Rabu, 25 Agustus 2010

MOTOR oleh Made Sugianto.




M O T O R

Tak henti-hentinya masalah yang dihadapi oleh Nang Dagdag semenjak dia mempunyai anak ABG (Anak Baru Gede) yang sekarang sedang sekolah di SMA. Baru sekali dia pusing memikirkan kebutuhan uang sekolah anaknya yang melambung tinggi, sekarang lagi dia dipusingkan oleh urusan-urusan lainnya. Katanya anaknya tadak mau sekolah bila dia tidak memiliki Handphone (hp). Lagi-lagi Nang Dagdag harus berurusan dengan LPD (Lembaga Perkreditan Desa ) agar dapat meminjam uang untuk membelikan anaknya handphone. “Kalau dipikir-pikir … dulu dia bisa bersekolah saja sudah sangat bersyukur, walaupun baju dan celananya sobek, tidak merasa malu memakainya, rasanya sudah mampu meraih bula saat itu. Anak-anak jaman sekarang sudah sangat berbeda dengan dia dulu, terlalu banyak tetek-bengek yang harus diperlukan untuk kebutuhan sekolah, heraannnn deh …! “ Nang Dagdag ngomel. Dia bingung melihat perkembangan jaman yg kian tidak menentu.

Belum sebulan sekolah di SMA, yang masuknya saja sudah bikin puyeng, Luh Kladi (anaknya Nang Dagdag) sudah bosan rupanya, dia ogah ke sekolah. Setiap pagi kerjanya hanya nangis aja, ini betul-betul membuat Nang Dagdag pusing tujuh keliling “ Apalagi sekarang ini Luh…?” tanya Nang Dagdag, dia pikir anaknya sudah kena sakit Guna-guna Black Magic (Bebai Tungtung Tangis ), maklumlah dia hanya satu-satunya anak gadis yg dia miliki, parasnya ayu, cantiiiikk lagi , kalau dibayangkan dalam dunia artis sinetron, dia mirip dengan BCL (Bunga Citra Lestari). Selain wajahnya ayu, bodinya (FFTO) Fresh From The Oven, hot habisss. Itulah makanya Nang Dagdag dan Men Dagdag, sangat was-was dengan anaknya ,karena banyak laki-laki yang menginginkannya. “ Wah….Beginilah kalau kita punya anak cuantikkk, sudah pastilah banyak laki-laki yang mengincarnya, ” Menn Dagdag mengeluh. Kalau cintanya ditolak, Dukun bertindak itulah yg menjadi bayangan dalam pikiran Men Dagdag. Kalua nggak begitu, mengapa setiap pagi I Luh selalu menangis…….? . “Apa tidak sebaiknya kita segera mencari Dukun Ramal Bli……? “ biar kita tahu ada apa sebenarnya dengan anak kita ini, ”kata Men Dagdag.

“Bli juga bingung ….. ada apa dengan I Luh …?, setiap pagi nangissss aja …. tidak mau diajak bicara sedikitpun…… sudah dua minggu dia seperti ini ….! kenapa masalah dan kesulitan datang silih berganti seperti ini kepada kita ya….?“ Nang Dagdag mengeluh. Rasa-rasanya belum tuntas masalah hutang uang sekolah, lagi minta Hp, sekarang sudah punya Hp BB, I Luh lagi nangis-nangis saja,”balas Nang Dagdag dengan muka masam. Nang Dagdag dan Mendagdag, sibuk mendiskusikan rencana kepergiannya untuk mencari Dukun Ramal untuk mengobati anaknya yg semata wayang ini.

Men Dagdag sambil menanak nasi menceritakan bahwa dia pernah mendengar bebrapa Dukun Ramal yang sakti-sakti, yang bisa sampai menyebutkan nama-nama orang yang menyakiti si pasien itu, katanya di desa Timpag Tabanan, juga di desa Jumpayah yang punya kesaktian sama dengan di Timpag.

Nang Dagdag sebenarnya kurang sreg minatnya ke Dukun Ramal yang ditujukan oleh istrinya , dia lebih senang ke Dukun Ramal di dekat rumahnya di Kukuh, Adėng,Senepahan dan Koripan . Pada akhirnya dia justru malahan pergi ke Dukun ramal di Desa Bedil.

Setelah memilih hari baik, akhirnya berangkatlah mereka menuju rumah Dukun itu, ternyata rumahnya terletak di perumahan BTN (Bangunan Tidak Normal ), sampai disana Sang Dukun sudah sibuk dengan klēnēngan Gentanya karena banyak sudah orang-orang berdatangan sebelum mereka sampai disana. Tidak lupa juga Nang Dagdag membawa kopi, sirih dan tembakao, untuk dihaturkan kepada leluhurnya nanti. Akhirnya Dukun Ramal itu Memanggil mereka, untuk masuk keruangannya. Suasana Magis sangat terasa, Bau asap dupa menyengat menyesakkan nafas, Nang Dagdag batuk-batuk dibuatnya . Sang Dukun lalu mengucapkan mantra-matra magis, mengundang semua Dewa-Dewa yang berstana di Besakih, Lempuyang , Batukaru, dan Roh Si Burung Putih yang dipuja sang Dukun juga di panggil. Sang Roh leluhur sudah di panggil, sekarang sudah di Tegal Penangsaran katanya. Lalu tiba-tiba Sang Dukun memanggil Dewa/Bhatara yang ada di Mekah, Moskow dan Afrika, agar bersedia menyaksikan roh keluarga Nang Dagdag yang sedang di panggil.

Kemudian suara dukun bergetar…. “ Aaa..da aaa..pa cucukuuu…. !!!! mengapa tumben kalian ingin bertemu dengan Kakek…..??? kakek sedang mengambdi di Pura Dalēm. Pasti kalian menghadapi masalah, kalau tidak begitu kalian tidak akan ingat dengan leluhurmu yang sudah bersih ini. Nah sebelum kakek menjelaskan masalah yg kalian hadapi sekarang kakek mau meminta sesuatu pada mu ….. apa kamu sudah bawakan kakek kopi, sirih dan tembakao …..??, kakek sudah lama tidak merokok, tolonglah berikan kakek minta rokok….!!, “ begitulah kata Sang Dukun itu.

Seketika itu Nang Dagdag buru-buru mengambilkan kopi luwak, rokok dll seperti apa yg diminta oleh kakeknya itu melalui Sang Dukun. Wah rasanya lucu deh sang roh minta macam-macam habis minta kop, rokok, malahan jadi minta uang katanya untuk modal “MACEKI “ (berjudi) di Sorga. “ Sekarang cucu yang membekali kakekmu disini, ikhlaskanlah uang dua juta itu kakek disini sudah lama ngutang di warung sorga, sekarang kamulah keturunan kakek yg berkewajiban membayarnya. Karena setelah kamu pulang dari sini kamu sudah pasti sudah pintar baris, berbaris (“ADEP KANAN ,ADEP KIRI”), jual sawah disana,disini alias jual warisan. Tapi nanti kalau kalian menjual warisan…..? ingatlah bagian kakek, kakek juga mau minta bagiannya …..! “ begitu kata roh leluhur Nang Dagdag.

”Sebentarlah kek …..sebenarnya I Luh sakit apa kek…..? anakmu sebenarnya tidak sakit, cuma hatinya yang sakit, dia ini sekarang sedang terikat…… !.” Kata si Dukun. “ Lalu hati anakku terikat dimana kek….? dan apa pakai menebusnya kek …..?? “ tanya Nang Dagdag dengan tidak sabar. “ “I Luh hatinya sedang terikat di DEALER, penebusnya hanyalah uang. Belikanlah dia sepeda motor, pasti dia akan sembuh kembali,” kata Sang Dukun.

“Waduhh…! Dimana saya carikan uang… ! saya baru habis pinjam uang banyak sekali kek… untuk kebutuhan sekolah I Luh dan tetek bengeknya itu di LPD,” kata Nang Dagdag memelas. “ Kan kakek sudah bilang tadi …. cucu kakek sudah pasti nanti akan menjual tanah warisannya untuk bisa keluar dari kemelut masalah keuangan ini,itulah makanya kakek minta bagian dua juta bila nanti kamu menjual harta/tanah warisan itu, biar adilah… kan dulu kakek juga yang membelikan tanah itu cucuku…jadi kakek juga bisa belanja di sorga. Ya….untuk beli rokoklah,” kata Sang Dukun.

Nang Dagdag dan Men Dagdag. Serasa tidak percaya akan apa yang diucapkan oleh kakek leluhurnya melalui Sang Dukun, yang mengatakan I Luh Kladi anaknya terikat oleh Bhatara di DEALER. Penawarnya hanyalah motor. Kalau di pikir-pikir hal ini susah-susah gampang …. Kalau dia punya uang masalahnya tidaklah serumit ini …. tapi masalahnya dia barusan pinjam uang , sekarang harus pusing lagi mikirin uang untuk menebus anaknya dengan membelikan dia motor ke DEALER. Kalau tidak punya uang terpaksa nyicil … kalau tidak nyicil …. Harus jual tanah warisan …..

Nang Dagdag dan Men Dagdag pusing dibuatnya. Ada hal aneh yang membuat dia tidak percaya selama perjalanannya pulang ,kenapa kakenya melalui Sang Dukun ingin dia menjual tanah warisannya untuk menebus sakit anaknya dengan membelikan I Luh Kladi sebuah motor ….?.

Sesampainya di rumah Nang Dagdag dan Men Dagdag kaget sekali melihat anaknya yg cantik semata wayang itu menangis teriak-teriak seperti orang gila …. membuat hatinya tambah kacau saja , lalu dia bertanya, ”Luh….Luh…. ada apa dengan kamu ini…. kenapa menangis teriak-teriak tiada henti ….!. ada apa sebenarnya Luh…..! jangan membuat bapak bingung… !, kamu minta sekolan di SMA Faforit …. sudah bapak turuti walaupun masuknya dengan menombok, kamu mogok tidak masuk karena minta HP sudah bapak pinjamkan uang di LPD untuk belikan kamu Blackbery, sekarang lagi kamu nangis tak karuan ada apa ini Luh…. kamu membuat bapak jadi bingung saja ,”

I Luh Kladi hanya diam saja tidak berkata sepatahpun hanya suara tangisan yang terdengar, kepalanya tertunduk tanpa berani menatap mata kedua orang tuanya, seperti ayam aduan di tajen yg terluka di lehernya . Setiap ditanya dia selalu membatu tanpa berbicara sepatahpun , akhirnya Men Dagdag pergi ke “Sanggah” sambil menghaturkan canang di “Kemulan Tiga Sakti “ minta petunjuk agar anaknya mau berbicara dengannya.

”Ceritakanlah Luh apa sebenarnya yang terjadi …. apa ada laki-laki mengganggumu di sekolah ….? Apa kamu pernah makan sembarangan yg membuat kamu sakit seperti ini ….? Katakanlah sehingga bapak dan ibu tahu permasalahnnya,” kata Nang Dagdag memelas pada anaknya.

“Bapak…… Ibu……” I Luh menyahut dengan lemah dan tak bertenaga. “ Apa Luh..? ” kata orang tuanya , “katakanlah biarpun itu pahin dan sulit katakanlah kami akan selalu menyayangi mu anakku, “ kata orang tuanya merajuk.

“Pak…..eng.. …. eng.. belikan I Luh motor MIO …. biar I Luh gaul ke sekolah.” kata I Luh. “Beh benar apa yang dikatakan oleh Sang Dukun bahwa I Luh terikat hatinya oleh BHATARA DI DAELER MOTOR ….! ! ! !”.