Kamis, 21 April 2011

Kisah semalam saat Odalan di Pura Penambangan Badung

(‘Primadona’ peninggalan budaya Majapahit di Denpasar).




Yang jelas terpancar darinya adalah kemegahan dalam hal ukuran dan gengsi (merupakan Pura utama, sebuah Pura Penataran Agung, dan juga pemujaan bagi para leluhur dan dewa-dewi pendiri keluarga besar Kerajaan Pemecutan). Yang membuatnya menarik adalah keindahan Pura itu sendiri: nuansa bata merah klasik yang berdiri dalam rimbunan pepohonan buah yang telah matang. Patung-patung klasik dan dekorasi yang menghiasi Pura itu sendiri terlampau berharga layaknya sebuah buku.

Saya diundang oleh Ida Cokorda Pemecutan XI untuk merayakan ulang tahun Cokorda yang ke-66, yang kebetulan – setiap 23 tahun sekali – bertepatan dengan malam bulan purnama yang jatuh saat perayaan Pura Keluarga.

Bagaimanapun juga, malam yang sangat panjang itu menjadi suatu penghormatan bagi beliau: saya belum pernah menyaksikan begitu banyak jalinan perak yang tertata rapi di atas kebaya putih berenda dan para pria macho berpenampilan menarik dengan pakaian yang tertata dalam gaya yang indah (sebuah penanda khas Pemecutan)

Setiap pangeran pengikut terlihat membawa barongnya masing-masing (beberapa diantaranya terlihat Barong Landung yang besar). Gamelan dari Pemeregan, Denpasar bermain dengan dahsyatnya sepanjang malam hingga tiba saat puncak acara: sebuah persembahyangan keluarga saat malam telah larut yang diikuti oleh pertunjukan lengkap ‘calonarang’ di dalam areal Pura; bahkan (sepasang) angsa milik keluarga tampak ikut kesurupan.