Senin, 09 Agustus 2010

Bungklang Bungkling: Nak Lingsir (Orang Tua)

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Nak Lingsir, di harian Bali Post, Minggu, 1 Agustus 2010, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada.


(Orang Tua) Nak Lingsir
Mengapa sulinggih (orang suci) sering dipanggil nak lingsir (orang tua)?
Karena kebanyakan sulinggih memang sudah tua. Kalau tidak tua (cukup berumur) maka akan sulit menjadi seorang sulinggih,” kata I Made Sok Tahu.
Teman-temannya hanya menggeleng-geleng saja. Mereka tahu kalau I Made memang sering terlalu cepat mengambil keputusan.
“Wah, kalau tidak percaya, coba kamu pikir, apakah ada teman kita yang berumur 30 – 40 tahun yang bisa menjadi sulinggih?
Mereka semua sibuk berfikir. Bali sudah mengalami jaman demokrasi, siapa saya mempunyai hak untuk menjadi sulinggih. Sekarang orang dari kasta bawah saja sudah bisa menjadi gubernur, dan orang yang umurnya masih muda bisa mendapatkan gelar doktor sekaligus raja yang bergelar Shri Shri Srandang Srendeng Amor Ring Acintya Tegehan Munyi Kema Mai I. Jadi sepertinya semua orang Bali bisa menjadi sulinggih.
“Waduh, kalau aku rasanya tidak mungkin menjadi sulinggih. Aku masih mempunyai sikap serakah dan juga nafsu birahi yang tinggi. Aku juga sering selingkuh. Jika aku menjadi sulinggih, pasti aku akan sering salah mengucapkan mantra karena aku sering salah tingkah kalau melihat gadis-gadis yang memakai kebaya yang tembus pandang, dandanannya dashyat serta pantatnya yang sedikit nungging karena memakai sepatu dengan hak tinggi ke pura,” kata I Wayan Ngaceng Sesai.
“Aku juga sepertinya tidak bisa menjadi sulinggih. Anakku ada empat orang yang masih sekolah, jadi masih banyak keperluan, ada yang perlu laptop, ada yang perlu Honda vario. Jika aku menjadi sulinggih, aku tidak akan sempat mendoakan kedamaian dunia, kepala masih pusing memikirkan utang dan kredit. Jika aku menjadi sulinggih maka aku akan sibuk menjual sesaji dan mengusulkan karya (upacara) yang bukan-bukan supaya aku banyak mendapat setoran,” I Putu Ambisi Korupsi menyela.
Teman-temannya hanya tertawa saja. Semua membayangkan I Wayan dan I Putu memakai baju putih-putih tapi sifatnya masih buruk. I Wayan masih senang melirik gadis-gadis seksi, I Putu tengak tengok mengintip sesari (uang yang ditaruh pada sesaji).
“Jika menjadi sulinggih, artinya sudah diangap meraga putus, artinya bahwa tidak ada lagi urusannya dengan hal-hal yang bersifat duniawi. Jika seperti itu aku siap menjadi sulinggih. Kapan ada hari baik untuk penobatanku menjadi sulinggih?” tanya I Komang Bobag Bogbog.
Mereka tertawa semakin keras saja. Mereka semua tahu kalau I Komang sedang terkena kasus, dia melarikan uang koperasinya sebesar Rp. 200 juta. Jelas dia mau menjadi sulinggih agar terlepas dari jerat hukum.
“Itu artinya apa yang aku sampaikan barusan benar adanya. Memang sulit menjadi suliggih jika hidup masih belum lengkap, belum rata. Jika belum menjadi manusia yang utuh, belum bisa menerima keadaan hidup dan mati, senang dan sedih, tetapi tetap memaksakan diri menjadi sulinggih, maka pasti akan menjadi Pedanda Baka (sulinggih yang jahat),” demikian kesimpulan I Ketut.
Sekarang sudah menjadi jelas definisi nak lingsir tersebut. Meskipun umurnya sudah tua, meskipun sudah diupacarai (medwijati), tetapi jika masih senang melihat longtorso merah muda, masih gelisah jika melihat gadis seksi, dan menetes airliurnya jika melihat mobil mewah, dan masih menginginkan tanah yang luas dan deposito yang bertumpuk, jelas belum layak menjadi nak lingsir.
Nak lingsir, mestinya tidak tergiur lagi dengan mobil mewah, perempuan, tanah, apalagi sesari maupun pejati, namun beliau justru merasa sedih melihat keadaan dunia saat ini. Bukan kekayaan, keagungan dan kesaktian yang diinginkan, melainkan kedamaian dunia dan berkah dari Tuhan.
Seperti itulah nak lingsir sejati, skala dan niskala. Yang seperti itulah yang perlu kita junjung, dengarkan, tiru sebisa-bisanya. Yang lain hanya nak lingsir palsu.

======================================

Old Man (Nak Lingsir)

There has been a question as to why we call a sulinggih (high priest) an ‘nak lingsir’ (old man)?

“Well, it is because most of the sulinggih are already old. When you are not old enough, it is not quiet possible for you to be a sulinggih,” says I Made Sok Tahu (I Made As If He Knew Everything).

Everyone shakes their heads. They know that I Made is always too fast to jump to a conclusion.
“If you don’t believe me, just look around you: Is there any of you around 30 – 40 years old who can be a sulinggih?”

Everyone thinks. It’s democracy era. Everyone has the same right to be a sulinggih. As you can see, a sudra can be a governor now. And a young Balinese even can achieve a doctor degree and become a king at the same time: his name is Shri Shri Srandang Srendeng Amor Ring Acintya Tegehan Munyi Kema Mai I. So any Balinese can become a sulinggih.

“But not for me, . I still can’t control my sexual desires which makes me often have love affairs, and I’m still such a greedy person. If I were a sulinggih, I would often make mistakes in spelling the mantras and I couldn’t keep my eyes off girls wearing transparent kebayas with striking make up and big bums, says I Wayan Ngaceng Sesai (I Wayan Always Hard).

“I can’t either. I still have to finance my 4 children for their school. I need to provide them with things they need. One of them needs a laptop and one needs a Vario motor bike. If I were a sulinggih, I wouldn’t have a chance to pray for human being’s better life. I still need to work hard to pay my debts and bills. So how can I make my followers (sisia) live peacefully? Even if I were a priest, I would just be busy selling offerings (banten) and proposing unnecessary big ceremonies (karya) for my own advantage,” says I Putu Ambisi Korupsi (I Putu with Ambition to be Corrupt).

Everyone laughs at I Wayan and I Putu who dream of being sulinggih, wearing all white but they realize that they themselves are still far from that ambition. I Wayan likes flirting while I Putu likes stealing sesari (money put in the offering during the festival temple).

“When you have become a sulinggih, you should never think of worldly things. I think I’m ready for that. I think I’m ready to be a sulinggih. When is the good day for me for my coronation ceremony (melinggih)?” Asks I Komang Bobag Bogbog (I Komang Full of Bullshit).

Everyone can’t help laughing. Everyone knows that I Komang is in trouble. He stole the village cooperative’s money (Rp. 200 million). He thinks that by becoming a sulinggih, he will escape legal action.

“So I think I was right about what I said before. Being a sulinggih is not easy; especially when you still have strong worldly desires, or do not understand well the meaning of life or the dualism concept ― life and death, happy and sad. If you insist, you will become a Pedanda Baka (a bad priest), then you don’t deserve to be a sulinggih,” said I Made.

So the term ‘nak lingsir’ is quite clear now; no matter how old you are and even if you have had a coronation ceremony, if you get ‘nervous’ when seeing a girl wearing a pink longtorso or can’t control your sexual desire when seeing a sexy girl; or you still have strong material desire for luxury cars, or still want to have a big plot of land and big savings in the bank, then you don’t deserve it.”

A real nak lingsir is no longer interested in luxury cars, beautiful girls, officiating fees (sesari). It is the current situation that becomes their concern and makes them gloomy. It is not the wealth, popularity, nor magical power they want, but a peaceful and harmonious world and blessings from ancestors instead.

That’s a kind of real nak lingsir, in the skala or niskala (in the seen and the unseen worlds) that we can respect and listen to, and follow as much as we can. The rest are the fake ones.