Senin, 25 April 2011

Bungklang Bungkling: Kota oleh Wayan Juniartha

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Kota’, di harian Bali Post, Minggu, 17 April 2011, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada.

Kota
Sudah tiga hari hujan turun tiada henti. Krama sekaa tuaknya hanya bermalas-malasan di warung menghangatkan badan.
“Jika tidak karena kepingin sekali dengan tuak, lebih baik aku tidur saja di rumah,” kata I Wayan Geris-Geris.
Yang lainnya tidak ada yang memberi komentar. Memang kalau lagi hujan, mereka malas berkomentar. Mereka merasa lebih baik minum tuak dan makan kacang kulit saja.
Akan tetapi semuanya serempak berpaling ketika tiba-tiba ada yang masuk warung tanpa permisi. Tanpa banyak cincong, dia langsung saja mengambil sebotol tuak dan meminumnya.
Aduh, aku seperti kehabisan tenaga, kesana kemari mencari alamatnya tetapi tidak ketemu. Aku tidak menyangka Denpasar sudah banyak sekali berubah,” kata I Made Jadul Dusun.
I Made memang tidak pernah kemana-mana. Paling jauh dia pergi ke sungai tempat dia sehari-harinya mandi atau ke balai masyarakat (wantilan) menonton sabungan ayam (tajen). Dia memang pernah ke Denpasar tetapi itu waktu dia masih kecil, saat ibunya mengajaknya ke sana untuk menjual ketela dan garam.
Tadi pagi dia tumben ke Denpasar lagi untuk membawa undangan bazaar ke salah satu banjar di Denpasar.
“Saat aku sampai di Munang Maning, aku melihat sebuah danau besar sekali. Dahulu daerah ini adalah sawah, tetapi saat ini air dimana-mana. Warga Denpasar sepertinya senang main-main, banyak yang membangun rumahnya di atas danau,” katanya.
Semuanya tertawa terpingkal-pingkal. Jelas dia tidak tahu warga Denpasar bukannya tinggal di rumah di atas danau, akan tetapi memang langganan banjir.
“Sempat juga aku lewat di Buagan, Jematang, Beraban, Pengiasan, Tulangampian, Kerobokan, wah kasian aku sama mereka. Banyak diantara mereka yang tinggal di rumah bertingkat seperti sarang burung merpati. Mereka tidur, bekerja, buang air, menjemur pakaian dalam satu tempat. Alangkah sumpeknya.
Yang lainnya tertawa terkekeh-kekeh mendengar kata-kata I Made. Sepertinya I Made tidak tahu bahwa itu adalah Ruko (rumah toko) dan Rukan (rumah kantor). Dia rupanya tidak tahun bahwa modern itu artinya ‘efisiensi’, jika sebuah kota disebut modern berarti mesti banyak gedung yang bertingkat saling berdesakan dan berlomba saling lebih tinggi.
“Benar-benar kamu kampungan De! Kenapa kamu mengasihani warga Denpasar? Jika mereka sampai mempunyai rumah seperti sarang burung merpati, tinggal di Ruko, artinya mereka adalah orang kaya. Harga ruko sampai ratusan juta rupiah. Jika sudah mempunyai ruko itu artinya mereka sudah menjadi pengusaha, yang jelas uangnya jauh lebih banayak dari pada kamu,” komentar I Wayan.
I Made bengong saja. Tidak terbayang buat dia ada orang kaya yang mau tinggal berdesakan di rumah seperti itu.
“Wah, kalau aku jelas takut tinggal di rumah seperti itu. Jika ada gempa aku mesti lari kemana, jika ada kebakaran, pastilah kita akan terbakar hangus. Apalagi kalau ruko dan rukan semakin banyak, lama-lama tanah bisa jebol. Jika sudah seperti itu, seperti apa nantinya wajah Denpasar?
I Made rupanya lupa. Jika ruko dan rukannya jebol, tentu akan semakin banyak warga Denpasar yang bertempat tinggal di tengah danau.

============================================================


Town (Kota)
It has been raining for three days: some of palm toddy association members (karma sekaa tuak) are spending their time in the warung, drinking tuak.
“I prefer sleeping at home to going out – but I can’t stop drinking tuak,” says I Wayan Geris Geris (Sleeping Soundly).
No comment from the others.
When it rains nobody really wants to comment: they prefer drinking tuak and eating peanuts.
Everyone is surprised when someone comes into the warung without permission and takes a bottle of tuak and sips it.
“Oh My God, I had looked for this address but I couldn’t find it: I didn’t realize that Denpasar has changed a lot,” says I Made Jadul Dusun (Old Fashion and Countrified).
I Made has never been anywhere: the farthest place he has been is to river where he usually takes a bath, or to the meeting hall to watch cockfights. He had been to Denpasar when he was a child, when his mother took him with her to sell sweet potatoes and salt.
Just this morning he went there again. He was asked to deliver (bazaar) vouchers to a banjar in Denpasar.
“When I arrived at Monang-Maning, I saw a big lake. It used to be rice fields, but now water is everywhere. I can’t understand why they enjoy living in houses on the lake?
Everyone laughs loudly. How silly I Made is! How come he doesn’t know that the houses often flood.
“When I passed Buagan, Jematang, Beraban, Pengiasan, Tulangampian, Kerobokan, I felt sorry for the people in those areas. How can one live in a small storey-house – sleeping, working, dry clothes in there, etc.
Everyone laughs loud: they are sure that I Made doesn’t know that the ‘houses’ he refers to are called “Ruko” (shop-houses) and “Rukan” (house-office). He might not know that ‘modern’ means ‘efficiency’, and a modern town must have lots of high buildings – no matter how tight the space is – and one building should be higher than the next.
“What a silly man you are, Made! Why do you feel sorry for people in Denpasar? When one lives in a Ruko, it means he is rich. Don’t you know that a “ruko” costs hundreds of millions of Rupiahs? So when one has a “ruko”, it means he is rich and has much more money than you do for sure,” says I Wayan.
I Made says nothing: he can’t understand how these rich people can stand living in tight “ruko” or “rukan”.
“I could never imagine living in that kind of house. How can we escape when there is an earthquake or a fire? We might get trapped inside and get burned. And if there are more and more “ruko” and “rukan”, the land might sink into the ground – what will Denpasar be like?
I Made might forget: if the “ruko” and “rukan” are sunk into the ground, there will be more and more ‘Denpasarese’ living “on the lake.”