Kamis, 25 November 2010

Bungklang Bungkling: GUNUNG oleh Wayan Juniartha

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Gunung’, di harian Bali Post, Minggu, 21 November 2010, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada

GUNUNG
Apa yang menyebabkan gunung meletus?
“Karena para dewa marah akibat ulah manusia yang semakin buruk, para pejabat yang korupsi, polisi yang ikut-ikutan menjadi begal, begal yang berani melawan polisi, dan karena semakin banyak manusia yang sudah lupa dengan Tuhan,” kata I Made Kerauhan Kesurupan.
I Made sepertinya mau menjadi juru bicara para dewa (Ida Bhetara). Setiap ada topik pembicaraan, mulai dari masalah dompet hilang, tabrakan, sampai masalah sakit, selalu dikaitkan dengan niskala dan dewa. Jika bukan Tuhan yang marah, mungkin ‘penunggu rumah’ (penunggun karang) yang kecewa, kalau tidak pasti leluhur yang belum dipenuhi keinginannya.
Mereka manggut-manggut. Malah banyak yang percaya bahwa bencana itu disebabkan karena Tuhan marah.
“Wah, kalau begitu bukankah itu artinya Ida Bhetara bodoh?” Tanya I Wayan Campah Kelur.
Semuanya merasa terkejut mendengarnya. Baru pertama kali mereka mendengar ada orang yang berani mengatakan bahwa Ida Bhetara itu bodoh. Syukurnya I Wayan beragama Hindu Bali. Jika dia beragama Islam dan berani mengatakan Tuhan bodoh, pasti dia sudah babak belur digebuki oleh FPI.
“Lalu jika Tuhan (Ida Bhetara) marah karena sifat manusia yang rusak, lalu kenapa bukan anggota DPR saja yang terkena letusan gunung, kenapa bukan sel tahanan Gayus saja yang dihantam tsunami, atau jaksa dan hakim yang menilep uang hanyut oleh banjir?” kata I Wayan lagi
“Sekarang yang justru menjadi korban gunung meletus adalah mereka yang miskin, orang tua sampai orang yang tidak tahu permasalahan. Boro-boro mau menilep uang rakyat untuk biaya studi banding ke luar negeri, uang untuk dipakai sendiri saja mereka tidak punya. Yang terkena tsunami dan banjir juga kebanyakan orang miskin.”
Artinya kalau benar gunug meletus karena Tuhan marah, berarti itu artinya Tuhan salah sasaran, sebab yang dimarahi justru tidak terkena bencana, malah senyum-senyum menonton tenis di Bali, yang tidak dimarahi malah terlunta-lunta.
“Nah, sekarang pilihannya cuma dua: Ida Bhetara yang bodoh atau sebenarnya bencana memang tidak ada hubungannya dengan Ida Bhetara. Kalau aku sendiri percaya bahwa bencana itu memang siklus alam. JIka sudah saatnya gunung meletus, ya pasti meletus,” begitu ceramahnya I Wayan.
Mereka manggut-manggut. Benar juga pemikirannya I Wayan. Tidak mungkin Ida Bhetara bodoh atau salah sasaran. Tidak mungkin juga Ida Bhetara marah sampai menghilangkan nyawa, hingga membuat gunung meletus dan tsunami. Jika Ida Bhetara sampai marah dan menghilangkan nyawa, tentu tidak ada bedanya beliau dengan preman hipertensi.
“Kalau begitu itu sama artinya dengan Gunung Agung dan Gunung Batur bisa tetap meletus meskipun orang Bali tetap menghaturkan sesajen. Kalau seperti itu bukankah itu artinya kita rugi melaksanakan upacara ‘mulang pekelem’ dan menghaturkan ‘caru’” tanya I Made.
Namanya saja gunung berapi aktif, pasti akan bisa tetap meletus.
“Jika karena itu kamu berhenti menghaturkan sesaji, itu artinya selama ini kamu menghaturkan sesaji, itu artinya bahwa selama ini kamu menjalankan kewajiban beragama karena pamrih, menghaturkan sesaji supaya mendapat sesuatu. Itu artinya kamu tidak beragama dengan sungguh-sungguh,” tambah I Wayan

============================================

Gunung (Mountain)
Why do you think a volcano erupts?
“It is because gods are angry because of bad human behaviors; corrupt high ranking officials, bad police (who are no different than criminals); criminals who have no fear in fighting the police; and more and more human beings who have ignored God,” says I Made Karauhan Kasurupan (I Made ‘Trance on Trance’).
It seems that I Made would like to be the spokesman of gods. Every time they have a topic for discussion, from wallet lose, accident, to sickness, he always relates them to gods or unseen world. According to him, the gods or the ground spirit guards may get angry, or probably ancestral spirits that need attention.
Everyone nods. Many believe that natural disasters occur because God is angry.
“Doesn’t that mean that gods are ‘uneducated’? asks I Wayan Campah Kelur (I Wayan Undiplomatic Talking).
Everyone is surprised. It is for the first time they hear somebody says that gods are ‘uneducated’. Good for him that he is Hindu. If he was a Muslim, he might have been beaten by the Muslim mass organization (FPI).
“If gods are ‘uneducated’, why they don’t punish bad people such as the Legislative members or a person like Gayus, or judges or public prosecutors who take the funds for the flood victims,” adds I Wayan.
“You can see the victims of natural disasters such as mount eruptions are mostly unprivileged people, the old and even the innocent ones. They don’t even have money at all; a very contradicted situation with the legislative members who use people’s money for holiday overseas. The victims of tsunami are also the unprivileged ones as well.
If you think that a volcano erupts as gods are angry, that means that They punishes the wrong people. Instead, They should punish a person like Gayus who still can enjoy watching tennis championship in Bali, in spite of what he has done.
“So you only have two choices now: Are our gods ‘uneducated’, or do natural disasters really have a connection with gods? I myself believe that natural disasters are natural cycle. When the time comes a volcano would erupt itself, you know,” says I Wayan.
Everyone agrees with I Wayan’s opinion. They don’t think that gods are ‘uneducated’ and punish innocent people. It doesn’t make sense either that gods angry and create natural disasters such as volcano eruption and tsunami. Otherwise They will be just the same as sick criminals.
“Are you saying that Mount Agung and Mount Batur can erupt anytime in spite of offerings (aci-aci) and ceremonies we Hindu Balinese make? Doesn’t that mean that it is useless for us to make offerings to gods?” asks I Made.
“You know, they are volcanoes that can erupt anytime.”
“If that’s what you have been thinking, then you are wrong. You make offerings to gods, but you shouldn’t expect something a gift in return; if that’s why you stop making offering, it means you’ve been following your religion because you are just scared, and afraid that something bad happen to you. That means you are a fake Hindu,” comments I Wayan.