Sabtu, 04 Desember 2010

Bungklang Bungkling: Kredit oleh Wayan Juniartha

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Kredit’, di harian Bali Post, Minggu, 31 November 2010, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada

KREDIT
Meskipun hari lahir orang Bali berbeda-beda, dengan wewaran maupun wuku yang berbeda-beda, namun banyak sekali yang lahir pada tumpek yang sama, yakni: Tumpek Gengsi.
Begitulah kesimpulan I Wayan Morat Marit. Diskusinya juga belum mulai tetapi I Wayan langsung memberikan kesimpulan. Warga yang lain hanya senyum-senyum saja.
“Oleh karena itulah banyak sekali orang Bali yang tidak mau mengalah, tidak boleh ada yang lebih tinggi dari dirinya, dan tidak boleh jatuh gengsi. “
Jika tetangga membeli mobil baru, mereka yang lahir pada ‘Tumpek Gengsi’ akan berlomba-lomba membeli mobil baru. Bila perlu mobil yang lebih bagus. JIka tetangganya membeli Kijang, maka dia akan membeli Mercy. Sekalipun dia tidak bisa menyetir, meskipun rumahnya jelek dan tidak ada garasinya. Akibatnya Mercy nya diparkir di bawah pohon nangka sehingga siangnya banyak burung yang membuang kotorannya di atasnya dan malamnya menjadi tempat ayam tidur. Yang penting tidak kalah gengsi dengan tetangga.
“Jika ada tetangga punya Blackberry, maka segera dia akan membeli Balckberry empat biji, sehingga mulai dari kantong baju hingga kantong celana penuh dengan Blackberry. Meskipun tidak mengerti masalah internet, tidak tahu masalah email dan chatting. Meskipun keempat Blackberry tidak ada kartunya. Yang penting kelihatan membawa Blackberry yang banyak,” kata I Wayan lagi.
Artinya yang penting memang penampilan, atau yang bisa kelihatan.
Biasanya yang lahir pada Tumpek Gengsi, kebanyakan tidak berani mengambil pekerjaan, apalagi pekerjaan kasar. Jangankan menjadi buruh, menjadi pegawai kantoran juga kadang-kadang tidak mau. Katanya gengsi kalau menjadi bawahan.
Kebanyakan orang Bali yang gengsi itu pada akhirnya bekerja di LPD (Lemah Peteng Diwang = Siang Malam Hanya di Luar) dan KKN (Kilang Kileng natakan Lima ken rerama = Tinggal minta uang saja sama orang tua).
“Kalau bekerja saja sudah tidak mau, lalu dimana orang-orang itu mendapat uang untuk biaya memelihara gengsinya?” tanya I Made Srarat Sririt.
Jika dahulu agak susah menjaga gengsi. Banyak yang menjual warisan supaya tetap bisa bertampang kaya, supaya tetap bisa mempertahankan gengsi.
“Jaman sekarang gampang sekali memelihara gengsi karena banyak sekali lembaga-lembaga keuangan yang mendorong warga Bali untuk tetap memelihara gengsi. Jika ingin memiliki sepeda motor atau mobil baru supaya tidak kalah sama tetangga, banyak sekali lembaga kredit yang siap memberi pinjaman, mulai dari lembaga finance, bank sampai LPD (Lembaga Perkreditan Rakyat),” kata I Wayan.
Jaman sekarang tidak ada barang yang tidak bisa dicicil. Mulai dari rumah, mobil dan sepeda motor, bahkan creambath dan rebounding.
“Karena semua bisa dicicil, maka jangan terkejut melihat orang Bali yang untuk beras hari ini saja tidak kuat beli, tetapi tetap bisa ke sana kemari naik Honda baru.”
Karena banyak sekali yang hidup demi gengsi, jadi jangan terkejut jka banyak orang Bali yang tidak punya tabungan dan deposito rajin sekali ke bank dan LPD. Rajin meminjam uang dan rajin mencari kredit.
Karena banyak sekali orang Bali yang ke bank dan LPD mau meminjam uang untuk memelihara gengsi, maka jangan terkejut jika melihat makin banyak saja orang Bali yang bergengsi tinggi berpura-pura kaya.
Jadi kalau lahir di Tumpek Gengsi memang seperti itu. Meskipun miskin yang penting dikira kaya oleh tetangga maupun sejawat. Meskipun tidak punya tapi masih bisa pinjam. Meskipun tidak bisa bayar tunai yang penting masih bisa mencicil.
Catatan:
Wuku, wewaran, tumpek adalah nama-nama hari dalam penanggalan Bali.

==================================

Kredit (Credit)
No matter what day a Balinese’ birth date is, they are all the same, thing…they are keen to be ‘prestigious’ (gengsi).
That’s the sort of opinion that comes from I Wayan Morat Marit (I Wayan Hard Life). Before the discussion even starts he comes up with opinions like this while his friends just smile and nod.
“That’s why Balinese are arrogant and proud,” he continues.
If a neighbor buys a new car, he will buy a more expensive one. If a neighbor buys a Kijang, he will buy a Mercedes, whether he can drive or not, or whether he has a garage. He will park his Mercedes under a jackfruit tree during the day and birds will shit under the car and during the night chickens will sleep on it. He doesn’t really care…as long as he is happy with his status.
“If a neighbor has a Blackberry, he will buy four Blackberrys, so his pocket will full of Blackberrys. It doesn’t matter for him whether he understands about email or chatting, or if his Blackberrys has phone cards or not: he just wants to show off,” adds I Wayan.
The most important thing is ‘appearance’ — or what you can see with your own eyes.
These sorts of people are usually lazy. They do not want to be workers nor staff in an office. They don’t like to be ‘subordinates’.
These kinds of Balinese will become “LPD” (Lemah Peteng Diwang = Hang Out All the Time) and KKN (Kilang Kileng Natakan lima ken rerama = Still asking for money from one’s parents even though one is already grown up).
“Where do they get their money even though they don’t work to keep their ‘prestigious’,” asks I Made Srarat Sririt (I Made Weak Body).
In old times, it was a bit difficult to keep your ‘prestigious’. Many people had to sell their inheritance to make themselves look successful.
“Today it is much easier as there are many agencies who can support you to make yourself look ‘prestigious’. If you want to have a new car like your neighbors, many agencies can help you buy something on credit, from Finance bodies, bank to LPD (village bank),” says I Wayan.
You can buy anything on credit these days; houses, cars, motor bikes and even creambath and rebonding.
“As everything can be bought on credit, never be surprised to see a poor Balinese can ride a new Honda!”
As many Balinese want to be prestigious, never be surprised to see a farmer going to a village bank. It is not because he has a deposit or saving: he goes there to borrow money.
Don’t be surprised to see more and more Balinese looking ‘prestigious’ and pretending to be rich.
Even when you are poor, you can be look ‘prestigious’ to your neighbors by buying things on credit. You can borrow money at the banks. And when you can not pay with cash, you can pay by credit.