Rabu, 30 Maret 2011

Bungklang Bungkling: Buku oleh Wayan Juniartha

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Buku’, di harian Bali Post, Minggu, 27 Maret 2011, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada


Buku
I Made Pawah Layah amat terkejut mendengar cita-cita anaknya yang akan taman SMA tahun ini.
“Saya sangat ingin menjadi penyair, ingin belajar sastra. Oleh karena itu saya ingin melamar di Fakultas Sastra Jurusan Sastra Bali,” kata I Putu Polos Alep.
Jika saja I Made masih punya gigi pasti giginya sudah rontok semua. I Putu tidak ingin menjadi dokter, pengacara, polisi/tentara, apalagi pejabat/politisi.
“Fakultas Sastra saja merupakan pilihan yang parah, apalagi sastra Bali, pasti anakku sudah gila” kata I Made dengan berbisik-bisik ke teman-temannya sesame pecinta tuak, arak, dan pepesan lindung.
Krama sekaa tuak yang lain geleng-geleng kepala saja mendengar ceritanya I Made. Semuanya heran mengapa di jaman globalisasi-komersialisasi-komodifikasi-makelarisasi, masih ada yang ingin menjadi penyair. Jika otaknya masih waras pasti dia sudah masuk Fakultas Ekonomi. Sesudah tamat melamar jadi pegawai negeri di kantor pajak, supaya bisa menjadi seperti Gayus.
“Anakku bilang bawa di dunia ini sudah banyak sekali yang pintar, yang kaya juga sudah banyak, begitu pula manusia yang berkuasa, ingin berkuasa dan pura-pura berkuasa sudah ada dimana-mana. Yang sedikit jumlahnya adalah orang yang suka sastra, yang benar-benar tulus menjalankan ajaran darma, menceritakan ajaran yang baik dan berusaha menyembuhkan dunia yang semakin sakit.”
Semuanya bengong mendengarnya. Ada yang bengong karena tidak percaya ada murid SMA seperti I Putu mempunyai pemikiran seperti itu. Biasanya kalau masih SMA tentu yang paling dipikirkan adalah malam minggu, motor baru, handphone baru, pinggul dan susu pacar, dan bagaimana caranya membeli kondom di apotik.
Ada juga yang bengong karena kasihan dengan I Made. Jelas otaknya I Made sangat pusing. Rasanya seperti kena guna-guna.
“Tidak ada dalam kamus, seorang penyair bisa menyembuhkan dunia, bisa membuat perubahan? Yang bisa merubah dunia sekarang adalah orang yang kaya dan berkuasa, hanya investor dan politisi. Yang bisa menyembuhkan dunia adalah uang. Jika uang tidak ada, bagaimana bisa membantu orang miskin? Apakah jika perut lapar bisa menjadi kenyang karena buku, kidung, atau sajak?” kata I Nyoman Pragmatis Melengis.
Mereka mengangguk-angguk. Jika masalah uang semuanya sepakat bahwa uang lebih penitng darii syair. Artinya, orang yang banyak uangnya jelas lebih penting dari penyair.
“Lalu apa kontribusi penyair terhadap dunia, masyarakat? Paling-paling kontribusinya berupa buku yang isinya berupa cerita dan kata-kata saja. Itupun kalau ada yang mau menerbitkan buku. Kalau tidak? Kontribusinya tidka ada sama sekali,” kata I Nyoman dengan penuh semangat.
Mereka mengangguk-angguk semakin keras. I Made semakin tertunduk saja, sedih memikirkan anaknya I Putu yang nantinya tidak bisa menghasilkan uang, tidak bisa membeli mobil, tidak bisa mempercantik pura keluarga (sanggah) dengan prada maupun membuat bale dangin dengan tiang kayu jati, tidak bisa membuat karya ngenteg linggih yang mewah. Jika bukan buku tentu hanya omong kosong yang dihasilkan I Putu. Tiba-tiba saja I Made pingsan padahal dia tidak minum.

=========================================

Buku (Book)
 
I Made Pawah Layah (Have No Teeth) is very surprised having heard what his son wants to be if he finishes his school.
“I really would like to be a poet, and learn about arts. That’s why I would like to register at Balinese Arts Department, Faculty of Arts and Language, University of Udayana,” says I Putu Polos Alep (Humble Man).
I Made feel as if his teeth were dropping for his surprise. I Putu doesn’t want to be a doctor, lawyer, policeman/soldier, nor high ranking official/politician.
“Choosing the Faculty of Arts is already a really disaster, let alone, Balinese Arts Department, my son must be crazy,” says I Made quietly to his palm toddy association fellows who loves palm toddy, palm wine and chopped steamed eel.
The others just shake their head. They all can not understand why in this globalization-commercialism-modification-brokering era, one wants to be a poet. If one is not crazy, he will join the Faculty of Economy so when he graduates he will apply to be a civil servant at tax office like Gayus.
My son says that there are a lot of bright people, rich people, people with political power and also people who pretend to be in power and rich. The rare ones are ones who love arts and have commitment to promote teaching on goodness and telling people about good behavior to make the world be a peaceful place as well as to “cure” the “sick” world.
Everyone can not believe what they hear. Some because how a first grade senior high school student has such a very different perspective. Generally, most senior high school students just think about Saturday night, new motor bike, new mobile phone, how to flirt their girl friends and how to get condoms in drugstore.
Some are sorry for I Made. They guess that he must be upset for what happens to his son.
“It has never happened in history that a poet could make the world better, or make a change. Only the rich and powerful can change the world, or investors and politicians as well. The only thing that can “cure” the world is money. How can one help the poor if he doesn’t have any money? Can a book, hymn (kidung) or a poem save one from hunger?” comments I Nyoman Pragmatis Melengis. (Pragmatic Man)
Everyone nods. Everyone agrees that money is much more important than poems, or, one with lots of money is more important than a poet.
“So how can a poet give his contribution to the world, to the community? What he probably can give just a book which only tells about stories and his opinion; that’s if he might be lucky enough if a publisher is willing to publish his book. If not? There will no contribution at all,” adds I Nyoman.
Everyone agrees. I Made feels unhappy having heard that his son will not be able to make any fortune, buy car, decorate his house temple with gold leaf, build east pavilion (bale dangin) with teak post, hold big ceremonies (ngenteg linggih). He knows his son will give no contribution at all.
I Made is suddenly unconscious, in spite of no drinking at all.