Rabu, 18 Agustus 2010

Bungklang Bungkling: FPH oleh Wayan Juniartha.

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘FPH’, di harian Bali Post, Minggu, 15 Agustus 2010, oleh I Wayan Juniartha’ Diterjemahkan oleh Putu Semiada.



FPH

Krama seka tuak merasa berdebar-debar. Tiba-tiba saja ada salah seorang anggotanya yang ingin presentasi di warung tuak.

“Selama ini aku sudah sering kehabisan modal gara-gara mendengarkan presentasi,” kata I Made Ondo Moyo.

Dua hari yang lalu I Madé tidak bisa mengelak ketika ada salah seorang saudaranya yang presentasi MLM (Mesatua Lantas Morotin = Berbicara dahulu sebelum memoroti). Akibatnya, banyak sekali dia dibawakan barang oleh saudarnya, mulai dari pewarna bibir (enci), pewarna mata (cilak), parfum hingga obat yang sangat mujarab hingga mengalahkan juuk linglang (jeruk sakti yang dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit), obat tersebut katanya bisa menyembuhkan segala penyakit mulai dari panu hingga AIDS. Akhirnya melayanglah anak sapinya I Made yang digunakan untuk membayar barang-barang tersebut.

“Sialan kamu De, kamu kira aku akan memoroti kamu,” tiba-tiba saja I Wayan Laskar Cinta muncul.

I Made langsung diam. Maklum saja, I Wayan adalah kepala preman, semua organisasi laskar sudah pernah diikuti. Dia sudah pernah membunuh orang sebanyak lima orang, leak dua ekor dan tidak terhitung babi dan bebek. Katanya.

Tanpa basa basi maupun salam, I Wayan langsung presentasi. Menurut dia, sudah saatnya dibentuk FPH (Front Pembela Hindu), organisasi masa yang akan memperjuangkan keberadaan agama Hindu Bali.

Banyak sekali manfaat dengan pembentukan organisasi tersebut.

“Pertama, nantinya bisa mengangkat harkat dan martabat para preman lokal. Lihat saja FPI (Front Pamineh Ibane dogen = Front yang maunya menang sendiri). Sekalipun mereka suka melakukan kekerasan, menyerbu tempat bilyar dan tempat para banci, tetapi pada saat ulang tahun mereka, gubernur hingga kapolda datang bertamu.”

Yang kedua, ada sumber keuangan yang berkelanjutan bagi para preman dan calon preman.

“Saat ini para preman masih bergantung pada partai politik, tokoh politik, cukong dan investor, jika partai politik itu kalah, cukongnya bangkrut, maka hilang juga sumber penghasilannya.”

Agama tidak mungkin bangkrut. Apalagi agama Hindu Bali memang kaya raya. Sekrisis apapun keadaan ekonomi, mereka masih bisa merenovasi pura, betatapun mereka tidak punya uang, tetap masih bisa melaksanakan upacara (karya) yang bisa mneghabiskan uang sampai milyaran. Orang Bali banyak yang miskin, tetapi dalam hal urusan agama, mereka tidak pernah tanggung-tanggung.

Jika saja organisasi masa ataupun preman nebeng di agama, jelas tidak akan pernah kekurangan uang.

“Jika martabat preman sudah meningkat, jika sumber rejeki sudah jelas, tentu akan lebih gampang mendidik preman supaya berhenti memukul orang, supaya lebih elegan ketika menyerbu kafe, dan lebih sopan ketika mengambil hak milik orang lain.

Sinergi antara preman dan agama akan melahirkan kelompok preman yang beriman dan aliran agama yang preman.

“JIka sudah terbentuk FPH, jelas agama kita akan semakin mantap dan kuat. Keamanan sesuunan tentu akan lebih terjamin.

JIka ada yang macam-macam menjelek-jelekkan agama Hindu, langsung kita hajar. Jika ada yang sembarangan ‘bermain-main’ dengan patung atau simbu-simbul suci lainnya, langsung saja kita serbu rumahnya, jika ada yang malas ngayah (bekerja untuk kegiatan agama/adat), langsung saja kita pukul kepalanya.

“Jika ada umat yang ke pura tidak memakai putih-kuning, langsung kita cegah. Jika mereka tidak bisa melantunkan puja trisandhya (mantra sembahyan umat Hindu) dengan baik, langsung kita hajar, jika ada wisatawan asing yang tengak-tengok langsung kita usir.

JIka seperti itu, agama Hindu Bali akan semakin mantap, membuat orang takut dan terheran-heran.

“JIka masih ada yang tidak hormat sama kita, kita bom saja wilayahnya. Yang penting kita pernah pernah mengebom daerah orang, supaya bukan daerah kita saja yang dibom.”

Semakin berdebar-debar saja jantung krama sekaa tuaknya. Jika FPH sampai terbentuk, tentu saja yang pertama kali menjadi sasaran adalah krama Bali sendiri, mulai dari sekaa tuak yang malas ngayah, hingga penjual patung di Gianyar yang menaruh patung dewa-dewa di pinggir jalan.

“Lalu jika kamu memang ingin membentuk FPH, lalu kepentingan kamu presentasi di sini apa?” Tanya I Made.

“Aku perlu dukungan. Tidak bisa kalau hanya preman saja yang membentuknya. Mesti ada dukungan dari dari tokoh masyarakat dan umat yang menjadi pemikir dan pelindung. Jika ada tokoh umat Hindu yang pemberani seperti tokoh FPI Saib Brisik Lan Aduk Lawar Kanti Pasil, tentu FPH akan segera bisa terbentuk.”

Barulah krama sekaa tuaknya senyum-senyum sekarang. Hampir sebagian besar dari mereka tahu, meskipun banyak penua (pelingsir) Bali yang culas, namun belum ada yang sampai menjadi preman, dan belum ada yang ingin menjadikan agama Hindu sebagai agama preman.

=========================================

Hindu Vigilantes Front (FPH)
All the palm toddy members are nervous as one of their members asks for a permission to do a presentation.
“I often run out of money having heard a presentation,” says I MadéOndo Moyo (I Made Stupid Look).
Two days ago, a relative of him did a MLM presentation (Mesatua Lantas Morotin = Approach and then Take All). After the presentation he spent a lot of his money buying many kind of products from lipstick, eye-shadow, perfume to medicine which was believed to be able to cure any kinds of diseases, from skin fungus to AIDS. He had to sell his cow to pay the products.
“Damn you, why do you think I will take your money,” suddenly I Wayan Laskar Cinta (I Wayan of Love Force) comes up.
I Madé says nothing. He knows that I Wayan is a vigilance man. He has joined many vigilance organizations. He even has killed some men, countless ‘pigs’ and ‘ducks’. That’s what is said.
Without greeting and introduction, I Wayan starts his presentation. According to him, it’s time for them to form FPH (Hindu Vigilantes Front), an organization which will look after the Balinese Hindu followers.
He says that a lot of advantages can be obtain.
“Firstly, it will make the local vigilantes have better positions. Look at what the FPI (Front Pemineh Pedidi dogen = Front of Arrogant Vigilantes). No matter how they usually beat innocent people, damage billiard centers and once dismissed gay and lesbian conferences, when they celebrated their birthday, the governor and the chief commander of police joined the celebration.”
“Secondly, There, for sure, will be sustainable financial resources for the vigilantes and vigilante cadres.
“At the moment their financial resources are political parties, political leaders, brokers and investors. If the political party lose, their financial resource will be disappeared too.
Religion will never go bankrupt. Let alone the Balinese Hindu. No matter how bad the economic situation is, the Balinese are still be able to renovate their temples or do ceremonies which often cost billions of Rupiahs. A lot of Balinese are indeed poor, but when it comes to a religious matter, they never think twice in spending money and a bit ‘show off’.
So when a mass organization attached themselves to a religion, they will be always have financial resources.
“When the vigilantes’ status is better, when their financial resources are fixed, it will be much easier for us to instruct them to stop beating innocent people, and they will look more ‘elegance’ when damaging one’s place (café, etc.), or can do in nice way when taking one’s belonging.
It seems that a combination between vigilantes and religion will create ‘religious vigilantes’ and a ‘violence religion’.
“So,when we have the FPH, our religion will be strong and the ‘safety’ of our ‘gods’ will be guaranteed.”
“Anyone dares to insult our Balinese Hindu religion, we will beat them up. Anyone dares to play with our sacred statues or symbols, we will destroy their houses, and anyone be lazy ngayah, we will also beat them up.”
“We will stop anyone who does not wear white and yellow dresses when entering and praying at temples, and we have to punish anyone who can not spell tri sandhya (Hindu prayer) correctly. We will also forbid any impolite tourist entering a temple.”
“The Balinese Hindu therefore will become a strong religion and make others ‘nervous’ and respect us.
If they still disrespect us, we can just bomb their place. So far, our island has always become their bomb target?? Why isn’t vice versa?
Everyone thinks that if FPH is established, so the first victims will be the Balinese themselves, from the lazy palm toddy members to the statue vendors in Gianyar who just lay the statues by the streets.
“What is really your agenda with the establishment of FPH?” ask I Madé.
“I need your support. The vigilantes alone can not make it. We need support from community leaders and Hindu followers to be our thinkers and patrons. If we get the supports from our leaders, like the FPI’s Saib Brisik lan Aduk Lawar Kanti Pasil (refer to FPI’s leaders Habieb Rizieq and Abu Bakar Ba’asyir), we will be soon formed.”
Now everyone smiles. They all know that no matter how hypocrite the Balinese Hindu elders, but so far no one want to be ‘vigilante’, nor change Balinese Hindu to be a ‘violence religion’.