Kamis, 09 September 2010

Bungklang Bungkling: PENJAHAT (CORAH) oleh Wayan Juniartha.

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Corah’, di harian Bali Post, Minggu, 5 September 2010, oleh I Wayan Juniartha Diterjemahkan oleh Putu Semiada.



Penjahat (Corah)
Biasanya para anggota sekaa tuak tidak berani keluar tengah malam. Maklumlah mereka hidup di desa, karena lewat tengah malam adalah waktunya bagi leak, desti, teluh, trangjana, ninja, CO, tokek dan kodok. Jika ada yang berani berkeliaran lewat tengah malam, bisa-bisa mereka dimakan leak.
Tetapi saat ini kebanyakan mereka tidak berani keluar siang.
“Jika kita disakiti leak, kita masih bisa pergi ke dukun (balian). Tetapi kalau leher kita digorok perampok, apa yang kita pakai obat nantinya?” tanya I Made Nyali Cenik.
Krama sekaa tuak manggut-manggut saja. Jika berpapasan dengan leak paling nantinya badan panas dingin dan mungkin sediki mencret. Tetapi jika berpapasan dengan penjahat, mulai dari dompet, cincin, bahkan nyawa bisa melayang.
“Ya betul, sering sekali sekarang terjadi kejahatan. Jantungku terus berdebar-debar saja, setiap kali mau keluar,” jawab I Nyoman Jerih Kabilbil.
Ada jambret, ada rampok yang cuma memakai celana dalam (mungkin karena saking miskinnya), penculik dan pemerkosa anak kecil, pemerkosa turis, pencuri pratima, penipu di ATM, penipu dengan cara hipnotis, pencuri mobil hingga perampok bank.
“Rasanya aku sampai trauma menonton tivi, gemetar jika membaca koran. Sebaiknya aku tinggal di rumah saja. Wajahku ganteng sekali. Jadi kalau aku sampai menjadi korban perampokan, tentu istri, selingkunganku serta mantan pacarku akan merasa nagat kehilangan,” I Nyoman menambahkan.
Semuanya manggut-manggut. Tetapi mereka setuju bukannya karena I Nyoman memang ganteng atau banyak yang akan merasa kehilangan kalau dia meninggal, tetapi mereka setuju perihal nonton tivi dan membaca koran.
“Memang banyak sekali jalan menuju kematian. Kalau tidak dibunuh perampok, bisa jadi kita ditabrak motor. Kita sudah hati-hati di jalan, yang lain yang mengendarai kendaraan sembarangan dapat menyebabkan kita kena celaka.
Mereka mengangguk-angguk semakin keras.
Jika dahulu kira berbicara seperti ini, pasti ada warga kita yang menyalahkan warga dari daerah lain yang melakukan; yang dari Jawa senang merampok, yang dari Lombok senang mencuri. Sekarang sudah banyak yang tahu, warga Bali sendiri banyak yang memiliki perilaku jahat. Sampai-sampai pretima pun dijual.
“Semestinya pada saat ini para ksatria dan pendekar Bali menunjukkan kedigjayaannya membela tanah kelahiran. Banyak sekali kita memiliki perguruan di Bali. Semestinya jumlah mereka lebih dari cukup untuk menghajar para penjahat dan perampok itu”, guman I Madé
Mereka semua diam. Barusan mereka membaca di koran bahwa para pendekar rame-rame menyerbu sekolah dan menghajar satpam yang sama sekali tidak tahu permasalahan padahal urusannya hanya meyangkut seseorang.
“Para pecalang sibuk menjadi tukang parkir, mengamankan arena sabungan ayam, mengawal konvoi rombongan layang-layang dan menutup jalan. Akibatnya mereka tidak sempat lagi mengurus kejahatan, karena sudah kehabisan tenaga.”
Disamping itu, kebanyakan para ksatria (kaum ningrat) sudah berubah menjadi wesia (kaum pedagang), sibuk menjual warisan dan broker proyek. Jika tidak menjadi wesia, mereka sibuk menjadi orang kaya sehingga tidak sempat peduli dengan rakyat kecil.
Banjar dan desa juga sibuk mengaku sebagai yang terbaik, saling membanggakan diri, dan saling bermusuhan menyangkut masalah-masalah yang sepele.
“Kalau begini kapan kita bisa menemukan Bali yang tentram dan damai?” tanya I Madé.
Tidak ada yang menjawab. Semua sudah tahu Ajeg Bali dan Bali Santi hanya omongan orang-orang Bali yang pintar, sudah kaya dan sudah menjabat dan mapan. Kelompok ini termasuk mereka yang sudah tidak perlu memikirkan lagi mau makan apa besok, tidak khawatir kalau-kalau mereka digilas truk maupun dihajar preman.
Memang benar-benar susah hidup menjadi rakyat kecil. Sudah miskin, ditambah lagi dengan ketersisihan. Pantas makin banyak saja rakyat kecil yang bunuh diri. Sepertinya bunuh diri adalah pilihan yang lebih baik dari pada hidup yang serba salah.”

==========================================


Criminals (Corah)
It can be understood why the palm toddy members are not used to going out at midnight time. It is because they live in a village. According to them, midnight is not good. It’s the time for various ‘black magic’ people, prostitutes, frogs and geckos. If they go out, something bad might happen to them.
But it is strange that they are also afraid of going out in the afternoon.
“If one hurts you with black magic, you still can go to a healer (balian) for medication. What if a burglar cuts your neck? What medication will be able to save your life?” asks I Madé Nyali Cenik (I Madé Coward).
Everyone nods. They believe that if you see leak (spook) on the street, you might just get nervous. But if you see a burglar, he may take your wallet, your ring and even your life.
“There have been many crimes these days: I always get nervous when I go out,” comments I Nyoman Jerih Kabilbil (I Nyoman Always Nervous).
There are snatchers everywhere, robbers (once we had a robber who wore underwears only ─ probably he is too poor), children kidnappers and rapists, tourist kidnappers, temple paraphernalia thieves, criminals at ATM booths, hypnotic crimes, car thieves, and bank robbers.
“I have bad feeling every time I watch TV, and I get nervous when I read newspaper. So, I have decided to just stay at home. You know, I’m very handsome. If I happen to be a victim of a robbery and I’m dead, my wife and my lover will miss me very much,” adds I Nyoman.
They nod but actually they don’t buy what he says: They just agree with the bit about the news on television and newspapers.
“There are many ways to die these days: You might be robbed and get killed or a motorbike or car hit you when you walk or drive on the streets. No matter how carefully you drive, anyone can drive crazily and hit you.
Usually, when they discussed these sorts of things, the Balinese tend to blame people from other islands; the Javanese rob and the Sasaks (Lombok people) steal. But now they understand that Balinese sometimes do the same. They even steal temple paraphernalia.
“I think it’s time for the Balinese kstaria (warrior) to show his heroism and defend Bali from criminals. We have many martial art clubs (perguruan silat) in Bali. There should be enough of them to fight the criminals,” adds I Madé.
Everyone is quiet. They’ve just read in the newspaper that a martial arts master attacked a university and beat the security who didn’t seem to know anything. The reason they did that was just because they didn’t find somebody they were looking for.
“Our vigilantes (pecalang) are too busy as parking attendants and security at cockfighting arenas, guarding kite club convoys and blocking the roads. They ‘have no time’ to deal with criminals.”
On the other hand, most kstarias (warriors) have turned into wesias (merchants), who are too busy selling their inheritances (land, etc.) or become project brokers. Some are too busy being rich, that they don’t have time to deal with unprivileged people.
In addition, the banjars and villages (desa) are also too busy to claim themselves the best, fighting each other on unimportant matters.
“So, how do we expect Bali to be safe and peaceful?” asks I Made.
Nobody comments. Everyone knows that Ajeg Bali (Sustainable Bali) and Bali Santhi (peaceful Bali), are just ‘mere rhetorical talk’ of educated Balinese, high ranking local officials or the established ones. They are the ones who never need worry about not being able to afford a meal, or worried about having an accident on the street, or being robbed by street thugs (preman).
“It’s hard being common people like us. We are poor and always in a bad position. No wonder that more and more of us commit suicide: It seems that it is a better choice than living in the current situation.”