Jumat, 29 Oktober 2010

Bungklang Bungkling: SUCI oleh Wayan Juniartha

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Suci’, di harian Bali Post, Minggu, 24 Oktober 2010, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada.


Suci
Ada perdebatan yang seru antara I Made Nyineb Wangsa dan Ni Luh Makin Digosok Makin Sip.
“Tolong kasi aku botol yang suci, yang bukan bekas (sukla), kata I Made.
Sudah bertahun-tahun I Made mencari asal usul leluhurnya (kawitannya). Dan baru tahun baru kemarin dia baru menemukan prasastinya.
Ternyata termasuk warga (warih) satria utama jaman Bali Kuno, keturunan Tri Wangsa. Semua anggota keluarga I Made berganti nama dengan menempatkan kata ‘Anak Agung’ (panggilan untuk kelompok ksatria) di depannya. I Made sendiri merubah namanya menjadi Anak Agung Gdé Agung Ngurah Gdé (AAGAGNG). Malah dia hendak menambahkan kata Shri-Shri di depan AAGAGNG, namun anggota keluarganya tidak ada yang setuju, karena kesannya banci (dikira sama dengan Sri) dan sudah ada orang gila yang sudah memakai gelar Shri itu.
Kadang-kadang sampai keseleo lidah teman-temannya jika hendak memanggil namanya I Madé. Jika dia tidak dipanggil ‘Ratu’ (seperti bupati yang merasa menjadi raja atau sebaliknya), atau minimal ‘Gung Dé’, maka dia tidak akan mau melirik. Jika ada upacara (karya) di desa, maka dia tidak akan mau mengambil kerjaan apapun. Dia hanya datang memakai udeng (hiasan kepala) yang bagus, hanya duduk-duduk saja di bale, pura-pura sebagai penua. Makanpun dia sudah tidak mau sambil jongkok, dan mesti pakai dulang (tatakan buah).
Ini botol yang bersih, sudah dicuci dengan menggunakan rinso dan air bersih. Setiap pagi juga peralatan ini aku percikkan air suci (tirta) dari griya (rumah pendeta). Apanya yang kurang suci lagi?” Ni Luh tampak kesal.
Hampir lepas rasanya matanya AAGAGNG karena dia terlalu keras mendelik. Pertama, karena Ni Luh brani-braninya memberikan botol bekas (tidak sukla).Kedua, karena Ni Luh berani memakai bahasa biasa terhadapnya yang baru saja naik status menjadi kstaria.
“Kamu memang benar-benar orang kampung, suci itu beda dengan bersih, meskipun kamu cuci sampai dua ratus kalipun gelas yang sudah pernah dipakai tersebut tidak akan bisa sukla dan suci. Bersih tidak selalu berarti suci, tahu?” Ida Anak Agung menghardik.
Mereka mengangguk-anguk. AAGAGNG tersenyum lebar setelah menyadari krama sekaa tuak manggut-manggut. Dia merasa seperti sang praqbu yang dikelilingi oleh para mentrinya.
“Benar sekali bicaranya Tuan Agung, junjungan kami. Yang bersih belum tentu suci. Contohnya sudah banyak, para anggota DPR yang bajunyabersih, kulitnya bersih, giginya bersih, dahinya bersih, ternyata tidak suci. Hingga jauh-jauh ke Yunani mereka belajar etika, artinya mereka tidak bisa beretika dan tidak bisa mengendalikan keinginan, alias tidak suci,” I Ketut Sumbing Nyindir berkata.
Mereka semua tertawa terkekeh-kekeh. Sepertinya angin mulai berputar. Kelihatannya saja I Ketut bertutur dengan sopan, namun sebenarnya dia lagi mencari kesempatan untuk mengolok-olok AAGAGNG.
“Kalau bersih itu di luar, kalau suci itu di tengah. Yang kotor bisa dicuci biar menjadi bersih. Jika cemar (cemer) apa yang dipakai untuk untuk mencucinya supaya bisa suci? Yang jelas bukan air ataupun rinso.
Ida Anak Agung hanya melongo. Maklumlah sekalipun statusnya sudah meningkat namun otaknya masih seperti dulu. Meskipun sudah memakai gelar satria utama, memiliki puri yang megah, jika otak masih kosong, tetap saja tidak ada artinya. Baru diserang dengan kata-kata seperti itu oleh I Ketut, dia langsung tidak bisa ngomong apa-apa.
“Perbuatan yang baik, tutur kata yang halus, pikiran yang jernih itu akan bisa menghilangkan cemer, itulah yang dipakai menyucikan diri.”
Karena gelas bukan manusia, tidak bisa berbuat, tidak bisa bertutur, tentu tidak bisa menycukan diri. Sekalipun gelasnya baru, stausnya tetap bersih, tidak akan pernah suci.
Cemer dan kotor itu dua hal yang berbeda juga. Namun karena jamanya sekarang jaman Kali Yuga, banyak hal yang sudah cemer bercampur dengan kotor (daki). Ada warga yang saling lempar di pura saat sembahyang, ada warga yang berpakaian adat dan sembahyang sebelum membakar rumah saudaranya sendiri. Ada warga yang menendang pintu pura agar bisa masuk ke pura agar bisa sembahyang, ada warga yang saling berseteru untuk memboikot warga yang lain agar tidak bisa mengubur mayat. Inilah yang dinamakan cemer bercampur dengan kotor (daki).
Apalagi ditambah pula dengan sedikit kebodohan. Jika sudah begini keadaannya siapa yang berani menepuk dada dan mengaku-ngaku kelompok satria utama?

=======================================

Suci (Holy)
There has been a hot discussion at the palm toddy warung. It is between I Made Nyineb Wangsa (I Made Upgrade His Clan Status) and Ni Luh Makin Digosok Makin Sip (the More You Rub Her The More She Loves It).
“Give me a new bottle, the one that has never been used before (sukla) and holy (suci),” says I Made.
I Made has been looking for his ‘kawitan’ (ancestor origin). And just by the new year he found the manuscript.
The manuscript confirms that I Made belongs to Ksatriya caste in the old times, he belongs to ‘Tri Wangsa’ (the three higher caste). Even all of his family members have changed their names too, to show that they are higher caste. They add ‘Anak Agung’ to their names. Made’s name now become Anak Agung Gdé Agung Ngurah Gdé (AAGAGNG). He even wants to add Shri Shri before Anak Agung. But his relatives don’t seem agree with him as it sounds ‘girlish’ (similar to Sri).
Made’s friends even have ‘slip-tongue’ when they call his name. He will ignore anyone who calls his name without adding ‘Ratu’ (like a mayor who thinks himself a king, or vise versa). Or at least one has to call him ‘Gung Dé’, otherwise he will not look at you. When there is a ceremony (karya) in the temple, he doesn’t do anything to help. He just sits in the pavilion (bale), wear a protruding headdress (udeng) and pretends to be a village elder. The way he has meals is not like everybody else anymore (Balinese squat instead of sitting when they have meals in the temple). And he has to use a food stand (dulang) too when he has meal.
“It’s a clean bottle, you know. It has been washed using rinso (detergent powder) and clean water. I also bless my kitchen wares with holy water (tirta) from priest’s house (geria). Isn’t that enough for you?” Ni Luh gets mad.
AAGAGNG’s eyes bulge out as he gets very angry that Ni Luh gives him an ‘unholy’ bottle and she dares to speak in ‘lower’ language to him in spite of his new ksatria status.
“What an uneducated person you are, you know ‘holy’ is difference from ‘clean’. No matter how many times you have washed the glass, but when you have used it for somebody, it is not ‘holy’ (sukla) anymore,” argues Ida Anak Agung.
Everyone nods. Ida Anak Agung looks happy as he smiles widely. He feels that everyone agrees with him. He feels like a king surrounded by his assistants.
“It is exactly right, your highness… ‘Clean’ is not the same as ‘holy’. We have a lot of sample of this. Look at the Legislative members. Their clothes, teeth, skin are clean, but they are not ‘holy’. Look at them. They go far away to Greek just to study about ethics. It means that they can not behave properly, nor control their attitude and desire, which means that are not holy,” says I Ketut Simbing Nyindir (I Ketut Sarcastic).
Everyone laughs. It seems that I Ketut is trying to tease AAGAGNG.
“’Clean’ is outside, but ‘holy’ is inside. So when something is ‘unholy’ you can not ‘clean’ using rinso.”
AAGAGNG realized that even he has changed his status to ‘Anak Agung’, but his ‘brain’ has not improved much yet. No matter if you have gained royal degrees, how big is your ‘palace’, but if your brain has not been improved, it will be useless; like what happens to AAGAGNG. Just when I Ketut criticizes him, he has no proper arguments.
“Clean heart, clean mind and clean behavior is the way how you can make your self ‘holy’.”
As glass is not a human, it can not clean itself. Even it’s new, it is just ‘clean’ but not ‘holy’.
It is similar to ‘unholy’ and ‘dirty’. They have different meaning. However, it is kali yuga age, where ‘unholy’ and ‘dirty’ are mixed. As you can see, among Balinese, they fight in the temple before praying, some even wear temple dress and pray at the temple before burn their Balinese fellow’s house; we even heard about some Balinese kick the temple’s door to be able enter the temple, and some Balinese fight among themselves just because a dead body (sawa). That’s what we call ‘unholy’ (cemer) and ‘dirty’ (kotor).
It’s not just ‘unholy’ (cemer) and ‘dirty’ (kotor) but it’s really really a stupid thing. Under this circumstance, who dares to claim himself to be high caste or high kstaria?