Kamis, 04 November 2010

Bungklang Bungkling: Luh (Perempuan) oleh Wayan Juniartha

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Luh’, di harian Bali Post, Minggu, 1 November 2010, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada.


Luh (Perempuan)

Ni Luh Makin Digosok Makin Sip merasa sangat senang hari ini. Karena itu, setiap orang dikasi jatah tuak satu gelas tuak manis.
“Wah, tumben kau baik hati. Ada apa gerangan? Jangan-jangan kamu sudah diterima menjadi pegwai negeri? I Made Ulah Aluh senyum-senyum.
Semua tahu tentang cita-cita Ni Luh. Dia ingin menjadi pegawai negeri. Tetapi nasibnya Ni Luh tidak terlalu mujur, ternyata mencari status CPNS lebih sudah dari mencari sorga. Jika mau mencari surga, dengan uang 50 juta sudah cukup, mulai dari upacara ngaben, mukur dan ngelinggihang dewa yang. Sedangkan untuk menjadi CPNS, minimal 75 juta. Apalagi Ni Luh memang tidak punya koneksi yang bisa membantunya.
“Wah aku sudah lupa dengan cita-citaku itu. Aku sangat senang karena untuk pertama kalinya lembaga adat membela kepentingan perempuan,” jawab Ni Luh sambil menunjukkan koran.
Koran itu berisi berita tentang musyawarah Mejelis Utama Desa Pekraman, tentang sanksi ‘kesepekang’ (dikucilkan) yang tidak memperkenankan melarang warga yang dikucilkan (kesepakang) untuk sembahyang di pura atau memanfaatkan kuburan. Sanksi tersebut juga mesti mempunyai batas waktu. Tidak boleh mengucilkan warga bersangkutan seumur hidup.
“Bagus sekali hasil musyawarah ini. Para dewa saja tidak pernah melarang orang ke pura, lalu kenapa ada warga yang berani-beraninya melarang umat untuk sembahyang. Apalagi ada juga yang melarang umat menggunakan kuburan. Ada rasa tidak percaya bercampur malu jika melihat mayat yang sampai berjam-jam terlantar di jalan menunggu krama yang sedang berunding,” kata I Made.
Musyawarah tiu juga mengakui hak waris anak perempuan.
‘Waduh, bahaya ini. Jika sampai anak perempuan mendapat hak waris, bisa-bisa habis tanah nanti untuk membeli bedak, pemerah bibir, kebaya brokat Perancis dan juga sandal/sepatu hak tinggi.”
Ni Luh langsung mendelik. Langsung saja dia mencabut jatah tuak gratis untuk I Made.
“Coba kamu pikir, . Dari dulu hak waris hanya jatuh kepada anak laki saja. Coba lihat sekarang, apa saja yang sudah dikerjakan oleh laki-laki Bali untuk memelihara warisan leluhur,” sergah Ni Luh.
Jika anak laki-laki Bali mendapat warisan, pasti akan dijual, mulai dari tanah hingga mas-masan. Mungkin kalau pura keluarga masih bisa dijual, pasti akan dijualnya juga.
“Sedangkan peermpuan Bali hanya mendapat yang berat-beratnya saja. Mulai membuat sarana upacara, menjaga dan merawat mertua, mengurus anak hingga melayani suami lahir bathin. Dan tidak jarang pula hasil pekerjaan diambil sang suami untuk dipakai berjudi, dan malamnya mesti disuruh melayani. Jadi tenaga wanita Bali benar-benar sudah habis. Banyak sekali kewajiban, tapi tidak pernah mendapat hak.”
Karena lebih banyak kewajiban yang dibebankan kepada wanita Bali dari dari pada hak, maka hal ini sering membuat mereka stress. Badannya sering pegal-pegal, wajahnya kusut dan kulitnta tampak kotor. Disamping itu, laki-laki Bali bukannya meringankan beban mereka, misalnya dengan membelikan mereka kajang hijau maupun vitamin, malah mereka justru lari ke café-café di tepi sungai untuk bercumbu dengan cewek-cewek café yang kulitnya lebih bersih dari istrinya, yang bedaknya lebih tebal dari tembok.
Ni Luh tetap saja nyerocos. Sampai basah matanya kena ludahnya Ni Luh.
“Jika bapak/Ibu sakit siapa yang sibuk ngurus? Jika ada karya (upacara) di pura dadia (pura klan), siapa yang sibuk menanganinya? Anak laki apa anak perempuan?”
I Made tidak berani berkata apa-apa. Dia tampak gelisah. Memang benar laki-laki Bali kebanyakan tidak bisa diandalkan. Memang sudah seharusnya anak perempuan mendapat warisan lebih banyak dari pada anak laki-laki.
“Masalahnya di Bali kita berdasarkan garis Purusa (laki-laki),” kata I Made berusaha menghidar.
Saking emosinya, Ni Luh langsung saja melempari matanya I Made dengan kue.
“Jika tidak ada ‘Pradana’ (perempuan), apa yang bisa diperbuat oleh purusa? Jika tidak ada Saraswati, apa yang bisa diperbuat oleh (dewa) Brahma? Jika tidak ada Sri dan Laksmi bagaimana caranya (dewa) Wisnu mengurus alam semesta? Jika tidak ada Durga, siapa yang bisa membuat Siwa ditakuti?”
Jika wanita Bali sudah marah, siapa yang berani mencegah?
 ====================================

Luh (Woman)
It is a happy day for Ni Luh Makin Digosok Makin Sip (the More You Rub Her the More She Loves It) that she gives everyone a glass of palm toddy for free.
“You are so generous today. What is going on? Is your application to be a civil servant has been approved?” says I Made Ulah Aluh (I Made Take it Easy) while smiling cheerfully.
Everyone knows that Ni Luh is obsessed to be a civil servant. But she is not that lucky. She finds out that to be able to a civil servant is much harder than ‘to reach the heaven (suargan)’. To ‘get there’ (heaven) you only need 50 million Rupiahs that you can use for the ceremonies (starting from cremation (ngaben), purification (mukur), and beautification (ngelinggihan Dewa Hyang). On the other hand, if you want to be a civil servant, you have to have 75 million Rupiahs and in addition, you also have to have a good connection.
“I’m not interested anymore to be a civil servant. I’m happy today because it is the first time our customary bodies (Majelis Utama Desa Pekraman) discussed about the Balinese women’s rights,” says Ni Luh while showing the newspaper.
The newspaper mentions about the results of village customary bodies, especially about ‘isolated’ (kasepekang) penalties that the village has no right to forbid the ‘isolated’ party to pray and ‘use’ cemetery. ‘Isolated’ penalties also should must have limit, not for the whole life.
“That’s good news. You know, our own gods (bethara) never forbid us to pray in the temple, why do the Balinese do? They don’t even let their ‘isolated’ fellows to use ‘cemetery’. I feel ashamed and embarrassed seeing a dead body is forbidden to be buried in the cemetery and has to be left by the street for hours while the community members (banjar) negotiating,” says I Made.
The customary bodies also support for the inheritance right for the Balinese women.
“It will be a big change. If the women can have their inheritance rights, they will sell all the family’s land (inheritance) to buy talcum powder, lipstick, French brocade kebaya, and high heel shoes.”
Ni Luh feels insulted. She cancels her treat of a glass of palm toddy for I Made.
“You know, Made. The heritance is always given to the sons. Look what good things that Balinese men have done to look after the traditions,” says Ni Luh.
When a Balinese man obtains inheritance, they will sell them all, from the land to gold. If the house temple can be sold, they may do.
“What we Balinese women get are the tough things; from making offerings, taking care parents, taking care children, and looking after their husbands. Sometimes our money is also taken by our husbands and at nights, they beg us for sex. We are really really exhausted at the end. There are more obligations for us to carry out than what we should get.”
“Too many obligations than what they should get often make Balinese women get stressed and get fatigue that their faces and skin look dirty as well. Knowing that, their husbands do not do anything to support them, e.g. providing them with vitamins; instead they go to cafés to have fun with bar girls who look more beautiful due to their ‘thick’ make up,” Ni Luh keeps talking.
“When our parents are sick, who do you think will take care of them? When you have a ceremony in your clan temple, who do you think will be busy, the men or the women?”
I Made keeps silence. He looks nervous. He realizes that Balinese men are useless. Hence, daughters should get more inheritance than sons from their parents, he thinks.
“The problem is that culturally, we Balinese are patrimonial (purusa), says I Made.
Ni Luh is getting more upset that she throws a cake toward I Made.
What if no ‘pradana’ (women) in the world? What can the ‘purusa’ (men) do? Or if Goddess Saraswati doesn’t exist, neither does God Brahma; if Goddess Sri or Lakshmi doesn’t exist, neither does God Wisnu; if Goddess Durga doesn’t exist, God Siwa is nothing.
So when Balinese women are angry, nobody can stop them.