Rabu, 26 Januari 2011

Bungklang Bungkling: Tabia oleh Wayan Juniartha

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Tabia’, di harian Bali Post, Minggu, 23 Januari 2011, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada



Cabai (Tabia)

Hal apakah yang membuat lelaki Bali menjadi stres?
Apakah karena istri ngambek?
“Waduh, kalau istri cuma ngambek dan pergi, tidak membuat mataku berkedip maupun kumisku bergetar,: Kata I Made Kaug Calep Calung.
Maklum, kalau urusan istri maupun perempuan, lelaki Bali sangat setia dengan prinsip ‘sopir bemo’. Artinya, karena lebih sering di jalan, karena tidak tahu apa yang akan dialami, kemana-mana sopir pasti membawa ban serep. Minimal kalau ketiban sial seperti ban pecah, bemonya tidak sampai mogok dan asap dapur tetap ngebul.
“Jika istri ngambek dan pergi, toh masih ada istri tetangga atau malah selingkuhan. Dan paling sial masih ada cewek kafe, yang penting belikan saja dia gelang, pasti bisa langsung dipeluk dan ‘disantap’. Inilah yang namanya ban serep, jika istri ngambek, tidak akan sampai membuat aku kelimpungan,” kata I Made sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Atau karena sabungan ayam (tajen) mau dihapus?
“Jika sabungan ayam dihapus dan dilarang oleh pemerintah, aku tidak bakalan sedih maupun lemas,” kata I Komang Saya Branangan.
Maklumlah, sudah dari jaman dulu pemerintah mau menghapus dan melarang sabungan ayam dan mereka juga berkoar-koar mau menghapus judi, termasuk sabungan ayam, karena judi dianggap melanggar hukum. Kenyataannya sampai sekarang tidak terjadi apa-apa. Presiden terus silih berganti, begitu pula kepala polisinya, tetapi sabungan ayam tetap tumbuh subur di Bali. Para pemuka agama sampai capai menyerukan, begitu juga Mangku Pastika terus menyampaikan agar warga berhenti berjudi sabungan ayam, tetapi tetap saja pada saat Galungan dan Kuningan maupun pada saat ada upacara (piodalan) di pura-pura, tajen tetap berlangsung, mulai dari tajen sembunyi-sembunyi sampai tajen yang sifatnya untuk upacara (tabuh rah), hingga tajen yang terang-terangan yang dikawal oleh pecalang dan 20% dari keuntungan masuk kas desa.
“Jika kenyataan membuktikan bahwa tidak seorangpun yang bisa menghapun tajen, lalu kenapa aku mesti khawatir jika ada kepala polisi baru yang berkoar-koar mau menghapus tajen. Namanya juga pejabat baru, masih semangat baru, biarkan saja mereka koar-koar, yang penting kita tetap bisa bermain sabungan ayam.”
Apalagi jika memang benar-benar tajen dihapus, masih banyak hiburan yang bisa didapat oleh para lelaki Bali, mulai dari ceki, bola adil, hingga togel. Menghapus judi mirip dengan mengobati keponakan yang kena ilmu santét oleh ibunya sendiri. Sekarang bisa sembuh sebentar, kemudian kambuh lagi.
Lalu apa yang bisa membuat lelaki Bali stress?
Tidak lain dan tidak bukan adalah harga cabai yang jauh lebih mahal dibandingkan harga beras, gula dan kopi. Sudah 100 ribu harga cabai per kilonya sekarang.
“Serasa aku tidak enak makan. Istriku tidak berani memakai cabai banyak-banyak, jadinya lauk nasi tidak terasa apa-apa. Supaya tidak banyak perlu cabai, maka dia pakai merica sebagai pengganti, sehingga kerongkonganku terasa sakit. Jadi karena cabainya sedikit, maka semua makanan terasa hambar,” kata I Wayan Cupak Pakpak.
Ciri khas makanan Bali adalah pedas, kalau tidak pedas, pasti sudah kehilangan identitas. Anak-anakku, istriku dan para gadis semuanya maniak rujak. Cabai satu kilo bisa habis dalam waktu dua hari. Jelas hal ini membuat keadaan keuanganku kacau. Jangankan uang untuk main ceki, atau beli tuak, untuk beli beras saja sudah susah karena habis untuk beli cabai,” kata I Nyoman Medit Pait.
Memang seperti itulah sifat cabai, bisa membuat orang mengeluarkan air mata, karena rasa pedasnya dan juga karena harganya yang mahal.

=========================================


Tabia (Chili)
“What sort of things can make a Balinese man stressed?”
“What about being left by his wife?” Comes an answer.
“No, no. It doesn’t bother him at all,” says I Made Kaung Calep Calung (I Made Crazy PlayBoy).
“The Balinese men never think too seriously when it comes to women matters. They follow what we call “Taxi Driver’ philosophy: that is, “Always remember to bring an extra tire wherever you go,” which means that when your wife leave you, you still can have your friend’s wife or your lover to ‘take care’ of . You can even have bar girls. What you need to do is to buy them something nice and then you can do whatever you like.”
What about if cock-fighting is banned?
“I don’t really care if cock-fighting is banned by the authority,” says I Komang Saya Branangan (I Komang Amateur Cock-Fight Jury).
I Komang understands well that the local authority has been trying to ban cock-fighting as well as other gambling games as it is considered against the law. But the fact: nothing happens. It’s just a kind of lip service. The president has changed from one term to another, as well as Chief of Police, but cock-fighting remains in Bali, in spite of religious leaders and governor Mangku Pastika’s appeal to stop gambling.
You still can see cock-fights during Galungan and Kuningan Holiday or even during temple festivals, from small to big ones. The cock-fights are even guarded by village vigilantes and 20% of the profit goes to the village.
“Nobody has been able to stop cock-fight, so why do we bother when the chief of police wants to? It’s always like that, when a new chief of police arrives”
“Even though n cock-fighting is banned, there are still other kinds of gambling the Balinese men do. They still have Chinese cards (ceki), domino, and lottery (nomer buntut). It is indeed very difficult to ban gambling.”
“So what sort of things makes a Balinese man get stressed?”
Chili! Especially as its price is now Rp.100 thousand a kilo.
“Food doesn’t taste good without chili but my wife doesn’t dare to use too much chili. The food she makes is tasteless. She uses a lot of pepper to replace chili. But it doesn’t help. It makes my throat sore,” I Wayan Cupak PakPak (I Wayan Eating is My Hobby) comments.
The characteristic of Balinese food is spicy: if it is not, then it’s not Balinese.
“I don’t feel like having a meal if the food is not spicy.
All of my family members love Balinese fruit salad (rujak). A kilo of chili can be finished in two days. It’s really ruined my financial situation. I sometimes can’t even afford to buy rice, let alone play Chinese card or drink palm toddy. I spend most of my money for chili,” I Nyoman Medit Pait (I Nyoman Stingy).
The fact is that chili can make you cry, because it’s hot and expensive.