Senin, 11 Oktober 2010

Bungklang Bungkling: SARASWATI oleh Wayan Juniartha.

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Saraswati’, di harian Bali Post, Minggu, 3 Oktober 2010, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada.



Saraswati
Keadaan dunia sudah semakin tidak menentu; mereka yang lebih banyak mengandalkan otot yang menang, yang serakah berjaya, yang sudah terbukti bersalah tetap saja dipertahankan. Oleh karena itu Ida Betari Saraswati memutuskan untuk turun ke bumi.
Dengan mengendarai angsa Ida Betari turun mengunjungi SMU Favorite Bukan Untuk Wong Gerit (Sekolah Favorit Bukan untuk Orang Miskin). Kagum beliau mekihat murid-murid yang tersenyum dan mengenakan kebaya.
Sebaliknya murid-murid juga kagum melihat ada wanita cantik, bertangan empat dan mengendarai agsa. Biasanya kalau promosi produk, yang dipakai adalah badut dan teletubbies, sekarang malah ada yang memakai kostum jaman dulu (jadul), begitu pikir anak-anak itu.
“Karena kalian sangat taat dengan ibu, sekarang ilmu apa yang kalian mau minta pasti ibu akan berikan. Ilmu matematika, genetika molecular, fisika teoritis, kuantum nuklir, guarks, fusi dingin?”
Murid-murid semuanya pada termanggu. Wanita yang menaiki angsa ini mirip penyiar tv yang senang bagi-bagi hadiah.
“Kalau ilmu aku sudah tidak perlu lagi. Setiap ujian pasti dikasi bocoran. Jika nilai jelek, guru-guru akan sibuk mengkatrol nilai. Pkoknya aman. Ada Blackberry gratis tidak? Kalau ada aku mau,” kata murid yang berwajah buruk bertanya.
“Kalau aku sih sudah tiga punya Blackberry. Tapi kalau ditraktir shopping sepatu dan baju aku tidak menolak,” kata murid yang lainnya yang wajahnya tidak karuan.
“Berapa CC sih mesin angsanya Mbok (Mbak)? Siapa yang punya produknya? Yamaha? Suzuki? Bisa dipinjam sekali, aku mau pakai kebut-kebutan maut,” tanya murid lainnya yang kulitnya penuh luka karena tergerus aspal.
Ida Betari cuma bengong saja. Beliau lalu memutuskan untuk ke ruang guru saja unuk memberi berkah kepada para pahlawan yang selalu tidak pernah mendapat tanda jasa. Para guru sedang sibuk menghaturkan bakti.
Ratu Betara, semoga saya yang ditunjuk menjadi pimpinan proyek renovasi ruang kelas, supaya saya mendapat komisi untuk mengkredit mobil baru.”
Ratu Betara, supaya kepala sekolah kami cepat meninggal. Dia suka korupsi, tapi tidak pernah bagi-bagi.”
Ratu Betara, semoga bisnis makelar mobil dan tanah saya lancar.”
Ratu Betara, semoga selingkuhan saya tidak hamil. Jika dia tidak hamil saya akan mempersembahkan babi guling di sini.”
Ida Betara merasa gelisah dengan segala permintaan para guru yang tidak karuan. Sang angsa muntah-muntah akibat terkena vibrasi negatif permintaan serakah para murid dan guru.
Karena saking frustasinya akhirnya Ida Betari memutuskan untuk pergi menuju warung tuak. Katanya warung tuak adalah tempat orang-orang kritis dan intelektual berkumpul.
“Lho, kok ada angsa gemuk jalan-jalan, mari kita tangkap, lalu kita masak untuk teman minum tuak, seru I Wayan Basang Linggah saat melihat angsanya.
“Lho, kok ada gadis cantik di sini? Apa yang bisa abang bantu Dik? Kalau perlu diantar biar abang yang bonceng, kalau perlu tempat berteduh, biar di gubuk abang saja,” begitu kata I Made Keong Racun.
Dikiranya Ida Betari adalah seorang cewek CO yang lagi tersesat.
Lengkap sudah rasa frustasi Ida Betari. Beliau menyerah, terus beliau kembali ke Brahmaloka. I Wayan pingsan karena ditabrak angsa yang hendak terbang, sedangkan I Madé tidak bisa bicara seolah seperti dikutuk oleh Sang Hyang Aksara.

==========================================


Saraswati (Goddess of Art and Knowledge)

Saraswati, considers that the island inhabitants are getting ‘dumb’; more and more people are using their muscles instead of brains to solve problems; greedy people always win, proven corrupt officials stay in safe positions. Hence, the goddess has decided to come down to the island.

Riding a white swan, she visits the senior high school SMU Favorit Untuk Wong Gerit (Favourite School Not for Unprivileged Students). She is amazed by the students’ smiles and their kebayas chemise.

And the students are amazed by the Goddess’ beauty, with 4 hands and riding a swan. But the students also wonder: usually when a company wants to promote its product, it uses a mascot such as clown like the Telletubbies, but as they see now the Goddess is wearing old fashioned dress (jadul).

“Well, as you are good students, now you can ask me for any subjects you would like to be good at; math, molecular genetics, theoretic physics, nuclear quantum, quarks, cold fusion?

The students look at each other. They think that the ‘lady’ riding a swan is a TV reporter who they have often seen on TV distributing presents door to door.

“I don’t need to be good at all subjects. When we have national tests, the teachers give us the keys. Even when my grades are not good, the teacher always help me by upgrading them. Everything is fine. What I need is a free Blakberry? Can you give me one?” asks an ugly-look student.

“How strong is your swan?” asks another whose skin has a lot of scars from motorbike accidents. “What product is that made in? Is it a Yamaha? A Suzuki? Can I borrow it to use in a race?”

The Goddess Saraswati is surprised having heard what the students have to say. She decides to visit the teachers’ office and bless them. It is assumed that the teachers never get a proper income. They are praying when the goddess comes in.

“Oh My Lord, I hope I will be appointed project manager for classrooms renovations, so I get enough fees to by a new car on credit.”

“Oh My Lord, I hope the principal will die soon as he is very corrupt and never gives us our share.”

The other teacher prays: “Oh My Lord, I hope my business as property and car broker runs well.”

“Oh My Lord, I hope my lover doesn’t get pregnant. If she doesn’t, I will I will make an offering which has a suckling pig.”

The Goddess Saraswati gets more confused due to the bad teachers prayers. Even the swan throws up due to negative energy vibrated by the bad prayers of the teachers and students.

As she is so frustrated, finally she comes to the palm toddy warung. She has been told that the warung is the place of intellectuals.

“Wow, look! There is a fat swan…Why don’t we just catch it and cook for our meal. It will be good with our palm toddy as well,” says I Wayan Basang Linggah (I Wayan Pot Belly) when he sees the swan.

“Why is there a beautiful girl here? Hi Girl, what can I do for you? Do you need a ride? If you need a place to stay, come to my house,” says I Madé Keong Racun (I Madé Playboy).

He thinks that Saraswati is a prostitute.

She is totally frustrated. She gives up. She then returns to brahmaloka (nirvana). Suddenly the swan bites I Wayan and he becomes unconscious, while I Madé can not open his mouth, probably cursed by the Goddess Saraswati.