Rabu, 27 April 2011

Jatuhnya Yerusalem dan Peristiwa Penghancuran Kuil

Disadur dari kolom “The last word” dalam majalah The Week Edisi 804 tanggal 12 Februari 2011 hal. 44 – 45 dengan judul asli The fall of Jerusalem and destruction of the Temple. Diterjemahkan oleh Putu Jaya Eka Putra.




Dalam bukunya yang baru, Simon Sebag Montefiore mengisahkan sebuah peristiwa yang sangat penting
dalam sejarah Yahudi – dan dunia.


Pada hari kedelapan dari Bulan Ab (penanggalan Yahudi), atau di akhir Juli tahun 70 Masehi, Titus, putra dari Kaisar Roma Vespasian, yang memegang kendali pendudukan empat bulan atas Yerusalem, memerintahkan seluruh pasukannya untuk bersiap menyerbu kuil saat fajar. Titus memerintahkan sepasukan tentara dari empat legiun – dengan total 60,000 yang terdiri atas para Legiun Romawi dan sejumlah pasukan tambahan lokal, yang sangat ingin memberikan pukulan terakhir bagi kota yang membangkang walaupun telah hancur. Di dalam tembok-tembok (kota), sekitar setengah juta orang Yahudi yang kelaparan bertahan dalam kondisi yang memprihatinkan: beberapa orang diantaranya adalah para pengikut keagamaan yang fanatik, dan yang lainnya adalah para penjahat, tetapi sebagian besar diantara mereka adalah keluarga tak berdosa yang terjebak dalam perangkap kematian yang sangat sempurna ini. Ada banyak orang Yahudi yang tinggal di luar Yudea, sepanjang Mediterania dan Timur Dekat, dan perjuangan akhir yang tanpa harapan ini akan memutuskan bukan saja nasib kota ini dan penduduknya, tetapi juga masa depan aliran Yudaisme dan sejumlah kecil kaum Yahudi penganut Kristiani – dan bahkan, berselang enam abad kemudian, wajah dari Islam.

Di sekitar tembok-tembok kota, pemandangan yang mengerikan layaknya neraka di bumi. Ribuan jenazah membusuk terpapar matahari. Bau busuknya tidak tertahankan. Sekumpulan anjing dan serigala berpesta daging manusia. Beberapa bulan sebelumnya, Titus memerintahkan seluruh tahanan dan pembelot untuk disalibkan. Lima ratus Yahudi disalibkan setiap harinya. Gunung Zaitun (Mount of Olives) dan bukit-bukit terjal di sekitar kota dipenuhi dengan salib dan hampir tidak ada ruang lagi untuk menempatkannya, atau kayu untuk membuatnya. Para tentara Titus menghibur diri dengan memaku para korban, terhampar dan telentang dalam posisi yang tidak lazim. Dalam keputusasaan, banyak penduduk Yerusalem berniat melarikan diri dari kota, dimana saat mereka pergi mereka menelan koin-koin, dengan harapan dapat mereka ambil kembali saat mereka telah berhasil lolos dengan selamat dari pemeriksaan prajurit Romawi. Mereka (yang mencoba keluar dari kota) muncul “terengah-engah dalam kelaparan dan perut membengkak seperti orang yang akan buang air besar”, tetapi jika mereka makan mereka akan “meledak dan hancur berkeping-keping”, menurut Josephus, sejarawan Yahudi yang menjadi satu-satunya sumber dari kisah ini. Ketika perut mereka meledak, para prajurit (Romawi) menemukan harta terpendam dalam usus mereka yang mengeluarkan bau tak sedap – sehingga para prajurit mulai menyobek perut para tahanan, mengambil usus mereka dalam keadaan hidup.

Perang sebenarnya telah dimulai saat kecerobohan dan ketamakan para gubernur Romawi yang mendorong – bahkan para bangsawan Yudea, kaum Yahudi sekutu Romawi –, menjadi penyebab utama pemberontakan keagamaan. Para pemberontak ini merupakan gabungan dari Yahudi taat dan para perampok oportunis yang memanfaatkan kejatuhan sang Kaisar, Nero, dan kerusuhan yang terjadi setelah peristiwa bunuh diri sang kaisar, untuk mengusir bangsa Romawi dan mendirikan kembali negara Yahudi yang merdeka, berpusat di sekitar kuil. Tetapi revolusi tersebut segera saja berbalik arah dan memicu proses pembersihan berdarah dan pertempuran antar kelompok. Pada saat Vespasian muncul sebagai kaisar dan mengutus Titus mengambil alih Yerusalem, kota itu terbagi oleh tiga penguasa, yang memulai pertumpahan darah di pelataran kuil kemudian melakukan penjarahan di kota. Para prajurit dari pihak para penguasa ini melakukan penjarahan di sepanjang pemukiman orang kaya, merampok rumah-rumah, membunuh para pria dan menyiksa para wanita – “merupakan suatu hiburan bagi mereka”, tulis Josephus. Dibutakan oleh kekuatan dan sensasi berburu, mungkin juga termabukkan oleh minuman anggur hasil jarahan, mereka “memanjakan diri dengan bermain hal-hal kewanitaan, menghias rambut mereka, memakai pakaian wanita dan mengotori dirinya dengan sejenis balsam dan mengecat bagian bawah mata mereka”.

Walau bagaimanapun kuil tetap berfungsi seperti biasa. Kembali di bulan April, para peziarah telah berdatangan untuk menyambut hari raya Yahudi (Passover) sesaat sebelum bangsa Romawi menutup akses keluar masuk ke kota. Populasi kota yang biasanya paling tinggi di angka sepuluh ribuan, meningkat menjadi ratusan ribu orang akibat terperangkapnya para peziarah dan pengungsi perang oleh bangsa Romawi. Saat Titus mulai melingkupi kota dengan tembok-tembok para pemberontak menghentikan perselisihan dan pertempuran di antara mereka dan mulai mengumpulkan 21.000 pejuang mereka bersama-sama menghadapi bangsa Romawi. Kota tersebut adalah sebuah mahakarya seni dalam skala yang sangat besar. Mengutip kata-kata Pliny, “merupakan kota paling termahsyur di daerah Timur”, sebuah metropolis yang makmur dibangun di sekitar kuil-kuil ternama dari dunia kuno.Yerusalem telah ada sejak ribuan tahun, ‘menunggangi’ dua gunung di antara karang tandus Yudea, tetapi kini kota dengan banyak dinding dan menara ini tidak lagi sepadat atau semenarik seperti saat abad pertama masehi: memang, Yerusalem tidak akan pernah sehebat ini kembali hingga abad ke-20.

Kemahsyuran ini adalah hasil dari Herod yang Agung, sang brilian, Raja Yudea yang gila dimana istana-istana dan benteng-bentengnya dibuat dalam skala monumental dan sangat mewah dalam dekorasinya sampai-sampai Josephus berkata bahwa mereka “melebihi kemampuan saya untuk menggambarkannya”. Kuil itu sendiri memuramkan sekitarnya. “Saat fajar menyingsing”, pelataran Kuil yang berkilau dan gerbang yang bersepuh “memantulkan balik keindahan yang bergelora dan membuat mereka yang terpaksa menatapnya memalingkan mata darinya”. Ketika orang asing melihat kuil ini untuk pertama kalinya, kuil ini terlihat “bagaikan pegunungan berselimutkan salju”. Yahudi taat tahu bahwa di tengah-tengah pelataran – dari kota di dalam kota yang terletak di Gunung Moriah ini – terdapat ruang yang sangat kecil yang merupakan ruang suci tertinggi dimana yang ada hanya kehampaan. Ruang ini adalah titik fokus kesucian: yang Tersuci dari hal-hal suci, singgasana Tuhan itu sendiri.

Kuil Herod adalah sebuah tempat pemujaan, tetapi juga benteng yang tak tergoyahkan di tengah kota berdinding ini. Namun Titus, dengan persenjataan lengkap untuk pengepungan, ketapel raksasa, dan rancang bangun Romawi yang cerdik, mampu menghadapi tembok pertama dalam waktu 15 hari. (Batu ballistae, kemungkinan ditembakkan oleh Titus, ditemukan dalam terowongan di samping tembok barat Kuil Herod, saksi dari gencarnya serangan tentara Romawi.) Titus memimpin seribuan legiun ke dalam pasar Yerusalem dan menggempur tembok kedua. Tetapi kaum Yahudi dapat merebutnya kembali. Akhirnya, Titus memutuskan untuk melingkupi dan menyegel seluruh kota dengan membangun tembok keliling. Di akhir Juni, bangsa Romawi menggempur Benteng Antonia dan meratakannya dengan tanah, kecuali satu tower yang digunakan Titus sebagai pos komando.

Saat pertengahan musim panas, saat bukit-bukit gundul mulai ditumbuhi pepohonan diantara jenazah sisa penyaliban, kota ini didera perasaan akan kiamat yang sudah dekat, fanatisme yang tidak kenal kompromi, kesadisan yang aneh, dan kelaparan yang parah. Kelompok-kelompok bersenjata berkeliaran mencari makanan. Anak-anak mengambil sekeping makanan dari tangan ayah mereka; para ibu mencuri kudapan dari bayi-bayi mereka sendiri. Pintu terkunci untuk menyimpan perbekalan didobrak masuk oleh para pejuang, memaksa korban untuk memberitahukan dimana lokasi penyimpanan perbekalan sembari mengancam dengan menjulurkan pasak ke dubur korban. Meskipun para prajuri tersebut masih memiliki persediaan makanan, tindakan mereka membunuh dan menyiksa adalah sebagai bentuk kebiasaan yang dapat “melatih kegilaan mereka”. Yerusalem terpecah belah akibat ulah para pencemar nama baik yang mengadukan satu sama lain sebagai penghianat dan penimbun (makanan). Para anak muda berkeliaran di jalan “seperti bayangan, semuanya bengkak kelaparan, terjatuh dan mati, dimanapun lokasinya kesengsaraan seolah melekat pada diri mereka”. Orang-orang mati saat mencoba mengubur keluarga mereka sementara yang lain terkubur karena kecerobohannya sendiri, masih dapat bernapas (saat itu). Kelaparan melanda seluruh keluarga dalam rumah mereka. Terkadang para pemberontak membuang jenazah melalui tembok-tembok. Bangsa Romawi membiarkan jenazah-jenazah itu membusuk dalam tumpukan. Walaupun demikian para pemberontak tetap berjuang.

Di hari kedelapan bulan Ab, Titus memerintahkan gerbang kuil untuk dibakar. Sepuhan perak meleleh dan menyebarkan api ke pintu dan jendela kayu, dan dari sana menyebar ke peralatan kayu sepanjang jalan menuju Kuil itu sendiri. Saat pagi tiba, api telah menyebar hingga ke jantung kesucian Kuil. Melihat api menjilati bagian tersuci dari yang suci dan ancaman yang dapat menghancurkannya, orang-orang Yahudi “berteriak nyaring dan berlarian untuk memadamkan api”. Tapi itu sudah terlambat. Mereka membentuk barisan di Pelataran Tengah untuk kemudian menyaksikan peristiwa itu dalam diam. Para prajurit Romawi tahu akan hukum perang bahwa, sebuah kota yang menentang dengan keras akan diberi sanksi. Para legiun sangat terbakar nafsu sehingga banyak dari mereka yang terinjak atau mati terpanggang saat berlarian penuh darah dalam mengejar emas, menjarah sebanyak mungkin yang mereka bisa mengakibatkan harga emas turun di seluruh wilayah Timur. Pergumulan terjadi di antara nyala api: warga Yerusalem yang bingung dan kelaparan terjebak dan tersesat diantara pintu gerbang yang terbakar.

Ribuan warga sipil dan pemberontak berkumpul di tangga altar, bertahan untuk bertempur hingga akhir atau mati sia-sia. Prajurit Romawi yang sedang gembira menebas leher orang-orang ini seolah-olah sebuah pembantaian massal umat manusia, hingga akhirnya “di sekitar altar tergeletak mayat-mayat bertumpukan satu di atas yang lain” dengan darah yang masih mengucur turun di altar. Sepuluh ribu Yahudi tewas dalam pembakaran Kuil. “Raungan jilatan api terdengar jauh dan luas berbaur dengan rintihan para korban,” tulis Josephus, “dan karena ketinggian bukit dan banyaknya tumpukan yang terbakar, siapa saja akan berpikir bahwa seluruh kota telah terbakar.”

Yerusalem adalah – dan tetap hingga kini – sebuah kota dengan banyak terowongan. Saat ini para pemberontak menghilang ke bawah tanah sembari mempertahankan pengawasan benteng kota dan Kota Atas hingga ke barat. Diperlukan sebulan lagi oleh Titus untuk menguasai bagian lain Yerusalem. Ketika Yerusalem jatuh, bangsa Romawi dan sekutu mereka Syria dan Yunani “menyebar ke jalan-jalan kecil; mereka membunuhi tanpa pandang bulu siapa saja yang mereka temui dan membakar rumah-rumah dengan semua orang di dalamnya yang mencoba berlindung.” Tidak ada yang tahu berapa orang yang tewas di Yerusalem, dan sejarawan masa lampau selalu ceroboh dalam angka-angka. Tacitus berkata ada sekitar 600.000 orang dalam kota yang terkepung itu, sementara Josephus mengklaim lebih dari sejuta orang. Berapapun jumlahnya, yang jelas jumlahnya sangat banyak, dan semua orang ini mati karena kelaparan, dibunuh atau dijual dalam pasar perbudakan. Titus memulai perjalanan kemenangan yang menakutkan. Di wilayah Caesarea Philippi, sekarang Dataran Tinggi Golan, dia menyaksikan ribuan tahanan Yahudi saling bertempur – bersama hewan-hewan buas – hingga mati. Para legiun Romawi “secara mutlak menghancurkan sisa-sisa kota yang ada, dan merobohkan tembok-temboknya”. Titus hanya meninggalkan menara-menara Benteng Herod “sebagai perlambang nasib baiknya”. “Ini adalah akhir yang harus dihadapi Yerusalem”, tulis Josephus, “sebuah kota sangat mengagumkan dan ketenaran yang agung di antara seluruh umat manusia”.

Yerusalem telah dihancurkan sama sekali lima abad sebelumnya oleh Nebuchadnezzar, Raja Babilonia. Sekitar 50 tahun setelah kehancuran yang pertama itu, Kuil dibangun kembali dan kaum Yahudi kembali. Tetapi kali ini, setelah tahun 70 Masehi, Kuil tidak pernah dibangun kembali – dan, kecuali unutk beberapa selingan singkat, kaum Yahudi tidak pernah memerintah Yerusalem lagi hampir 2.000 tahun lamanya. Komunitas kecil Kristen Yerusalem berhasil melarikan diri sesaat sebelum akses keluar masuk ditutup. Hingga saat itu, orang-orang Yerusalem ini tetap mempertahankan satu sekte Yahudi dan berdoa di kuil. Tetapi, Kuil telah hancur, umat Kristen percaya bahwa kaum Yahudi telah kehilangan keyakinannya terhadap Tuhan: pengikut Yesus yang terpisah selamanya dari keyakinan awal ini, mengklaim sebagai pewaris yang sesungguhnya peninggalan Yahudi. Kaum Kristen membayangkan, sebuah Yerusalem baru yang surgawi, bukan sebuah kota Yahudi yang hancur berantakan. Injil yang paling awal, kemungkinan ditulis sesaat setelah penghancuran, menceritakan bagaimana Yesus telah meramalkan pengepungan kota ini (“Kamu akan melihat Yerusalem dikepung oleh bala tentara”) dan penghancuran Kuil (“Tak ada satupun batu yang tersisa”). Kehancuran tempat ibadah dan kejatuhan kaum Yahudi menjadi bukti kebangkitan baru.

Ini adalah rangkuman yang telah diedit dari Jerusalem: The Biography, oleh Simon Sebag Montefiore (Weidenfeld £25).


------------------------------