Rabu, 28 Juli 2010

Bungklang Bungkling: Raré

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Raré’, di harian Bali Post, Minggu, 25 Juli 2010,
oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada.


Raré

Sebenarnya, apakah kita diperbolehkan memperkerjakan anak-anak? Menyuruh anak bekerja? Menjadi buruh? Jika hal ini ditanyakan kepada Miss Kené Miss Keto, maka jawabannya adalah ‘No way’, 100 persen tidak boleh. Miss Kené Miss Keto adalah seorang turis yang sudah lama tinggal di Bali, dan sudah termasuk katagori ‘Bulé Aga’, bulé yang merasa lebih tahu dan lebih sayang terhadap Bali dari orang Bali sendiri. Sekarang banyak sekali turis yang menjadi ‘Bulé Aga’. Karena memang ‘cinta mati’ sama Bali, maka semua hal mau diurus mulai dari urusan perlindungan anjing, kucing, dan segenap binatang lainnya, hingga urusan anak-anak Bali.

“Sudah jelas sekali diatur dalam konvensi PBB, lembaga buruh dunia, kovensi perlindungan anak, UUD 45, Pancasila, Perda, aturan adat (awig-awig), hingga peraturan banjar (perareman), tidak diperkenankan mempekerjakan anak-anak, karena dianggap melanggar hokum dan hak asasi manusia,” kata Miss Kené Miss Keto.

Krama sekaa tuaknya manggut-manggut saja. Tidak ada yang berani membantahnya, karena (1) Miss Kené Miss Keto yang membayar tuak, arak, kacang, daging kukus (tum) dan juga sewa kursi untuk acara sosialisasi perlindungan anak; (2) Orang Bali memang tidak berani beragumentasi dengan orang bulé. Maklum mereka sudah terbiasa menjadi masyarakat Sapta Pesona-Pariwisata Budaya-Tamu adalah Raja. Apapun yang dikatakan turis, orang Bali hanya manggut-manggut saja. Dan apapun yang diminta oleh turis, orang Bali akan dengan senang hati memberinya, mulai dari sawah, tanah, gunung hingga danau. Jika turis merasa sungkan, maka justru orang Bali akan dengan senang hati menawarkan, mulai dari patung, sawah, tanah, gunung dan danau.

“Ini artinya bahwa masyarakat Bali harus berhenti menyuruh anaknya menjadi buruh, harus berhenti meminta anaknya untuk bekerja, biarkan anak-anak menikmati masa kecilnya, bermain dan belajar,” kata Miss Kené Miss Keto lagi.

Krama sekaa tuak hanya manggut-manggut saja. Hingga acara sosialisasi selesai, tidak ada yang berani bertanya, semuanya sibuk bertepuk tangan dan juga memuji-muji Miss Kené Miss Keto. Tetapi sesudah dia pergi, maka semuanya mulai bisik-bisik. Ini memang ciri khas orang Bali, tidak berani beragumentasi langsung, tapi lebih senang berbicara di belakang, setelah itu mereka tidak saling berbicara, kemudian mereka akan mencari dukun dan guna-guna untuk digunakan saling membunuh.

“Sialan, kalau aku sampai berhenti menyuruh I Putu Unyil menjaga warung, lalu siapa aku suruh menjaga warung pagi harinya? Aku sibuk bekerja di sawah, ibunya I Putu sibuk mencari makanan untuk babi. Kakek dan neneknya I Putu, terkena rematik kronis,” kata I Made Lacur Babak Belur.

Krama sekaa tuak manggut-manggut mendengarnya. Di Bali memang seperti itu respon pada umumnya, jika ada saudara yang menceritakan masalahnya, semuanya akan manggut-manggut saja, namun tidak ada yang menawarkan solusi, apalagi bantuan.

“Lagi pula aku tidak merampok masa kanak-kanak anakku, dia masih bisa bermain dengan teman-temannya pada sore harinya dan belajar gamelan pada malam harinya. Lagipula dia memang masuk siang di sekolahnya,” kata I Made memberi argumentasi, dia tidak mau dituduh sebagai orang tua yang menginjak-injak hak asasi anaknya. Yang lainnya manggut-manggut mendengarnya.

“Apalagi aku tidak pernah memberi I Putu gaji, artinya aku memang tidak memperkerjakan dia menjadi pegawai. Statusnya dia adalah anak yang membantu orang tuanya untuk menjaga warung.” Sekarang baru krama yang lainnya terkekeh-kekeh.

‘Jangan terlalu panik, , budaya turis tidak sama dengan budaya kita. Tidak ada krama yang menuduh kamu sebagai penindas hak asasi anak-anak. Dalam budaya kita, memang sejak kecil anak-anak kita ajarkan bekerja, supaya tidak manja, supaya nanti kalau sudah besar tidak menyusahkan orang lain. Yang penting sekolahnya tetap, dan memberi mereka kesempatan bermain,” I Pekak Pocol Ongol-Ongol memberi nasehat.

=====================================

Children (Raré)
According to Miss No Kené No Keto (Miss Don’t Do This Don’t Do That), employing children as workers or labours is totally forbidden. “No way,” she says. Miss No Kené No Keto is a tourist who has been living in Bali for years.
She has been considered as Bulé Aga*, that is a westerner who thinks that he or she knows more about Bali than the Balinese do. Today, many tourists have become Bulé Aga. As they love Bali very much they think that they deserve to deal with all the problems in Bali, from protection of puppies, cats and other animals, to children protection in Bali.
“It is obviously indicated in the UN charters, ILO’s, Children Protection Convention, Indonesian 1945 Constitution, Pancasila (the Five Principles), the local regulations, traditional laws as well that employing children are against human rights,” she adds.
Nobody dares to argue with her, because (1) she provides them with rice wine (arak), peanuts, steamed pork (tum) and rental chairs for the children protection workshop, (2) Balinese don’t dare to argue with tourists. Balinese promote Cultural Tourism where tourists are king. Whatever the tourists say, the Balinese will nod. Whatever the tourists ask for, the Balinese will always try to provide them with, from ‘rice field’, ‘land’, mountain, to ‘lake’. When the tourists don’t ask for anything, the Balinese approach them, and offer something.
“So, you Balinese should stop asking your children to help you working or to be labourers. Let them enjoy their childhood, play and study with their friends,” says Miss No Kené No Keto.
Everyone nods. There has been no question. They give applause when the workshop finishes and compliment her accordingly. But once she’s gone, they talk to one another. That’s typical Balinese behaviour; they don’t dare to argue but prefer talking behind someone’s back instead. After that hatred usually spreads among them. Eventually, they will have a falling out, then finally find powerful healers and ask them to send black magic to hurt each other.
“Oh My God, if I ask my son to stop my other son I Putu Unyil (Tiny Putu) to help me look after my warung in the morning, who else will help then? You know, I’m always busy in the fields, my wife must feed the pigs, and our grandparents have been suffering rheumatic,” says I Made Lacur Babak Belur (I Made Poor and Down Trodden).
His friends just nod. In Bali, it is common that when one tells one’s friends about problems, they will just nod but do not give any solution, let alone help.
“I don’t think it will ruin his childhood: He still can play with his friends and he still can practice gamelan in the evening. He goes to school in the afternoon,” says I Made. He doesn’t like people accuse him of being a father who ruins his son’s childhood.
They nod again.
“I know I don’t pay him, but I don’t feel like employing him: He is my son, and I think it is still okay for me to ask him for help to look after the warung in the morning.”
Having heard this, everyone laughs.
“Don’t panic, Made, our culture is not the same as theirs. Nobody will accuse you of employing your children.
In our culture, we teach our children the values of hard-working so that they will not be ‘spoiled’ and can be ‘strong’ when they are grown up. The most important thing is that you send him to school and let him play with his friends,” saya I Pekak Pocol Ongol-Ongol (I Pekak Nod-off).