Kamis, 12 Agustus 2010

Bungklang Bungkling: SIAT

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Siat’, di harian Bali Post, Minggu, 8 Agustus 2010, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada.


Siat (Berkelahi)

Jika ingin dianggap sebagai orang yang jantan, maka kita harus berani berkelahi.
Seperti itulah teorinya I Made Bangras Brangti.
Jika tidak berani berkelahi, maka akan dianggap pengecut, dan dianggap tidak akan pernah menjadi laki-laki,” begitu katanya.
Semuanya seperti berlomba-lomba manggut-manggut. Tidak ada yang berani menggeleng-gelengkan kepala. Mereka semua sudah pada tahu, I Madé adalah preman sejati, yang menjadi kebanggaan negeri ini. Jika berani menggeleng-gelengkan kepala, maka bisa-bisa lehernya akan diplintir sehingga tidak bisa lagi menggeleng.
Dari kecil I Madé sudah membangun karir profesional sebagai preman.
Sewaktu SD, teman-temannya ditodong, saat ini yang menjadi sasarannya adalah pengusaha dan pejabat yang dimintai uang keamanan. Jika tidak ada uang maka jelas tidak akan aman, begitu pengertian uang keamanan menurut kamusnya I Madé.
I Madé sebenarnya tidak pernah ke warung tuak. Pergaulannya sekarang adalah di pub dan bar, minumannya pun sekelas Jack Daniels dan Johny Walker, dia sudah tidak pernah menyentuh arak lagi.
“Kamu tidak percaya? Coba perhatikan di desa-desa kita zaman dahulu, jika mau menginjak dewasa, pasti ada upacaranya yang berisi saling unjuk kekuatan, saling menepuk dada, jika tidak berani maka kita akan dianggap anak-anak dan pengecut.”
Mereka mengangguk-angguk makin keras. Sehabis mengangguk-angguk, mereka mengatakan “percaya’, percaya”. Nafasnya I Made bau tuak, kalau orang mabuk seperti ini dibantah, maka bisa fatal akibatnya.
“Sepertinya karena itu pula kita orang-orang kita senang berkelahi, suka mengukur orang dari besar lengannya dan berani berkelahinya. Semenjak kecil kita tidak pernah ada yang mengajarkan cara berdialog yang benar, bahkan sampai tuapun sama.”
Begitu kita masuk SMA, kita sudah menjadi bulan bulanan kakak kelas. Sebelum dihajar dianggap belum menjadi murid. Setelah kita menjadi mahasiswa baru, kita juga dihajar oleh senior. Setelah dihajar baru dianggap menjadi warga intelektual.
“Begitu kelompok preman saling hajar, semuanya menjadi heboh. Semua merasa bahwa Bali tidak aman. Coba perhatikan, bukannya orang Bali sudah suka berkelahi sejak dahulu?”
Ada juga yang berkelahi memakai kris (klewang); antara satu banjar dengan banjar lainnya menyangkut masalah tanah sampai urusan ogoh-ogoh; banjar melawan anggotanya sendiri masalah mayat, saudara dengan saudaranya sendiri menyangkut warisan dan perselingkuhan.
Ada juga yang ‘berkelahi’ dengan mulut. Gubernur melawan DPRD, bupati melawan KPU, sopir taksi melawan gubernur.
“Pokoknya tidak ada yang bisa berdialog, sekarang yang namanya dialog, isinya cuma saling bentak, saling teriak, saling umpat, tidak ada yang mau mendengar, akibatnya mereka saling lempar, dan minimal saling tidak berbicara.”
Mereka manggut-manggut tanda mengerti, bukan karena takut atau tidak mengerti.
“Semestinya sejak kecil anak-anak kita diajarkan berdialog. Beranjak dewasa mesti dilihat dari kepintaran mendengar dan berdialog, bukan karena kemampuan menghajar temannya.”
Semua bertepuk tangan. Memang benar apa yang diucapkan oleh I Madé.
Kok tumben Bli datang ke warung tuak, dan langsung berbicara seperti Krisna, kata-kata Bli memang bagus dan benar sekali. Kalau aku boleh bertanya, kenapa Bli di warung tuak ngomong seperti itu,” tanya I Ketut Lemes Lamis.
Mata I Madé mendelik, kumis dan bulu hidungnya berdiri. Mungkin kalau rambutnya masih, pasti rambutnya juga akan berdiri.
“Kamu memang bodoh, Tut. Kalau di pub atau bar aku ngomong seperti ini, jelas aku sudah babak belur, dikroyok sama pasukan preman.”
Mereka mangut-manggut. Sekarang mereka sadar, warung tuak hanya dijadikan tempat curhat oleh I Madé. Sehabis curhat, dia akan langsung kabur ngebut dengan Harleynya, sambil memamerkan lengannya yang besar dan kantongnya yang tebal. 

===================================

Fight (Siat)

I Made Brangas Brangti (I Made Bad Temper) says that when you want to be a man, you must dare to ‘fight’.
“If you don’t, you will be called a ‘coward’ and you will never to be a man.”
Everybody nods. Nobody dares to shake their heads to show disagreement. Everyone knows that I Made is a well-known street guy (preman). If they disagree, there is a possibility that I Made will hurt them.
I Made has been on the street since he was a child.
When he was in elementary school, he often asked his school-friends for money. Now he collects uang keamanan (money given by certain parties, especially businessmen, to street guys for safety purpose). If one doesn’t give them money, he/she will be in trouble. That’s what uang kemanan is all about.
I Madé has never been to the warung for quite some time. He spends his time mostly in pubs and bars and he drinks Jack Daniels and Johny Walker. He doesn’t drink rice wine (arak) or palm toddy (tuak) anymore. He says that it’s not his taste.
“You don’t buy what I say, do you? Look at what happened in Balinese villages in the old times. When someone is about to be a grown up, he has to fight. Otherwise, he will still be considered a ‘child’ or a coward.
Everyone nods and nods, and says, “I buy what you say, ”.
Made’s breath smells of palm toddy. He seems to be drunk and everyone knows that it is useless to argue with a drunk person.
“Probably that’s why we Balinese like fighting: nobody has ever taught us how to solve problems by discussion since we were children and even until we are old.”
Just when you start your study at Senior High School, your senior will abuse you, physically. The same thing happens when you start to study in university.
‘Well, when we, the local street guys, fight each other, everyone gives their massive comments. They say that Bali is not safe anymore. Having heard what I said, don’t you realize now that we Balinese have aggressive character?
Some of us fight using kris. A banjar fights against their neighbouring banjar because of land and ogoh-ogoh problems; a banjar fights against his members because of a dead body; a brother fights against his brother due to inheritance or love affairs.
Some people ‘fight’ by arguing: the governor against the local House of Representative members; a mayor against Election Commission (KPU), and taxi drivers against the governor.
“So nobody wants to solve problem in a polite way. For them, dialog is all about staring, shouting, swearing; nobody wants to listen to others. Eventually they will solve a problem by fighting, or by not talking to each other.
“So, from now on we should teach our children how to solve problems by discussion. They can learn that one is judged from how he talks, not how he fights.
Everyone claps their hands. They agree with I Madé.
“You haven’t been to a warung for such a long time, now you are here and talk like Krisna. All you say is true and good, indeed. Now I want to ask you something: Why did you talk about that here at the palm toddy warung?” asks I Ketut Lemes Lamis (I Ketut Talks Smart).
I Made gets angry.
“What an idiot you are: If I talk like this in a pub or a bar, they will hit me.”
Everyone nods. They now understand that I Madé is just using the palm toddy to ‘lecture’ them. Once he is done, he will go away on his Harley and show off how firm his arms and how big his money.