Rabu, 06 April 2011

Bungklang Bungkling: Pacul oleh Wayan Juniartha

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Pacul’, di harian Bali Post, Minggu, 3 April 2011, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada

Pacul (Cangkul)
Krama sekaa tuaknya tiba-tiba disuruh menanda tangani surat dukungan oleh I Made Hibrida C64 ketika mereka baru saja mau duduk.
“Tanda tangan saja, jangan terlalu banyak pertimbangan,” kata I Made sembari membagikan surat.
“Dukung I Made Hibrida sebagai Ketua PSSI,” begitu isi surat yang nomer satu. Ada juga yang berbunyi “Dukung Hibrida sebagai Ketua DPR RI, dan “Mendukung Abhiseka Hibrida sebagai Raja Majapahit Cabang Gianyar Sri Sri Srayang Sruyung Kirang Langkung.
“Aku sudah bosan menjadi petani, bosan terus mencangkul tetapi tidak pernah mendapat hasil. Karena itulah aku ingin mencoba karir baru,” begitu katanya.
Semuanya merasa heran mengapa I Made sangat menginginkan posisi-posisi yang sangat tinggi itu.
“Karena aku sekarang berusaha tahu diri, aku tahu aku ini bodoh, karena itulah jabatan yang aku inginkan adalah jabatan yang tidak mensyaratkan kepintaran, yang tidak memerlukan ijasah. Sekarang kalau mau jadi tukang parkir saja atau petugas kebersihan mesti punya keahlian, dan juga ijasah.”
Tidak perlu pintar jika mau menjadi Ketua PSSI. Cukup bermuka tebal, kuping tebal, berbicara berapi-api dan tidak tahu malu. Jika dia punya malu tentu tidak akan mendapat apa-apa.
Jika menjadi ketua DPR RI memang syaratnya harus bodoh dan pura-pura bodoh serta keras kepala. Hanya manusia bodoh saja yang tega bersenang-senang membuat kantor baru seharga Rp. 800 juta per kamar sementara jutaan rakyat Indonesia rumahnya seperti kandang ayam, anaknya tidak bisa sekolah, dan orang tuanya sekarat karena tidak mempunyai biaya untuk menebus obat.
“Jika menjadi raja tidak perlu ijasah, tidak perlu pintar. Yang penting penampilan seram dan senang tunjuk sana tunjuk sini.
Yang penting, ketiga posisi tersebut menjanjikan setoran uang dan fasilitas yang mewah. Semiskin-miskinnya ketua PSSI, sekurang-kurangnya Ketua DPR RI, sebodoh-bodohnya Raja dijamin uangnya melimpah dibandingkan dengan petani,” tambah I Made.
Krama sekaa tuak mengangguk-angguk. Tiba-tiba semua mempunyai keinginan menjadi pejabat tinggi.
“De, sekarang menjadi petani tidak harus miskin. Sekarang kan ada program Simantri, ada pertanian organik, ada kredit untuk petani. Jadi masih bisa bidang pertanian dipakai untuk mencari uang,” I Wayan Jubir Jurkam menyela.
I Made tertawa mendengar kata-kata I Wayan.
“Ini akibat kamu kebanyakan mendengar pidato pejabat, Yan. Jika benar petani bisa kaya, mengapa orang-orang di kota tidak berlomba-lomba pulang ke desa untuk belajar menjadi petani? Kalau memang menjadi petani bisa menghasilkan banyak uang, lalu kenapa orang-orang Cina tidak berlomba-lomba menjual toko mereka dan membeli sawah?”
Keadaan yang terjadi sekarang adalah berlomba-lomba para investornya memberli sawah untuk dijadikan villa dan hotel. Yang terjadi sekarang adalah orang-orang Bali berlomba-lomba menjual ladang dan mengurug sawahnya untuk dijadikan perumahan dan rumah kos-kosan.
“Berapa sih hasil dari menanam padi di sawah, sekalipun memakai sistem organik, hasilnya tetap masih kalah dari menjual sawah.”
Yang paling penting adalah: bekerja di sawah memang sulit, kotor, banyak menghabiskan tenaga, banyak menghabiskan waktu, dan pada akhirnya tidak menghasilkan apa-apa; hama wereng, terpengaruh pemanasan global, dan dimakan tengkulak.
“Aku sudah bosan berkeringat, sekaranglah saatnya aku mengambil pekerjaan yang gampang tetapi menghasilkan banyak uang. Sekaranglah saatnya aku naik turun mobil, memakai jas dan dasi, menjinjing blackberry dan sering muncul di televisi.”
Oleh sebab itu, I Made menjual tanah sawahnya dan melamar menjadi ketua PSSI, Ketua DPR RI, dan Raja Majapahit Cabang Gianyar Sri Sri Srayang Sruyung Kirang Langkung.

=================================


Pacul (Farmer)
I Made Hibrida C64 comes and sees his friend to ask them to sign a letter of support for him.
“Please just sign, don’t ask,” says I Made as he reads the letter.
“Please vote I Made Hibrida to be chairman of PSSI (Indonesian Football Association),” that’s the point one of the letter. The other point says: “Vote Hibrida to be chairman of Legislative Assembly,” and “Vote Hibrida to be Majapahit King (Gianyar branch), with title Sri Sri Srayang Sruyung Kirang Langkung (Just Accept No Matter How Stupid He Is).
“I have been sick of being a farmer, work hard but gain nothing. That’s why I want to try new career” says he.
No can understand why I Made wants to have such a high career.
“I know I’m not bright. That’s why I try to chase positions which need no ‘skills’ and ‘certificate’. You know, just to be parking attendant or cleaning service, you will have to have skill and certificate.”
“Look at the chairman of PSSI. He is very “stubborn”, talk a lot and has no shyness.”
“It is similar to chairman of Legislative Assembly, He is not smart, but stubborn; just a stubborn person who asks for a new office which cost Rp. 800 million while million of Indonesian people whose house are worse that pig pen, can not afford to send their children to school and have sick parents because they can not afford to get them medicine.”
“The same situation comes if you are ‘king’, you don’t need to be smart, either. Just watch your appearance and give orders as many as you like.”
The thing is that the three positions are very promising. One can make lots of fortune and gain various facilities; it’s much more than being a farmer.
“Today being a farmer does not always means ‘poor person. One can follow some programs (organic system, loan for farmer, etc); you stil can make a living from being a farmer,” comments I Wayan Jubir Jurkam (Campaign Speak person).
“You seem to hear too much speech from the high ranking officials. If you think being a farmer can make a good fortune, why don’t urban people go to villages to become farmers? And why don’t the Chinese sell their shops and become farmers?
What happens now in Bali is that investors come to Bali and buy our rice fields and change them to villas and hotels. On the other hand, the Balinese sell their lands and change rice fields to real estate and houses for rent (kos-kosan).
“How much you can earn from being a farmer? No matter what agricultural system one uses! As a matter of fact, even one uses organic system, one still can earn more if he sells his own rice fields.
It must be noted that working in rice fields is a very hard work, muddy, and consume lots of your energy, time, but in the end you gain nothing; there will be a problem of plague caused by pant-hoppers; global warming; and bad brokers.
“I’m sick of working hard; it’s time for me to do easy job with big fortune. It’s time for me to drive a luxury car, wear tuxedo, have a Blackberry and show up on television.”
That’s why I Made plans to sell his rice fields to be able to support his goal to be chairman of PSSI, or chairman of Indonesia’s Legislative Assembly or King of Majapahit in Gianyar.