Selasa, 21 Desember 2010

Bungklang Bungkling: BURON (Binatang) oleh Wayan Juniartha

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Buron’, di harian Bali Post, Minggu, 17 Desember 2010, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada



BURON (Binatang)

Manakah derajatnya yang lebih tinggi antara hewan dan manusia?

“Itu sih pertanyaan yang gampang sekali, jelas sekali manusia lebih tinggi derajatnya. Oleh karena itu, manusia yang jahat, yang derajatnya lebih rendah akan dikatakan seperti binatang perbuatannya,” kata I Made Darmawacana.

Yang lainnya pada manggut-manggut. Maklum semua anggota perkumpulan tuak (krama sekaa tuak) adalah manusia, tentu mereka akan senang kalau ada yang mengatakan bahwa manusia paling tinggi derajatnya. Jika ada yang mengatakan bahwa manusia paling tinggi derajatnya di alam semesta, tentu mereka bukan manggut-manggut saja. Mereka akan tepuk tangan sampai tangannya terasa lepas.

“Oleh karena itu, manusia yang bodoh dibilang seperti “kerbau sedang menonton gamelan (kebo mebalih gong)”, orang bingung dibilang seperti ayam diberi makan beras hitam (siap sambuhin injin), mereka yang tidak tahu membalas budi dibilang seperti anjing (nyicing singal), mereka yang member pinjaman dibilang lintah darat, atau mereka yang takut sama istri dikatakan ‘ditarik babi’ (paid bangkung),” tambah I Made.

Krama tuaknya makin terpersona oleh kepiawaian bicara I Made.

“Nama binatang juga dipakai untuk untuk mengumpat: mulai dari ‘anjing kamu’ (cicing nani), sampai ‘kera hitam’ (bojog selem), itu artinya binatang memang derajatnya lebih rendah dari manusia.”

Lagi-lagi krama sekaa tuaknya manggut-manggut. Jika terus-terusan seperti ini maka mereka akan bisa menjadi anggota dewan. Syarat utamanya hanya perlu manggut-manggut saja tanpa harus pusing, keram, ataupun ‘lepas’ kepalanya.

“Tunggu dulu, apakah memang benar sifat manusia lebih agung dari binatang,” I Ketut Nyem Lalah menyela.

“Jika binatang membunuh binatang lainnya tentu karena perutnya lapar. Jika perutnya sudah kenyang tentu dia akan berhenti memangsa hewan lainnya. Sebaliknya, jika manusia, walaupun perutnya sudah kenyang, tetap saja dia membunuh, mulai dari berebut harta, perempuan, hingga merebut kekuasaan negara.”

Oleh sebab itulah tidak terhitung jumlah perang yang diciptakan oleh manusia, mulai dari perang jaman kerajaan hingga perang dunia sampai ke perang Irak dan Afghanistan. Sementara warga binatang sampai sekarang belum pernah membikin perang.

“Pernahkah binatang membakar rumah orang, memperkosa istri orang, menimbun danau untuk dijadikan kompleks, membabat hutan untuk membangun villa? Pernah?” Tanya I Ketut kepada mereka.

Tidak ada yang berani mengangguk. Semuanya memilih untuk menggeleng-gelengkan kepala mereka.

“Pernahkah binatang membuat senapan, meriam, bom dan tank agar lebih gampang membunuh manusia? Pernahkah manusia membuat bom atom? Bom nuklir?

Lagi-lagi mereka menggeleng-gelengkan kepala. Mereka belum pernah melihat seekor kera menenteng AK-47 atau menembak manusia. Yang mereka tahu bahwa Amerikalah yang menjatuhkan bom atom di Jepang.

“Nah sekarang kalau semuanya sudah jelas siapa yang senang merusak, siapa yang rakus dan serakah, siapa yang senang membuat rusuh, sekarang coba jawab mana yang lebih tinggi derajatnya binatang dibandingkan manusia?” I Ketut bertanya.

Mereka semua terdiam, semua menundukkan kepala, tetapi mereka diam tidak berani memberikan jawaban.

=============================================

 
BURON (Animal)

Are ‘status’ of human beings are higher than animal?

“It’s a very easy question. Of course human beings are. That’s why when one does bad things, people will say that his behavior is like an animal,” says I Made Darmawacana (I Made Preacher).

Everyone nods. It is understood as they are all human beings. It’s human that they are happy when they are said to have high status. They might not just nod but they would also clap their hands if one said that they had the highest ‘status’ in the universe.

“That’s why a stupid person is called calah kebo mabaling gong (lit: like a buffalo watching gamelan); one who looks confused, called cara siap sambuhin injin (lit: like chicken being feeding black rice); one who does not appreciate one’s kindness: nyicing singal (lit: an evil mind dog); profiteer: lintah darat (lit: leech); one who is ‘afraid’ of his wife: paid bangkung (lit: bitten by pig), “ adds I Made.

Everyone is amazed by I Made’s opinion.

“Animals’ names are used to swear too; cicing nani (lit: you are a dog); bojog pelung (lit: you are a monkey), which means that animal’s ‘status’ is lower than human being.”

Everyone nods. If they keep doing this, they ‘deserve’ to be legislative assembly members. The main ‘qualification’ to be Legislative Assembly members is to ‘keep nodding without having a headache and being dizzy.

“Wait a minute, do you think that human being’s status is higher than animal?” asks I Ketut Nyem Lalah (I Ketut Tasteless and Hot).

When an animal kill other animal, it is because it is hungry. When it is full, it will stop chasing others. Human is not like that. Even when one is already full, he will still want more. One even fights to have more fortune, fights against each other because of a woman, and fights to have more political power.

That’s why countless wars have been created by human beings, from wars during kingdom eras, World Wars, to Iraq-Iran and Afghanistan wars. Animals never make wars.

“Have you ever seen any animal burn its friend’s place, rape its friend’s female, fill up lake to be used as recreation spot for tourists or ruin forest for building villas. Have you?” ask I Ketut.

Nobody dares to answer. All of them shake their heads.

“Have you seen animals produced guns, canons, bombs and tanks to kill other animals, have they made atomic bombs, or nuclear bombs?”

Everyone shakes his head. Of course they’ve never seen a monkey carries an AK-47 or shoot a human being. What they know is that it was the USA who dropped bombs in Japan.

“Now, isn’t it clear for you who is good and who is bad, who is greedy, who often creates riots, animal or human being. Answer me,” says I Ketut emotionally.

Everybody is quiet. Their heads bend down. Nobody gives comments.