Jumat, 25 Maret 2011

Bungklang Bungkling: Lontar oleh Wayan Juniartha

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Lontar’, di harian Bali Post, edisi Minggu, 20 Maret 2011, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada

Lontar

Jaman sekarang siapa yang benar-benar mau mengurus lontar?
Yang bertanya seperti itu adalah I Made Paling Pokokne; seorang mahasiswa yang sedang melaksanakan KKN di desanya. Sudah satu minggu ini dia datang ke warung tuak setiap sore hari. Sudah seminggu ini pula dia berbicara sampai berbusa-busa untuk mengajak krama untuk member perhatian yang lebih serius terhadap bahasa dan sastra Bali. Kalau dia berbicara, bisa sampai dua jam Setelah itu dia akan berbicara tidak karuan karena berada dibawah pengaruh arak Karangasem dan sate ikan. Maklum, yang namanya berada di warung tuak, tidak boleh terlalu banyak bicara. Jika berbicara terlalu banyak, bisa-bisa akan “dikerjain” oleh para senior.
Sore ini yang menjadi topik ceramahnya I Made adalah tentang lontar. I Made bilang bahwa dia sedih melihat lontar di desanya yang rusak dimakan rayap, dan tidak ada yang peduli.
“Kalian tidak tahu rupanya bahwa lontar itu adalah warisan yang sangat utama yang harganya tidak bisa dinilai dengan uang,” kata I Made dengan penuh sesal.
I Nyoman Legu Gendong, ketua (klian) sekaa tuaknya dengan sembunyi-sembunyi menuangkan arak yang paling keras ke gelasnya I Made. Sebentar lagi akan ada siaran langsung sepakboa di televisi. Dia berfikir kalau I Made dibiarkan terus berceramah, bisa-bisa acara nonton mereka akan terganggu.
“Apakah memang benar nilai lontar tidak bisa dinilai dengan uang? Kalau begitu aku akan jual saja lontar-lontar peninggalan kakekku yang dulunya adalah seorang balian sakti. Lumayanlah, hasilnya nanti aku bisa belikan motor baru, laptop baru, handphone baru dan iPad baru,” jawab I Nyoman Makelar Saplar.
I Nyoman adalah termasuk jenis orang Bali masa kini. Apa saja yang bisa dijual dia akan jual; yang tidak bisa dijual akan digadaikan. Jika saja pura dan betara bisa dijual, pasti sudah dari dulu dia akan tawarkan. Karena pura dan betara tidak bisa dijual, cukup dikontrakkan untuk obyek wisata dan view gratis untuk villa-villa investor.
“Apa benar lontar adalah warisan yang sangat utama? Jangankan bisa membaca, melihat lontar saja aku belum pernah,” sekarang giliran I Wayan Tuna Segala nya yang bicara.
Memang percuma juga memperlihatkan lontar kepada I Wayan karena dia memang tidak bisa membaca. SD saja dia tidak tamat. Hanya untuk membaca kalimat yang paling sederhana saja seperti “Ini Bapak Budi”, dia sudah sempoyongan. Keahliannya hanya pintar membaca kode-kode togel.
Seperti lepas rasanya matanya I Made saking kesalnya mendengar komentar-komentar ngawur dari para krama sekaa tuaknya. Mukanya berubah menjadi merah padam, jelas dia sudah kena pengaruh arak Karangasem kualitas satu.
“Ya ampun, kalau seperti ini berani-beraninya kalian mengaku diri sebagai orang Bali? Kalian kira apa isi lontar tersebut? Semua isinya tentang pemikiran para tetua kita, filsafat hidup, ajaran agama usada, asta kosala-kosali dan cara bercocok tanam. Semua pandangan hidup dan budaya Bali, mulai dari Tri Kaya Parisuda hingga Tri Hita Karana termuat dalam lontar. Jika lontar sudah tidak ada, dimana kita akan belajar,” katanya sambil berkacak pinggang.
Sementara itu siaran sepakbola di televisi sudah mulai.
“Tidak ada masalah lontarnya punah, toh kita sudah tidak perlu lagi tentang pelajaran kuno tentang Tri Hita Karana dan Tri Kaya Parisudha karena sudah tidak ada lagi yang benar-benar menjalankan Tri Hita Karana. Jika yang menjalankan ajaran sudah tidak ada, lalu apa gunanya masih ada lontar?”

===========================================

Lontar (Manuscript)
Is there anybody in Bali who really has the commitment to look after the old lontar (manuscripts)?
The question comes from I Made Paling Pokokne (The Most Important Thing Man) who does KKN (rural-social-action-internship for advanced university students) in his village during the last week. He has visited the palm toddy stall and has been talking and suggesting that his village fellows give more serious attention to Balinese language and arts. Hence he talks about lontar for two hours before he gets drunk from Karangasem palm toddy and eating fish satay. There is an unwritten rule at the palm toddy warung that if anyone talks too much, he will be “hazed” by the senior fellows.
The topic of their discussion today is about lontar. I Made says that he feels very sad having seen the lontar in his village that has been neglected and that nobody cares.
“Don’t you know that lontar is one of important and invaluable in heritance,” says I Made sadly.
I Nyoman Legu Gendong (Cheeky Mosquito) the palm toddy association chief (klian) quietly pours the strongest palm wine into I Made’s glass. He recalls that there will be a live football match on television, and he thinks that if he lets I Made keep talking, they will not be able to enjoy it properly.
“Are you serious that the lontar are invaluable? If so I will sell all the lontars that my grandfather inherited. He was a powerful shaman: I might be able to buy a new motor bike, a laptop, a mobile phone and an iPad,” says I Nyoman Makelar Saplar (Greedy Broker).
I Nyoman is a kind of a “modern” Balinese: selling anything he can, or mortgage anything that can not be sold. If temples and gods can be sold, he would have done it. Given this, temples and gods are offered for tourist attractions and views for villas owned by investors for free.
“Is it true that lontar are very important inheritance? I’ve never seen a lontar, let alone read one,” says I Wayan Tuna Segala (Challenged Every Which Way).
I Wayan is correct: even though he is given a chance to see lontar, it will be completely useless as he can not read. He was a drop out from elementary school. He tries very hard just to read a simple sentence, like “Ini Bapak Budi” (This is Mr. Budi). He is only good at reading lottery numbers (togel).
I Made glares at everybody as he gets very upset having heard silly comments from his fellows; his face turns red. He might have drunk too much strong Karangasem palm wine (arak).
“What kind of Balinese are you? Don’t you know what things are mentioned in lontar? It describes about our founding fathers’ thoughts, their way of life, religious beliefs, curing methods (usada), architectural codes (asta kosala-kosali), agriculture , etc. Everything is there. It also mentions about Balinese custom and way of life, from Tri Kaya Parisudha (Three Ways of Good Behave) to Tri Hita Karana (Three Connected Relations between the God, Human and Nature). If lontar doesn’t exist anymore, how we can learn those things?” he asks loudly.
Meanwhile the football match on television has started. Nobody care anymore what I Made says.
“I don’t care if the lontar is gone. I don’t think we need lontar anymore. Why do we bother to learn about Tri Kaya Parisudha and Tri Hita Karana when nobody really behaves as what indicated in those teachings these days?”