Kamis, 10 Maret 2011

Hush! Saatnya Melaksanakn Nyepi di Bali

Diambil dari artikel “Hush! It’s time to celebrate in Bali” Oleh: Norimatsu Onishi yang dimuat di International Herald Tribune, edisi 7 Maret 2011. 
Diterjemahkan oleh Putu Semiada



Bali merayakan pergantian Tahun Baru

Pulau wisata Bali menjadi senyap pada akhir minggu saat pihak berwenang menutup bandara dan pelabuhan serta menutup semua siaran radio dan televisi. Jalan-jalan yang biasanya dipadati oleh wisatawan menjadi lengang saat para pecalang mengadakan patroli, untuk memastikan penduduk setempat dan orang asing berada di dalam rumah serta meminta mereka mematikan lampu.

Pihak berwenang menutup segala aktifitas di Bali bukanlah untuk menekan gerakan politik, melainkan untuk menyambut Hari Raya agama Hindu di Bali, yang disebut Nyepi, yang jatuh bertepatan dengan tahun baru (Saka). Selama 24 jam, mulai dari hari Sabtu jam 6 pagi, orang Bali yang beragama Hindu diminta untuk tetap tenang dan mengadakan tapa brata. Pulau Bali, yang pertama kali dikenal sebagai tujuan wisata para kaum hippies dari Barat beberapa generasi sebelumnya menjadi senyap setidaknya untuk satu hari. “Selamat menikmati saat yang tenang, Selamat Hari Raya Nyepi!” Wayan Sutama, seorang pecalang, 51 tahun, menyapa sekelompok turis Australia yang berkumpul di teras sebuah hotel yang menghadap pantai.

Di wilayah Kuta ini, yang merupakan pusat budaya pantai yang hingar bingar, hanya suara kokok ayam jago dan burung dara, yang biasa tertutup oleh suara bising, bisa terdengar pada hari Sabtu. Para pecalang berkeliling menyusuri jalanan untuk mencari para pelanggar, tapi tidak menemukan siapa-siapa kecuali para pecalang lainnya atau suara kucing yang memecah kesunyian.

Sebagai pulau dengan penganut Hindu terbesar di Indonesia, negara dengan penganut Islam terbesar, Bali telah menarik banyak orang luar tahun-tahun belakangan inin sebagai akibat dari ‘booming’ industry pariwisata. Jika pihak Hollywood melukiskan keindahan Bali dalam film “Eat Pray Love”, maka kebanyakan orang muslim dan pulau Jawa dan Sumatra datang ke Bali untuk mencari pekerjaan.

Gesekan antara tradisi lokal dengan kekuatan-kekuatan luar mungkin paling keras terjadi di Kuta, yang sekaligus menjadi target pemboman oleh kelompok Islam garis keras tahun 2002 dan 2005.

Sebagai reaksi, pihak berwenang di Bali memperkuat adat berkenaan dengan perayaan Nyepi. Mulai tiga tahun yang lalu, pihak berwenang menutup Bali dari dunia luar selama 24 jam, menutup bandara pelabuhan,terutaman setelah ada agen perjalanan tertangkap basah mengangkut wisatawan pada saat pelaksanaan Nyepi sebagai bagian dari “Paket Nyepi”. Dan pada saat yang sama, pihak berwenang menutup siaran radio dan televisi, mulai dari siaran lokal dan kemudian melarang seluruh siaran melalui satelit sejak tahun lalu.

“Hikmah dari peristiwa Bom Bali adalah untuk mengembalikan tradisi kami dan tidak terlalu dipengaruhi oleh orang luar,” kata Pak Sutama. Dia dan pecalang lainnya, Nengah Renda (51), menyatakan hal tersebut sembari memandang Tugu Peringatan untuk korban Bom Bali yang terletak di areal pusat bisnis; tepat di belakang mereka berdiri toko pakaian dalam bernama 69Slam yang menampilkan seorang wanita mengikat seorang pria dengan tali anjing.

Sehari sebelumnya, di salah satu pura yang berada diantara bangunan toko di Kuta, sejumlah warga banjar Panda Mas memberi sentuhan akhir pada ogoh-ogoh, boneka raksasa yang merupakan perwujudan dari butha kala yang nantinya akan dibakar.

“Setelah mengusir pikiran-pikiran jahat, kami melaksanakan Nyepi untuk menyucikan pikiran, merenung terhadap perbuatan-perbuatan yang kami lakukan di tahun sebelumnya sekaligus melakukan instrospeksi, kata Made Mastra, 52, seorang klian banjar. “Sehingga kami menjadi bersih saat memasuki Tahun Baru.”

Anak-anak muda banjar, yang biasanya sering terlihat nangkring di jalan-jalan di Kuta, dengan turis Australia, Asia dan Eropa, diminta membuat ogoh-ogoh mereka sendiri. Sekelompok anak muda, yang dikomandoi oleh Wayan Putra Setiaman, 14, mengatakan bahwa pada saat Nyepi, mereka dengan taat tinggal di rumah, tanpa berani melangkahkan kaki keluar sebab bisa-bisa mereka akan ditangkap oleh pecalang. Mereka juga dilarang menyalakan televisi.

“Tetapi kami diperkenankan kirim sms kepada teman-teman kami sepanjang kami tidak ribut,” katanya lagi. Untuk hal ini masih menjadi perdebatan diantara para pecalang.

Kalau video games bagaimana?

“Ya,” katanya.

“Tidak,” kata anak lainnya, Wayan Wima Putra 10, sembari menampar dada temannya yang lebih besar.

“Tidak” kata anak yang lebih besar, meralat ucapannya, sembari menambahkan bahwa video games yang berhubungan dengan televise tidak diperbolehkan tetapi yang portebel masih diperkenankan.

Meskipun Bali telah memperketat tradisinya, sejumlah orang luar menyatakan Bali telah kehilangan sedikit keterbukaannya yang sudah melegenda. Ucok, seorang manajer toko tattoo yang hijrah dari Sumatra ke Bali 15 tahun yang lalu, bilang bahwa dia dan orang Islam lainnya merasa sedikit “didiskriminasikan.”

“Sejak peristiwa Bom Bali, penduduk lokal semakin curiga terhadap orang Islam,” tambah Ucok lagi, meskipun begitu orang luar akan tetap berdatangan. “Bali bagaiakan gula. Semut akan datang mengerubutinya.”

Made Darsana, 59, salah satu klian dari tiga bagian wilayah Kuta, mengatakan bahwa penduduk luar terus meningkat sebesar 2 persen per tahunnya.

Pada saat Nyepi, Pak Darsana dan puluhan pecalang beristirahat di sela-sela tugas mereka di sebuah pura sambil menikmati nasi goreng. Pak Darsana, yang fasih berbicara bahasa Inggris dengan aksen Amerika, menjelaskan bahwa dia belajar bahasa Inggris mulai 40 tahun yang lalu dari orang Indian Amerika yang bernama Joe. Joe adalah salah seorang hippies yang datang ke Bali saat Bali hanya memiliki satu dua penginapan, katanya.

“Hidup bukan hanya masalah materi, tentang bangunan tinggi,” katanya. “Hidup adalah bagaimana kita menyatu dengan dunia,” tambahnya. “Ini merupakan ajaran pokok agama Hindu. Saya tidak faham hal ini ketika saya masih muda dulu. Anda belajar hal-hal ini sejalan dengan perjalanan hidup anda.” “Saya sudah pernah ke sana, dan melakukannya.”

Sejalan dengan perkembangan dan pengaruh orang luar, lingkungan Bali mengalami kerusakan yang amat parah, katanya. Orang luar menguasai sebagian besar bisnis utama di Kuta. “Sungguh menyedihkan,” katanya. “Sekarang kami hanya memiliki budaya saja.”

Senyum Pak Darsana dan keceriaannya tidak menyembunyikan kegalauannya. Meskipun sedang merayakan Nyepi, dia semakin bersemangat sembari mengingat masa lalunya tentang bersama para hippies — bergaul dengan Joe, belajar berselancar, mencoba belajar beberapa alat musik bahkan menempuh perjalanan darat ke Jakarta yang memakan waktu tiga hari.

“Dan pacar saya berada dibelakang,” tambahnya sembari melihat ke arah klian yang lainnya, sementara pecalang yang lainnya serempak minta dia agak lebih tenang: “Shhhh!”

Dengan tenang Pak Darsana bilang bahwa pada malam hari, dia ingin memastikan bahwa wargannya akan mematikan lampu apapun maupun lilin. Hanya ibu yang mempunyai bayi dan orang sakit yang diijinkan menyalakan lampu.

“Suasananya nanti mirip seperti Kuta di tahun 1960 an,” katanya. Setelah istirahat yang panjang dan mungkin sejumlah kenangan yang tertinggal, dia menambahkan, “Saya sudah pernah ke sana, dan melakukannya.”