Jumat, 15 April 2011

Bungklang Bungkling: Cacad oleh Wayan Juniartha

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Cacad’, di harian Bali Post, Minggu, 10 April 2011, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada.
Cacad (Cacat)
Krama sekaa tuaknya lagi seru-serunya mengadakan diskusi masalah berita di majalah Time dan Wall Street Journal bahwa Bali dibilang jelek.
“Pasti yang menulis itu adalah orang buta. Berani-beraninya dia bilang bahwa sampah bertumpuk-tumpuk di Bali dan tidak ada yang mengangkut. Katanya Bali sangat kotor,” kata I Made Jele Melah Gumi Pedidi.
“Mana sampahnya? Mana bagian yang kotor? Siapa sih yang tidak tahu Tri Hita Kirana, bukankah filsafat Bali tersebut sangat terkenal, tidak ada kamusnya di Bali sampah yang bertumpuk-tumpuk. Kata I Made lagi sambil mengambil satu tum (daging babi cincang rebus yang dibungkus daun pisang).
Dia makan tum dan bungkusnya dibuang dibawah meja.
Yang lainnya mengangguk-angguk setuju. Ada yang mengambil tum, ada yang mengambil nasi jango. Setelah selesai memakannya, bungkusnya dibuang dibawah meja.
“Dasar wartawan buta. Sembarangan saja dia mengatakan Bali kekuranag air. Bukankah air berlimpah-limpah di Bali hingga meluap-luap ke rumah-rumah, hingga jalan-jalannyanya tergenang, hingga danau-danau kelebihan air. Hujan tidak putus-putus. Tidak ada rumus bahwa Bali kekurangan air?” Giliran I Komang Ajeg Bali berkomentar.
“Sekalipun memang benar Bali kekurangan air, tapi kita masih banyak punya stok arak, tuak maupun brem,” I Wayan Sengal Sengol menyela.
Jika listrik sering mati, kran PAM tidak keluar air, itu memang strategi orang Bali untuk hemat energi, supaya efisien memakai air, supaya dunia selamat tidak terkena pemanasan global. Begitu seriusnya orang Bali melaksanakan Tri Hita Karana.
Disamping buta, sepertinya wartawan itu juga tuli. Sudah jelas-jelas sampai enam kali Bali menjadi daerah tujuan wisata terbaik di dunia, berani-beraninya dia menjelek-jelekkan Bali. Jelas dia ini memang keras kepala,” kata I Wayan lagi.
Semakin keras saja mereka bersorak-sorak. Bahkan ada yang sampai menepuk-nepuk dada sembari mengatakan Bali sebagai pulau dewata, pulau surga, pulau selaksa pura. Jika saja tidak dipegang temannya mungkin dia sudah langsung kerauhan, jika tidak mengaku-ngaku sebagai Raja Bali, bisa-bisa dia mengaku sebagai Ida Betara Pariwisata Sapta Pesona Paripurna.
“Disamping buta dan tuli, dia mungkin juga idiot. Senang sekali dia berbicara masalah macet. Aku tidak pernah terkena macet, begitu luas sekali trotoarnya, tidak mungkin aku terkena macet. Asal mobilnya menumpuk, maka aku akan pindah jalur ke trotoar, sehingga aku bisa meluncur bebas hambatan,” I Putu Kebut Maut turut memberi pendapat.
Kesimpulannya: hanya orang cacat, buta dan tuli, idot yang tidak bisa melihat sorga di Bali. Hanya orang yang cacat saja yang melihat Bali sebagai neraka.
“Karena itulah ada krama di Denpasar yang tidak setuju ada sekolah cacat di daerahnya. Mungkin mereka takut jika nanti murid-murid yang cacat itu nanti tahu bahwa yang selama ini dibilang sorga adalah sebuah neraka,” tumben Ni Luh Makin Digosok Makin Sip berpendapat.
Yang lainnya diam saja. Maklum semuanya memang takut dekat-dekat dengan orang cacat; jangan-jangan ingat pada diri mereka sendiri yang memiliki banyak cacat; cacat yang tidak kelihatan, seperti iri, serakah dan dungu.

====================================================


Cacad (Handicap)
Every one is busy discussing the article “Holidays in Hell” featured in Time Magazine last week which describing Bali today.
“The writer knows nothing about Bali. How could he say there are heaps of rubbish everywhere in Bali and no rubbish collecting?” says I Made Jele Melah Gumi Pedidi (Right or Wrong it is My County).
“Where can you see rubbish here? Which part of Bali is dirty? Didn’t he know about Tri Hita Karana’s concept. It’s one the best concepts: that the Balinese have. No way that rubbish everywhere in Bali,” adds I Made as he has one more steamed chopped pork (pesan celeng).
He eats it and throws the wrapping under the table.
Everyone nods. Some have pesan celeng and the others have packed rice (nasi jango). Once they finish, they just throw the wrapping under the table.
“And how could he say Bali undergoes water shortage. Didn’t he know that there was so much water in Bali that it flooded our houses and the streets? It rains almost everyday, so how can we lack of water?” comments I Komang Ajeg Bali (Sustainable Bali).
“No matter if we are lacking of water as long as we have enough stock of palm toddy (tuak), palm wine (arak), and rice wine (brem)” says I Wayan Sengal Sengol (Rubbish comment).
When Bali often has power blackout, city water problem: it is just the Balinese “strategy” to use power and water economically, so that the world can be saved from global warming. Balinese are so serious in implementing Tri Hita Karana.
“What a stupid journalist he is. Doesn’t he know that Bali has been awarded as the world’s best destination six times? How dare he say bad things about Bali?” says I Wayan.
Everyone agrees with I Wayan. One of them beats his chest saying Bali is the Island of Gods, a paradise, an Island of Ten Thousand Temples. His friends try to hold him tight as they are afraid that I Wayan might be going into trance and claiming himself as “King of Bali”, or even worse, “the God of Tourism.”
The journalist must be idiot: He likes talking about traffic jams. I never had a traffic jam when driving my motorbike because I often drive on the sidewalk when I’m struck in traffic jam. The sidewalk is wide enough,” comments I Putu Kebut Maut (High Way Star).
“I would say that only the blind, deaf and idiots cannot enjoy the beauty of Bali: only ‘handicapped’ people consider Bali is like hell.”
That’s probably why there are some Balinese who don’t agree to have a school for the handicapped people in Denpasar: they might be afraid that they will find out that this paradise island is actually a hell,” comments Ni Luh Makin Digosok Makin Sip (The More You Rub The More She Likes It).
Everyone is quiet. It can be understood that ‘normal’ people do not want to be close’ physically, with handicapped people: if they do, they are afraid that other people know their own ‘handicaps’ too, especially envy, greed, and stupidity.