Kamis, 18 November 2010

Bungklang Bungkling: RADIKAL oleh Wayan Juniartha

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Radikal’, di harian Bali Post, Minggu, 14th November 2010, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada


Radikal
Semuanya krama sekaa tuak ngomong berbisik-bisik. Maklum topiknya agak sensitif.
“Katanya murid-murid yang beragama Islam mendapat pelajaran tentang jihad waktu pelajaran agama?” kata I Made Simpang Siur.
Jika ada gosip panas biasanya memang I Made yang paling dahulu tahu. Maklumlah dia bekerja di di LPD (Lemah Peteng Diwang = Kebanyakan hidup di luar), sehingga dia lebih banyak waktunya ngobrol di luar.
Meskipun status beritanya masih gosip, langsung saja semuanya menanggapi dengan serius. Memang kalau di sini gosip, atau berita yang belum jelas, akan disambut hangat. Kalau beritanya sudah jelas apanya yang perlu dibahas lagi?
“Kalau benar seperti itu semestinya pemerintah bertindak sigap dan tepat. Kenapa anak-anak kecil diajar masalah kekerasan, urusan perang suci, urusan masalah membela Tuhan dan berperang membawa-bawa nama Tuhan,” I Wayan Pengamat Sosial, Budaya dan Pendidikan menjawab.
Semuanya tertawa terpingkal-pingkal mendengar komentarnya I Wayan. I Wayan sepertinya kebanyakan ilmu sehingga setiap ada orang yang bicara pasti ikut komentar. Tapi pada akhirnya selalu berserah kepada pemerintah.
“Sudah jelas sekali pemerintah kita lebih senang berpidato dari pada bertindak, sukanya pelan-pelan asal terlambat, sekarang kamu malah meminta mereka supaya sigap dan cepat,” I Putu Sing Pati Rungu (I Putu Tidak Pernah Hirau) menyela.
Sudah dua hari Mentawai rata kena tsunami , pemerintah baru membentuk tim, baru rapat, baru berkoordinasi. Saking seriusnya berkoordinasi sampai salah satu anggota tim penyelamatnya ditinggal oleh kapal.
Saking lambatnya ngurus kasus korupsi Gayus, sampai dia sempat jalan-jalan ke Bali.
“Jika hal ini tidak cepat ditangani, bisa berbahaya. Bisa-bisa murid-muridnya kalau sudah besar akan menjadi orang yang radikal, dan juga bisa menjadi teroris,” tambah I Made.
Mereka semua mengangguk. Jika sudah ngomong masalah radikal , apalagi ada kata teroris, maka semuanya berdebar-debar. Semuanya ingin bertindak segera.
Hanya I Putu saja yang tidak manggut-manggut.
“Jika dipikir-pikir, semua pelajaran agama di sekolah ada pelajaran tentang membela Tuhan, membela kebenaran dan juga membela kebenaran dengan jalan kekerasan,” katanya.
Murid yang beragama Hindu tentu diajari tentang kepiawaian sang Arjuna dan Bima, tentang pelajaran masalah Bharatayuda dan Ramayana. Keduanya menceritakan tentang ksatrya yang gagah berani membela kebenaran (darma ), yang berperang, yang membunuh manusia, raksasa, kera dan butha kala lainnya yang tidak terhitung jumlahnya. Kalau bukan kekerasan yang berdasarkan agama, berdasarkan keinginan membela darma dan Tuhan, lalu apa namanya itu?
“Semua agama ada unsur kekerasannya, sama halnya bahwa agama satu sama lainnya saling bersaing: ada agama yang mengaku sebagai agama tertua dan teragung, ada agama yang mengaku paling benar, ada juga agama yang merasa paling welas asih.”
Meskipun tidak ada unsur menyiksa dan menghancurkan, tapi kalau kita sudah punya pikiran agama lain lebih muda, lebih bodoh, lebih jelek, lebih rendah, bukankah kekerasan juga namanya? Bukankah itu juga radikal?
Semuanya mengangguk-angguk.
“Masalah radikal dan teroris itu masalah siapa yang merasa dirinya paling benar dan paling banyak mempunyai massa. Jika dikemudian hari kita yang beragama Hindu merasa diinjak-injak tentu nanti timbul juga radikalisasi Hindu, jika dikemudian hari agama Hindu mempunyai pengikut paling banyak, tentu akan ada juga warga Hindu yang menindas warga agama lainnya,” kata I Putu lagi.
Sekarang belum jadi mayoritas saja banyak warga Hindu yang menindas warganya sendiri. Disamping itu, belum betul-betul tertindas saja banyak warga Hindu yang menjadi radikal , kesana kemari berkoar-koar mengatakan bahwa agama Hindu Bali adalah agama yang salah, yang harus dimurnikan , yang harus dikembalikan ke ajaran aslinya di India.
“Biar saja radikalisasi menjadi urusan saudara kita yang beragama Islam. Ada lebih dari 150 juta jumlah mereka di Indonesia, berapa orang sih yang menjadi teroris? Mestinya kita juga bercermin apakah kita sudah menjadi orang Hindu yang baik?”

=======================================


Radikal (Radicalism)
Everyone is talking quietly: they are discussing a hot issue.
“I heard that Muslim students are given lessons about ‘jihad’ during their religion class,” says I Made Simpang Siur (I Made Talk Cheap).
When there is a hot issue, it is I Made who knows what’ ups. It makes sense as he spends most of his time hanging around and he gossips a lot.
Even though the news has not yet been confirmed, everyone has started discussing it seriously. Gossiping is popular here. They don’t like discussing news that is based on fact.
What is there to discuss if everything is clear?
“The government should take proper action. Why do they teach young children about violence, holy war, defending religious belief and fight others in the name of God,” comments I Wayan Pengamat Sosial, Budaya dan Pendidikan (I Wayan Social, Culture and Education observer).
Everyone laughs when they hear I Wayan’s comment: He always gives comments when people discuss certain topics. At the end of discussions, they always blame the government.
“As a matter of fact, our government talks but no action: they are very slow in taking decision.”
You cannot expect them to take fast and straight action,” says I Putu Sing Pati Rungu (I Putu Do not Care At All).
The government only started making teams, arranging meetings and do coordination two days after the big tsunami in Mentawai. Due to their unprofessional action, one of them team member was even left off by the boat which left for Mentawai.
Due to their slow actions, the suspected and jailed tax corruptor Gayus went to Bali for holiday.
“If we don’t take any immediate action, this will become a big problem. The students will become radical people when they are grown up, or even terrorists,” adds I Made.
Everyone nods: they seem very excited as their hearts beat faster when they discuss about radicalism, terrorism, and they want to take immediate action.
Only I Putu gives no comment.
“I think all religions teach about violence and fight in the name of God or defend the truth through violence,” he says.
Hindu students are also taught about the heroism of Arjuna and Bima in battle, from the Bharatayudha and Ramayana. Both stories talk about heroism, about defending one’s own country, about killing enemies. The stories also tell how countless human, demons, monkey and other ground spirits are killed. What do you call that kind of violence? Isn’t that based on religious beliefs?
“I think each religion has its violent side: just as they compete against one another. One religion claims to be the oldest and greatest one, the other claims as the best one and one even claims as the most humanitarian one.”
“Even if you are not violent to other people whose religion is different from yours, but when you think that your religion is the best and others are worse, isn’t that violence too? Or radicalism?
Everyone nods.
“Radicalism or violence occurs when you think only yourself right and you have many followers. If we Hindus think our religion has been insulted, we might become radicals; or were we to become the biggest religion in Indonesia, there might be a possibility that we would oppress other religions,” says I Putu.
“Like now, even though we are still not in the majority at the moment, we still often oppress our own people. Some people even say that Balinese Hindu is a ‘wrong’ religion which needs to be reviewed and therefore should follow Indian’s Hindu.”
“Just let ‘radicalization’ become the Muslim’s business: You know there are more than 150 million Muslims in Indonesia, how many of them become terrorists do you think?
Why don’t we just ask ourselves if we have been good Hindus?”