Kamis, 17 Februari 2011

Bungklang Bungkling: Jemet (tekun) oleh Wayan Juniartha

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Jemet’, di harian Bali Post, Minggu, 13 Januari 2011, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada


Jemet

Apakah orang Bali tekun atau tidak?
“Jelas mereka sangat tekun, sebenarnya tidak ada yang lebih tekun dari oran Bali,” kata I Made Mayus Makudus.
Lihat saja transmigran asal Bali di Lampung, di Sulawesi. Hutan yang paling lebat sekalipun mereka babat, bukit paling tinggi pun mereka hancurkan untuk diubah menjadi sawah dan ladang. Sekalipun matahari belum terbit, warga Bali di sana sudah mulai bekerja, mencangkul dan memotong rumput. Jika tidak ada transmigran asal Bali, mungkin hingga saat ini orang Sulawesi tidak tahu enaknya beras.
“Maksudku orang Bali yang tinggal di Bali. Kalau transmigran Bali jelas mereka tekun. Kalau tidak tekun, sama siapa mereka bakal minta makan di daerah orang,” I Wayan Sinis Kritis menyela.
“Waduh, kenapa kamu mesti sangsi. Transmigran Bali sama tekunnya dengan orang Bali yang tinggal di sini. Namun di sini mereka terlalu banyak perimbangan.”
Pertimbangan pertama: Karena orang Bali merasa mayoritas di sini, sehingga mereka merasa wajib untuk memiliki rasa “belas kasihan” terhadap kaum minoritas.
“Oleh karena itu, banyak sekali jenis pekerjaan yang diserahkan kepada orang Jawa dan Lombok. Orang Bali tidak mau berebut, jadi mereka biarkan saja pekerjaan itu diambil oleh orang Jawa dan Lombok sehingga dapur mereka tetap ngebul, sekaligus bisa membesarkan anak-anak mereka dan menyekolahkannya.
Jenis-jenis pekerjaan seperti membersihkan got, mengaspal jalan, pemulung, dagang bakwan, dagang pecel lélé, buruh bangunan, CO (Cewek Orderan), OO (Ojek Orderan), PO (Penjahat Orderan), semuanya diserahkan sama saudara-saudara dari Jawa dan Lombok.
“Sekarang bahkan hingga pekerjaan memanen padi, jualan sesaji (canang) juga sudah diserahkan kepada orang Jawa dan Lombok. Orang Bali memang benar-benar sayang dan perhatian sama nasib saudara-saudaranya yang miskin dari seberang pulau,” kata I Madé lagi.
Matanya mulai berkaca-kaca menahan haru. Terharu sekali dia memikirkan kebesaran hati orang Bali. Sehingga anggota sekaa tuak yang lain juga mulai terharu.
Pertimbangan kedua, orang Bali tidak suka menyakiti orang lain, tidak suka memerintah orang maupun menggurui orang.
“Orang Bali tidak mau mengambil pekerjaan memerintah orang yang hanya mengandalkan mulut. Bukannya karena orang Bali tidak mampu, atau tidak bisa, namun karena mereka tidak suka.”
Oleh karena itu pula pekerjaan seperti GM hotel sudah diserahkan kepada bulé-bulé yang di negaranya sendiri tidak punya pekerjaan. Pekerjaan seperti direktur, pemilik perusahaan, bos restoran, pemiik travel, kritikus seni diberikan kepada orang Cina dan Jakarta.
“Sekarang bahkan makelar tanahpun sudah diambil oleh orang bulé. Kasihan mereka jauh-jauh datang mencari sesuap nasi, eh roti, supaya dia bisa memiliki mobil, villa, dan menyekolahkan anak-anaknya di Sydney maupun London.”
Sekarang I Made benar-benar menangis begitu pula yang lainnya. Mereka kagum akan kepolosan dan kebaikan hati orang Bali.
Pertimbangan yang ketiga, orang Bali tidak senang mengambil pekerjaan yang belum jelas hasilnya, pekerjaan yang memakan tenaga tetapi hasilnya sedikit. Orang Bali memang pintar, hanya pekerjaan yang cepat, gampang dan menghasilkan uang banyak yang mau diambil.
“Jika mereka mempunyai tanah, maka akan dikontrakkan, jika tidak dikontrakkan maka akan dijual sehingga langsung mendapat uang banyak. Jika tidak punya tanah maka tanah teman, tanah milik desa (tanah ayahan desa), tanah milik pura (pelaba pura) dicarikan investor. Bila perlu pura dan pretima dijual. Itulah yang disebut pintar, tidak keluar tenaga tetapi kantong menjadi tebal.”
Yang lain manggut-manggut saja. Mereka senang mendapatkan kenyataan bahwa orang Bali pintar dan bijaksana dalam mencari pekerjaan.
Pertimbangan nomer empat: orang Bali memang benar-benar kesatria, nasionalis dan heroik. Oleh karena itu kalau urusan membela negara, mengabdi kepada negara, maka orang Bali nomer satu.
“Sekalipun mereka mempunyai pekerjaan yang bagus, gaji lumayan, tetapi jika ada kesempatan mengabdi kepada bangsa dan negara dengan menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) maka mereka akan berlomba-lomba melamar. Sekalipun mereka harus mengeluarkan uang 100 juta supaya diterima, maka mereka akan berusaha. Apalah artinya uang sebegitu demi membela negara dan mengabdi kepada nusa dan bangsa. Itu baru uang, nyawa sekalipun akan mereka pertaruhkan demi membela Indonesia sebagai PNS.”
I Made lalu menangis keras-keras. Krama sekaa tuaknya juga menangis tersedu-sedu. Sekarang mereka baru sadar bahwa orang Bali termasuk juga diri mereka, bukan saja giat bekerja , tetapi juga welas asih kepada orang lain, tidak suka main telunjuk, rendah hati, pandai dan bijaksana, serta siap sedia membela bangsa dan negara. Orang Bali memang benar-benar manusia utama.

==========================================

Jemet (Hard-working)

“Are the Balinese hard-working?” comes a question.

“Of course they are. There are no other hard-working people like the Balinese,” comments I Madé Mayus Makudus (I Madé Big Mouth).

“Look at our Balinese brother who transmigrated to Lampung and Celebes. They changed the wild jungle and hilly areas to rice field and plantation. They even start work at dawn; hoeing, cutting grass, etc. If there hadn’t been Balinese there, the Celebes people might have never known what a good rice field looks like.”

“I’m talking about the Balinese who live on this island. The Balinese migrants, of course, should work hard, otherwise they will never be able to change their life,” comments I Wayan Sinis Kritis (I Wayan Smart But Sarcastic).

“Well, why do you doubt that? I guess that the Balinese who live outside the island are as hard-working as the ones who live on the island. However, what make it different is: the later have too many other obligations,” adds I Madé emotionally.

“Firstly, as they feel that they are the majority on the island, they have to be tolerant to the minority.”

“That’s why so many jobs are ‘given’ to the Javanese and Sasak. The Balinese do not like to ‘compete’ for those jobs. They just let the Javanese and Sasak do them to help them survive, to help them looking after their children and send them to school.”

“Jobs such as cleaning ditches, road pavements, rubbish collector (pemulung), meatball vendors, catfish salad vendors, building workers, bar girls, ‘chartered’ bike drivers (ojek orderan), criminals, all are done by the Javanese.”

“Currently even harvesting and offering vendors are done by the Javanese and Sasak. So we can say that the Balinese are kind-hearted and care for their ‘brothers’ from other island very much,” he continues sarcastically.

He can’t help his tear dropping and cry. He is very touched by his Balinese fellows’ kind-hearted. The other palm toddy association members (krama sekaa tuak) begin to feel touched as well.

“Secondly, the Balinese do not like hurt others nor give instructions to or direct somebody to do something with authority and are too shy to show their abilities.”

“The Balinese do not like doing jobs which involve ‘giving instructions’; it is not because they can not do it, but it is just that they don’t like it.”

“That’s why, professions like hotel general managers all are ‘given’ to the bulés who are probably unemployed in their own countries; professions such as directors, company, restaurant and travel agent owners, as well as art critics are taken by the Chinese and Jakartans.

“You can even have bulés realtors in Bali now. The Balinese just ‘accept’ the situation in which the bulés make a very good living here, can afford to buy cars, own villas and send their children to school in Sydney and London.”

I Madé’s tear is dropping that makes everyone cry. They are all amazed by the humble and kind Balinese.

“Thirdly, the Balinese do not want do any kind of jobs with uncertain reward; a kind of job that make them sweat but very little money. They are smart in which they only take quick and easy jobs but give them big money.”

“That’s why if one has a piece of land, he will lease or sell it; money comes easily. Or if one doesn’t have, he might offer his friend’s, the village property (tanah ayahan desa), the temple’s (pelaba pura) to investor to invest. If necessary, temples and pretima (god statues) will be sold. It looks they are smart; no pain but big money,” adds I Madé’s sarcastically.

Everyone nods happily because now they know that the Balinese are “smart” and “clever” in making a living.

“Fourthly, the Balinese have ‘fighting spirit’, they are ‘nationalist’ and “heroic”. That’s why in relation to “defending our country” or “serving our nation”, the Balinese are number one.”

“No matter how good one’s job is, even with good salary; but when the time comes to “serve the nation” by becoming a civil servant (PNS), one will take the chance no matter whatever it takes. And it is not a problem for one to bribe Rp. 100 million, and sometimes they even fight one another just to be a PNS.”

Suddenly I Madé cries loudly so do the other palm toddy association members as now they realize that the Balinese including them are not just ‘hard-working’ people, but also ‘kind-hearted’ to others, do not like giving others instructions, humble, smart, wise and always ready to defend their country. So being a Balinese is really something.