Jumat, 09 Juli 2010

Bungklang Bungkling: Vegetarian Kejep-Kejep

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Vegetarian Kejep-Kejep’, di harian Bali Post, Minggu, 4 Juli 2010, oleh I Wayan Juniartha’ Diterjemahkan oleh Putu Semiada.




Vegetarian Temporer (Vegetarian Kejep-Kejep).
Sekaa tuak pada heran melihat tingkahnya I Made Tahu Tempe sore itu. Apapun yang ditawarkan oleh teman-temannya, apakah itu tuak, brengkes, dia hanya mengeleng-gelengkan kepala. Tidak seperti biasanya dia seperti itu. Biasanya belum ditawarkan dia sudah langsung mengambil apa saja yang tergelatak di meja, mulai dari krupuk daging sampai rokok temannya.
“Apakah kamu sakit De? Kenapa kamu tampak pucat sekali?” tanya ketua sekaa tuak, I Wayan Alkohol Metanol.
I Wayan merasa khawatir, sekarang jamannya orang sakit di mana-mana, rabies, demam berdarah, HIV/AIDS sedang meraja lela. Dahulu orang Bali meninggal paling gara-gara leak, tapi sekarang banyak sekali jenis penyakit penyebab kematian.
I Made geleng-geleng kepala saja. Tetatpi tiba-tiba dia berbicara dengan keras sekali, seperi hendak memberi pengumuman.
“Aku sekarang vegetarian.”
Giliran teman-temannya yang geleng-geleng kepala, tidak mengerti apa vegetarian itu. Maklum saja, mereka hidup di desa, jadi istilah-istilah yang diketahui mereka hanya Ariel, Luna Maya, Cut Tari dan Waka waka Samina mina.
“Vegetarian itu artinya tidak makan daging, tidak makan makanan yang berasal dari hewan,” kata I Made memberi penjelasan.
Sekaa tuak merasa terkejut semuanya. Mereka heran, oang yang biasanya selalu menetes air liurnya kalau melihat babi guling sekarang menjadi vegetarian. Perubahan yang sangat dahsyat.
“Wah, kamu pasti ikut aliran-aliran yang dari India itu, ya De? Kamu kira kalau tidak makan daging, artinya sudah spiritual?” komentar I Putu India Nehi Nehi.
I Putu memang anti sekali dengan segala sesuatu yang berbau India. Maklumlah dahulu dia pernah dikibuli oleh orang India yang mengaku menjadi guru yoga. Duitnya habis, istrinya sempat digerayangi. Begitulah pengalaman I Putu. Semenjak itu kemana-mana dia selalu mengumandangkan semboyan: dari pada ditipu oleh maharesi dari India, lebih baik ditipu oleh pedanda dari Bali.”
“Saat kamu bernafas saja, banyak sekali membunuh bakteri yang tidak berdosa, kamu berjalan, tidak terhitung jumlah semut yang mati. Kamu berhenti makan makanan dari hewan tetapi kamu membuat makanan vegetarian yang rasanya seperti sate kambing, bistik dan lain sebagainya. Berati kamu masih punya nafsu terhadap daging. Apanya yang spiritual?” komentar I Putu.
I Made geleng-geleng kepala dengan santainya. “Aku tidak ikut aliran yang aneh-aneh, Tu. Jangankan ikut aliran yang aneh-aneh, mau jadi anggota koperasi saja aku tidak ada yang menerima.”
Sekaa tuaknya tertawa terkekeh-kekeh.
“Artinya kamu vegetarian karena alasan kesehatan? Supaya tidak kena kolesterol tinggi? Supaya tidak terkena stroke? Supaya panjang umurmu?” sekarang giliran I Wayan yang bertanya.
I Made hanya geleng-geleng kepala saja. “Sebagai orang Bali sejati, lebih baik aku hidup sebentar saja, lebih baik mati dimakan kolesterol, asam urat, dan kena stroke dari pada hiudp lama tapi tidak boleh makan kulit babi guling, be genyol (daging lemak), lawar nyawan (sayur lebah), bebek betutu, sate penyu, oret (sejenis sosis) dan urutan (sejenis sosis).
Mereka semua tepuk tangan. Semua kagum dengan I Made. Ia memang patriotik, karena berani mengorbankan dirinya demi melestarikan warisan leluhur, segala makanan yang berisi lemak, darah dan gorengan.
“Lagi pula tidak ada manusia Bali yang umurnya panjang. Sekalipun sudah menjadi vegetarian, umurnya pasti tidak lewat dari 60 tahun. Jika bukan karena leak maka meninggalnya diakibatkan oleh karena diracun sama saudara sendiri yang mengincar warisan. Kalau tidak, paling mati karena kelelahan akibat begadang terus-terusan ngayah (menyiapkan upacara) di pura.
Mereka manggut-manggut saja. Lalu kenapa I Made menjadi vegetarian?
“Aku menjadi vegetarian bukan karena alasan spiritual maupun kesehatan.
Mereka semua menunggu jawaban I Made.
“Aku menjadi vegetarian karena Piala Dunia,” katanya.
Ternyata I Made menjagokan Itali dan dia kalah dua juta. Akibatnya dia tidak bisa membeli beras maupun lauk. Perutnya lapar, kantongnya boleng, serta diusir sama istrinya. Akibatnya dia terlunta-lunta di warung.
“Banyak sekali saudar-saudara kita yang vegetarian karena alasan ekonomi. Tidak makan daging bukan karena pilihan tetapi karena keterpaksaan,” kata I Made memberi keterangan.
Karena terharu, semua teman-temannya merogoh kantongnya dan memberi I Made uang. Akibatnya, setelah satu hari I Made sudah tidak vegetarian lagi. Belum muncul bulannya di langit, dia sudah makan brengkes, krupuk daging, pepes belut, dengan lahapnya dan menenggak tuak.

============================================


Temporary Vegetarian (Vegetarian Kejep-Kejep)
Everyone is surprised with I Made Tahu Tempe (I Made Tofu and Soy Bean Curd)’s behaviour. He just shakes his head when he is offered tuak and brengkes (steamed pork wrapped in banana leaf). He usually just grabs anything available in the warung, from crackers to his friends’ cigarettes.
‘Are you ok, ? Why do you look so tired?” asks I Wayan Alkohol Metanol (I Wayan Bootleg).
I Wayan is a bit worried due to the epidemic of some diseases, such as Rabies, Dengue, and HIV/AIDS which means that there are many ways to die. In fact, in old times, most Balinese died due to black magic.
I Made shakes his head. Suddenly he speaks, very loudly.
“I’m a vegetarian now.”
Now it’s his friends who shake their heads. They don’t understand what a vegetarian is. They are villagers, so the words familiar with them are ‘Ariel, Luna Maya, Cut Tari and Waka waka Samina mina.’
“Vegetarian is one who doesn’t eat meat,” says I Made.
They are all very surprised. They know that I Made likes meat very much, especially suckling pig (be guling) but now he is a vegetarian. What a big change, they think.
“You must join one of sects from India. But you know, by joining a sect, it doesn’t guarantee one to be spiritual,” says I Putu India Nehi-Nehi (I Putu Say No to Anything Indian).
I Putu hates anything Indian. He once had a bad experience with an Indian who claimed himself as yoga guru. What happened to him was that he was cheated — his money was gone and his wife was seduced by the Indian. Since then, he always tells his friends that “never trust Maha Rsi from India, but trust local priest instead.
“You know, when you just take a breath, it kills ‘innocent’ bacteria. When you walk, you ‘kill’ a lot of ants. You stop eating meat but you make food that looks like and tastes like lamb satay, beefsteak, etc. Doesn’t it mean that you still think of meat. Do you think it is spiritual?”
I Made shakes his head. “I don’t follow any strange sect. How come I join a sect when nobody trusts me to be a ‘cooperative’ member?”
“So, it is health reason behind all this? Are you afraid of too much cholesterol in your body or afraid of getting stroke? You do want to live longer, don’t you?” asks I Wayan.
I Made just shakes his head. “As a real Balinese, I don’t want to live long, I’d better die soon because of having too much cholesterol than living longer without eating pork crackling (kulit guling), pork fat soup (be genyol), Balinese vegetable with bee (lawar nyawan), smoked duck (bebek betutu), sausage (oret, urutan).”
Everyone claps their hands. Everyone is proud of I Made. He dares to sacrifice himself to maintain the tradition, including food that contains fat, blood and fried food.
“You know, most Balinese don’t live long. Whether he is a vegetarian, they live for 60 years maximum. There are some ways of how they die such as, through black magic, poisoned by greedy brothers who want to share ‘inheritance’ from their parents. Otherwise, they get stroke, or being too tired and not much sleep because of ‘ngayah’ (preparing offerings in temples).”
“So what makes you to be a vegetarian?”
“I become a vegetarian not because of spiritual reason nor health.”
“I become vegetarian because of the World Cup.”
The fact is that I Made bets on Italy. He lost Rp. 2 million. He even can not afford to buy rice and meat. He’s been starved, no money at all, and his wife expels him from their house. That’s why he is at the warung now.
“Many of our brothers become vegetarian because of economic reason: they don’t eat meat because they cannot afford to buy it. So they become vegetarian not by choice,” says I Made.
Everyone agrees with I Made. Finally, each of them gives him some money which means that he is no longer a vegetarian. He then starts to grab the steamed pork (brengkes), meat crackers (krupuk be), steamed chopped eel (pesan lindung) and palm toddy available in the warung.