Kamis, 14 Oktober 2010

Bungklang Bungkling: Plastik oleh Wayan Juniartha.

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Plastik’, di harian Bali Post, Minggu, 10 Oktober 2010, oleh I Wayan Juniartha Diterjemahkan oleh Putu Semiada.


Plastik
Sudah tiga hari hujan tidak berhenti-berhenti. Hari pertama dan kedua penjualan tuak langsung turun. Maklum krama sekaa tuak nya tidak ada yang berani keluar. (bisa pake koma) Karena sebagian besar mereka usianya sudah separuh baya. Mereka hanya berani kepada gadis-gadis muda, tapi sama hujan malah takut. Takut kalau rematiknya kumat.

Pada hari ketiga baru satu persatu mereka muncul. Mereka sangat kangen dengan manisnya rasa tuak dan hangatnya arak. Mereka datang dengan membawa payung dan jas hujan. Semuanya membawa berita buruk perihal hujan yang turun bukan pada waktunya.

“Sialan, hujan-hujan seperti ini binatang-binatang melata masuk ke kamar mencari kehangatan, mulai dari kalajengking, kaki seribu dan ular,” kata I Made Sial Lemang Peteng.

Mereka semua tertawa cekikikan melihat kepalanya I Madé bengkak, matanya bolokan, dan mulutnya miring. Kelihatannya dia sudah disengat oleh kalajengking dan kaki seribu.

“Itu baru segitu , nasibku lebih buruk lagi. Baru hujan dua hari, sawahku sudah menjelma menjadi kubangan plastik. Padiku hancur ditimbuni tas kresek dan jenis sampah-sampah yang lain,” begitu kata I Ketut Ngangsur Ngangsut.

Manggut-manggut krama sekaa tuak nya. Semua sawah mereka pernah dibanjiri sampah plastik. Setiap hujan lebat, maka salurannya akan tersumbat, dan akibatnya sampah plastik menggenangi sawah mereka.

“Jika sampahnya cuma daun-daunan saja dan kayu masih lebih mudah membersihkannya. Jika dibiarkan maka akan membusuk sendiri, kemudian hanyut.”

Sampah plastik mirip seperti ilmu hitam. Jika sekarang dicarikan dukun, maka besok akan kambuh lagi sakitnya.

“Plastik memang sulit dibersihkan, sering tersangkut di padi. Plastik juga tidak bisa membusuk, kalau dibiarkan di saluran biar presidennya berganti tiga kali juga tidak bakalan rusak,” kata I Ketut.
Semuanya jengkel mendengar masalah plastik tersebut.

“Sialan, masak kita kalah melawan plastik. Penjajah saja bisa kita usir, dan kelompok preman saja bisa kita labrak,” I Wayan Wat Kawat menyela.

“Bagaimana kalau kita membentuk gerakan anti plastik, kita berhenti menggunakan plastik, dan bakar saja sampah di rumah masing-masing. Mari kita kembali mengunakan daun dan kertas sebagai pembungkus,” lanjutnya dengan lantang.
“Bali Bebas Plastik,” kata I Wayan keras-keras.

Langsung tepuk tangan semuanya. Jika sudah urusan koar-koar tentang slogan Bali pulau ini, Bali pulau itu, maka orang Bali sangat bersemangat. Apalagi kalau masalah urusan menghajar, membakar, langsung saja semuanya ingin ikut.

“Kita banyak sekali memakai plastik, jika daun pisang dan kertas kita pakai sebagai pengganti, maka banyak sekali pohon kayu yang mesti ditebang untuk bahan kertas, disamping itu pohon pisang juga akan terlihat sengsara. Bukankah akan semakin merusak keadaan bumi?” I Madé pura-pura bertanya.

Mereka kemudian terpana seolah membenarkan perkataan I Madé. Di luar hujan semakin lebat. Mereka sekarang menggeser-geser duduknya mendekati Ni Luh Makin Digosok Makin Sip. Semuanya bisik-bisik memesan tuak mau dibawa pulang.
Luh, tolong dibungkus tuak dua bungkus ya, pakai plastik.”

=========================================

Plastic
It has been raining for three days and none of palm toddy association members has been seen at the warung as they are lazy to go out. No kidding, as most of them are middle aged. They are only excited when see young girls but not to go out when it rains. They are afraid that their rheumatism will flare up again.
On the third rainy day, the members show up one by one. They are longing to enjoy the sweet palm toddy and strong palm wine. They are wearing rain coats and some bring umbrellas. All bring bad news about the troubles caused by the bad weather.
“Damn! Rains like this has made insects, lizards and snakes come inside any house,” says I Made Sial Lemah Peteng (I Made Bad Luck All the Time).
Everyone laughs. Some of them look at Made’s neck. It’s swollen. He has problems also with his eyes and mouth. Probably some lizard has bitten him.
“I think you are still lucky, Madé. The two days rain has changed my rice field into a plastic field. The paddy are spoiled due to plastic rubbish,” says I Ketut Ngangsur Ngangsut (I Ketut Bad Luck).
Everyone nods. All of their rice-fields have been spoiled by plastic rubbish, especially when it rains heavily.
“It is much easier for us to deal with rubbish from leaves and wood, it is easier to remove. Even when you don’t remove it, it will decompose.
Plastic is like black magic: once you ‘fight’ it, it will come again and fight you back.
“It is difficult to remove plastic rubbish. Plastic does not decompose either, no matter how many times we have changed the president, it will remain like that” says I Ketut.
Everyone is upset having heard about plastic rubbish.
“Damn, why is this plastic giving us such a big problem. In the old times, we were able to beat colonialism and fight the criminals as well,’ comments I Wayan Wat Kenyat (I Wayan Temperamental Man)
Why don’t we just make an Anti-Plastic Movement? We can stop using plastic. We can burn all the plastic rubbish at our own house. And we can start to use leaves and paper to wrap things,” continues I Wayan.
“Bali Free of Plastic,” he screams.
Everyone claps. It seems that when it comes to slogans about Bali; ‘Bali is an Island of This’, ‘Bali is an Island of That’; Balinese are very enthusiastic, even when it must comes to vandalism, everyone will join in.
“Well, we use a large amount of plastic: if we substitute banana leaves and paper for plastic, a lot more trees must be cut and it make the situation getting worse and worse,” says I Madé.
Everyone is quiet. They agree to what I Madé says. It is still raining heavily. Everyone approaches Ni Luh Makin Digosok Makin Sip (Ni Luh The More You Rub Her The More She Loves It). They all want more palm toddy to take home.
Luh, can I have more two plastic bags of palm toddy?”