, maka urusannya menjadi serius. Apalagi diantara mereka tidak ada yang bisa berenang.
“Wah, kita mesti larang penjual es nya beroperasi, supaya tidak ada es yang mencair, mulai dari es mambo, es teller, hingga es krim, jangan diberi lewat. Sehabis itu, kita serbu kutubnya, dan meminta pertanggungjawabannya karena telah membiarkan esnya mencair,” lanjut I Wayan emosi.
Mereka semua pada bengong. Mereka tidak bisa komentar apa-apa. Jangankan Kutub Utara atau Kutub Selatan, Kintamani saja mereka tidak tahu.
“yang menyebabkan global warming sebenarnya adalah polusi yang berasal dari kendaraan bermotor, polusi itulah yang menutup langit dan menghalangi panas di bumi, jadi bumi seperti dikukus rasanya.”
I Wayan diam saja. Dia masih bingung memikirkan bagaimana caranya bumi sampai ‘terkukus’, pasti seperti nagasari (sumping) dan jajan bantal jadinya.
“yang bisa menyerap polusi itu hanya tanam-tanaman, oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk menjaga hutan. Jija tidak memiliki hutan, maka halaman belakang masing-masing perlu juag dilestarikan.”
Mereka semua pada bengong. Baru kali ini ada orang yang menyerukan mereka agar menjaga kelestarian halaman belakang mereka. Biasanya mereka diminta untuk melestarikan agama, budaya, adat atau minimal sabungan ayam, basar (penggalian dana), leak dan layangan.
“Kamu serius? Aku kira halaman belakang hanya untuk melakukan hal-hal yang tidak boleh diketahui oleh orang lain,” tanya I Wayan. Yang dimaksudkan oleh I Wayan adalah hal-hal semacam buang air besar (BAB), membuang sampah, membuka celana (celana sendiri maupun celana pasangan), maupun mempraktekkan ilmu leak.
“Waduh, halaman belakang ku sudah habis aku kontrakkan sama bule nya, pohon-pohon sudah habis ditebang, isinya sekarang bungalow dan villa saja,” kata I Wayan lagi.
Mereka tertawa terkekeh-kekeh. Mereka tidak menyangka teba sangat penting.
“Aku kira aku tidak bisa ikut mengurangi gombal warning. Masalahnya ada hal yang lebih penting, masalah tidak punya uang,” begitu kata I Wayan.
Kalau memang uang tidak punya, tidak perlu menunggu dunia ini panas dulu, karena kepala rasanya sudah mendidih duluan. Jika kita tidak punya uang, tidka perlu mesti menunggu pulau ini tenggelam, karena hidup ini sudah seperti ‘tenggelam. Global Warming masih bisa dikalahkan oleh Global Crisis, krisis tidak punya uang.

=========================================

Backyard (Teba)
The older the earth, the more natural disasters happen.
“Global warming has caused many problems. The obvious one is extreme climate change. As we can see recently, it keeps raining heavily all the time in spite of dry season. It seems it never stop raining,” says I Made Aktivis Pesan Klengis (I Made An Amateur Activist).
Everyone nods. They listen to I Made very seriously. They’ve never heard about the global warming.
“I haven’t heard about global warming. But the climate seems unpredictable. Any crops you plant on the field will not do any good,” replies I Wayan Belog Megandong (I Wayan Stupid Idiot).
Everyone laughs. They all understand that I Wayan never talks seriously. He is less sociable so he doesn’t know how to talk properly.
The earth is getting hotter and hotter. The ice at Pole keeps melting, which makes sea water level higher and higher. In the long run, our small island Bali might sink.
Everyone looks surprised. They think that they still can make jokes of other problems; such as heavy pouring, your laundry which takes time to dry due to rainy or cloudy weather, rheumatism they suffer which get stronger during the rainy season, etc., but Bali sinks? This is a serious problem. In fact, they all can not swim.
“I think we should ban the ice vendors, no matter what of kind of ice they sell. After that, we go to North Pole and try to stop the ice from melting,” I Wayan comments further.
They have no comments. They have no idea where North Pole is, let alone South Pole. How come they know about them while they’ve never been to Kintamani?
“You know, global warming is mainly due to pollution from fuelled vehicles and machines. The carbon dioxide blocks the heat from the sun and prevents it go through to the earth. That’s why we feel like being ‘steamed’.”
I Wayan has no comment. He is confused as he keeps thinking how the earth will look like being kept ‘steamed’. Will it become something like a cake?
“Only plants can absorb the carbon dioxide. That’s why it’s important for us to preserve the forests. And you also have to preserve your own house backyard (teba).”
They can’t believe what they hear as this is the first time someone asks them to preserve their backyards. They are usually asked to preserve their religion, culture, traditions, cock-fighting, fund-raise (bazar), black magic (leak) and kites.
“Are you serious? Isn’t that our back yard just for doing things that others shouldn’t know, such as defecating, throwing rubbish, having sex or practising leak?” asks I Wayan.
‘Well, I’ve leased my backyard to westerners (bule). The trees are gone. Now what you can see are bungalows and villas,” says I Wayan further
Everyone laugh. Now they understand that back yard has important functions.
I think I can not join the movement in decreasing global warming. I think I have a more urgent problem; I’m broke,” says I Wayan.
When you are broke, you will have headache and you won’t really care if global warming has affected the earth; you won’t care if the island will sink either as your life is already hard. So ‘Global’ Warming seems less important than ‘Global Crisis’.