Kamis, 21 April 2011

Perjalanan Seorang Seniman Menjelang Millenium Ketiga oleh Anak Agung Gde Bagus Mandera Erawan

Kelompok Tari Gunung Sari, Indonesia



(Disampaikan dalam “International Symposium on Cultural Economics” di Tokyo tanggal 28-30 Mei 2009 dan disertakan dalam buku bertajuk “Artists’ Career Development and Artists’ Labour Markets, Support and Policies for Artists” yang diterbitkan atas kerjasama Association for Cultural Economics International dan Japan Association for Cultural Economics)

Yang terhormat President of the Japan Association for Cultural Economics, Prof. Hideo Moriya, seluruh anggota dari the Association for Cultural Economics International, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, peserta simposium ini, pertama-tama saya ingin menyampaikan puji syukur saya dengan salam

Aum Swastiastu.

Bapak-bapak dan ibu-ibu, nama saya adalah Anak Agung Gde Bagus Mandera Erawan. Nama yang cukup panjang bagi anda, saya rasa. Memang, biasanya orang-orang cukup memanggil saya dengan nama panggilan Gung De Bagus atau Gung Aji (karena saya telah menikah saat ini).

Saya dilahirkan di Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Dalam beberapa bulan ke depan saya akan berusia lima puluh tahun, yang artinya sejak saya lahir, menghabiskan masa kecil dan menjalani sebagian besar waktu di rumah yang sama. Saya mengenal desa saya dengan sangat baik, saya tahu hampir seluruh warga desa sebaik pengetahuan saya akan jemari saya sendiri. Ayah saya adalah seorang penari dan pemusik, ibu saya adalah penari, dan dalam lingkungan yang sama terdapat beberapa sepupu yang juga seniman.

Hidup di antara para seniman membuat masa kecil saya teramat sangat dipengaruhi oleh kegiatan harian mereka; menari, bermain musik, berbicara mengenai tarian dan music, dan tiada hari tanpa tarian dan musik. Suatu ketika ayah saya bercerita tentang perjalanan jauhnya ke Singaraja, di pantai utara Bali. Beliau membawa serta beberapa orang, alat musik, dan sebuah barong. Mereka menarikan barong, dari rumah ke rumah, dan memperoleh sejumlah kecil uang dari pemilik rumah. Di malam hari mereka tidur di balai pertemuan (balé banjar) setiap desa yang mereka lalui. Saat siang mereka berkeliling, menarikan barong, mengumpulkan sumbangan, dan beberapa waktu kemudian mereka tiba di Singaraja, sekitar 100 kilometer jauhnya dari desa asal mereka. Kejadian ini berlangsung saat dekade ketiga di abad ini.

Hingga seperempat abad pertama dari abad ke-20, khususnya di Peliatan, dan di daerah pantai selatan pada umumnya, kami memainkan musik kontemplatif Bali yang halus dan tenang disebut Semar Peglingan. Sewaktu beliau dan kelompoknya berkunjung ke daerah pantai utara, baru mereka menyadari bahwa alat yang serupa dapat dirancang untuk memainkan Kebyar yang dinamis. Dan hal itu terealisasi di tahun 1926, sewaktu ayah saya mendirikan kelompok Gong Kebyar. Beliau menamakannya Kelompok Gunung Sari, dan beliau pimpinannya. Langkah selanjutnya yang diambil oleh ayah saya adalah mengundang guru musik dan guru tari untuk memberi pelajaran di Peliatan, khususnya untuk gaya Kebyar. Guru ini bernama I Marya. Dari beliau kelompok Peliatan mempelajari cara-cara untuk menguasai aliran musik dan tari yang dinamis. Sejak itu Peliatan dikenal sebagai pusat musik Bali; tidak sepenuhnya bergaya pantai utara tetapi juga berbeda dengan pantai selatan. Hingga saat ini masyarakat bali mengenal gaya musik dan tari khas Peliatan.

Saya mengambil alih kepemimpinan kelompok ini setelah ayah saya meninggal di tahun 1986, dan hingga saat ini kelompok Gunung Sari masih terus hidup, menyuguhkan tarian dan musik Bali yang berkualitas kepada para wisatawan di balai desa setiap minggunya. Pertunjukan tetap ini sebagai usaha untuk mengumpulkan dana bagi kelompok dan untuk menjaga hubungan dengan masyarakat setempat yang dapat menyaksikan secara gratis. Sudah merupakan suatu tradisi, dalam suatu pergelaran, ketika banyak orang datang, banyak pula pedagang kecil di luar balai pertemuan yang berupaya mendapat sepeser uang dengan menjual minuman, makanan ringan, atau rokok. Suasana seperti ini bukan merupakan hal baru bagi masyarakat Bali yang sudah mengenalnya sejak dahulu kala. Dalam suatu prasasti dari abad ke-10, pembayaran kepada pelaku pertunjukan juga disebutkan. Tertulis bahwa suatu kelompok penyanyi yang tampil untuk istana, mereka harus dibayar sejumlah satu ma. Pembayaran dapat menjadi dua ku bagi kelompok pemusik dengan tari topeng dan pelawak, dan dapat menjadi satu ku untuk pelaku pertunjukan jalanan yang berkeliling dari rumah ke rumah. Saya tidak tahu pastinya berapa banyak satu ma atau satu ku saat ini, tetapi kemungkinan mereka adalah sebuah sistem keuangan yang ada saat itu. Dalam abad kesepuluh dikenal juga perbedaan antara para penampil di istana, yang disebut pagending sang ratu, dan penampil umum untuk masayarakat luas yang disebut pagending ambaran. Para penampil tersebut dikenal sebagai amukul (pemain musik), awayang (dalang), amuling (peniup suling), pirus (pelawak), menmen (penari topeng) dan masih banyak lagi. Jadi, dibayar sebagai penampil bukan merupakan sebuah sistem baru di Bali. Dalam prasasti yang lain disebutkan pula beberapa bentuk usaha komersial yang berhubungan dengan dunia seni; misalnya perajin emas, pandai besi, pembuat kapal, tukang kayu, di samping para pedagang murni yang dikenal sebagai wanigrama (pria) dan wanigrami (wanita). Bentuk usaha murni atau pekerjaan komersial dipisahkan dengan pekerjaan social. Hal ini telah diketahui sejak dahulu kala. Beberapa peninggalan bersejarah menyebutkan berbagai jenis pekerjaan yang ada pada abad kesembilan dan kesepuluh. Bekerja untuk kuil/pura, merawat jalan umum, atau membuat sesajen dianggap sebagai pekerjaan sosial dan tidak dibayar (ngayah). Hingga di tahun enampuluhan, di masa kecil saya, saya ingat ibu member saya sekitar 50 sen sampai 100 sen sebagai uang jajan setiap harinya. Nilai tukar saat itu adalah enam Yen untuk satu Rupiah or seratus sen. Uang ini cukup bagi saya untuk untuk membeli bubur dan minuman dingin, atau kue tradisional. Saya juga dapat menabung uang saya di sekolah karena di desa saya tidak ada bank saat itu. Untuk belajar menghitung atau menulis, kami menggunakan batu hitam datar dan tipis. Kami menyebutnya karas. Untuk menulis di atas karas kami menggunakan sebatang kecil batu abu-abu. Untuk membersihkan karas kami harus membasuhnya, tetapi dalam ruang kelas kami gunakan air liur sendiri dan mengusapnya. Jemari kami tidak pernah bersih. Kami juga belajar olahraga, atau versi lokal dari baseball yang kami sebut kasti. Tetapi kamipun belajar menari dan musik gamelan di sekolah.

Ketika saya berumur sembilan atau sepuluh tahun, saya bisa menari Baris. Menari untuk pergelaran sekolah, atau pergelaran lain di pura atau di bale banjar, saya tidak dibayar, hal itu dianggap sebagai ayahan, sebuah tugas. Tetapi ketika saya tampil bersama kelompok Gunung Sari di sebuah hotel, atau menari untuk wisatawan yang berkunjung ke bale banjar, saya dibayar, dan setiap anggota dalam kelompok juga menerima bayaran. Pembayaran yang diterima oleh kelompok harus dibagi dua; bagian yang lebih besar akan masuk ke kas kelompok, bagian yang lebih kecil akan dibagikan ke anggota kelompok.

Menari bukanlah kegiatan yang melulu saya lakukan di masa kecil. Sama dengan anak-anak lain di dunia, saya juga punya waktu untuk diri sendiri, sebagai seorang anak. Bersama teman-teman lain satu desa saya sering menghabiskan waktu di sawah. Kami menangkap belut, memancing di sungai, menerbangkan layang-layang, bermain kelereng, atau mengumpulkan capung untuk makanan ayam di rumah. Saat hari raya Galungan, serupa dengan hari Thanksgiving, kami sering membuat barong kami sendiri. Untuk kepalanya kami gunakan batok kelapa, badannya kami buat dari daun palem, dan alat-alat musiknya terbuat dari bamboo dan kaleng. Kami memainkannya dari rumah ke rumah, dan orang tua berpura-pura menghargai penampilan kami dan memberi uang receh. Malam harinya kami bermain hanya jika ada bulan purnama karena saat itu kami belum mendapatkan listrik. Terkadang kami membuat arena bermain di jalan raya karena saat malam hari hampir tidak ada lalu lalang kendaraan, kecuali satu atau dua buah sepeda. Orang-orang tidak bekerja di malam hari. Tidak ada televise, tidak ada pertunjukan filem, dan hanya dua atau tiga keluarga yang memiliki radio. Kadang-kadang, setelah panen raya dan padi telah disimpan ke lumbung (kami menyebutnya jineng) ayah saya menyewa sekelompok penari bambu atau joged untuk tampil di balai desa. Para gadis penari ditemani musik bambu. Mereka akan mengundang para lelaki dari antara penonton untuk menari bersama. Acara ini dianggap sebagai suatu acara besar. Banyak orang menjajakan minuman dan kue-kue. Anak-anak dan orang dewasa, pria dan wanita, semua tergabung dalam keramaian.

Pergelaran malam lain yang serupa juga digelar dalam sebuah upacara. Bisa berupa perkawinan, atau hari jadi sebuah pura, atau prosesi potong gigi, atau sebuah acara pembakaran jenazah (ngaben). Jenis pergelaran biasanya berbeda dengan pesta panen raya. Alih-alih menggelar joged, yang dianggap tarian umum/social, orang biasanya menggelar pergelaran wayang kulit, tari topeng, atau opera rakyat (gambuh). Semua orang dapat menonton pergelaran tersebut tanpa dipungut biaya karena acara tersebut digelar di arena terbuka atau ruang terbuka. Masyarakat desa tetangga terkadang ikut dalam keramaian, khususnya jika yang tampil adalah seniman terkenal. Keluarga yang menggelar upacara adat akan membayar para penampil, umumnya untuk menghibur orang-orang yang datang membantu seluruh pekerjaan dalam acara tersebut.

Pekerjaan yang unik dalam sebuah upacara, yang mungkin satu-satunya di dunia, adalah memasak. Biasanya, para pria dalam sebuah desa memasak bersama, mulai dari memotong babi (atau bebek atau penyu), mengiris rempah-rempah dan bumbu, sampai pada persiapan untuk penyajian. Kegiatan ini disebut maebat. Beberapa makanan ini akan disatukan dengan berbagai macam bunga dan rangkaian tunas daun kelapa (janur/busung). Beberapa bagian akan dikirim ke keluarga lain di masing-masing rumah, sebagian lain akan dibagikan kepada para pria yang sudah menyiapkan masakan tersebut, dan sisanya, biasanya bagian yang terbesar akan disajikan bagi para tamu yang datang.

Bapak ibu sekalian, peserta simposium. Saya sudah berbicara mengenai masa lalu. Masa kecil saya, pengalaman-pengalaman saya, dan kenangan saya akan kehidupan di Desa Peliatan. Saya percaya, apa yang saya lihat di masa lalu tidak akan banyak berbeda dengan orang Bali lainnya di masa yang sama. Hidup telah berubah. Saat masa kecil, ketika saya sakit, orangtua saya harus membawa saya ke Denpasar untuk menemui dokter. Diperlukan waktu setidaknya satu jam untuk menempuh jarak 24 kilometer karena banyak babi, ayam dan anjing yang berseliweran di jalan yang bergelombang. Saat ini di Peliatan saja memiliki setidaknya 20 petugas medis, tetapi untuk pergi ke Denpasar dibutuhkan waktu satu jam untuk jarak tempuh yang sama, karena kemacetan dan banyaknya perhentian karena lampu lalu lintas. Dalam hal ini, fasilitas transportasi jauh lebih baik tetapi waktu yang dibutuhkan sama dengan limapuluh tahun lalu.

Lima puluh tahun yang lalu, banyak keluarga memakai batok kelapa sebagai mangkuk sup, batang bambu sebagai gelas minum, tembikar untuk memasak, dan tidak ada dapur yang bebas dari asap hitam sisa kayu bakar. Saat para lelaki memasak untuk keperluan upacara dan tamu-tamu yang datang, mereka menggunakan peralatan sederhana seperti penanak nasi, parutan kelapa dan pisau besar untuk mengolah bumbu-bumbu. Setelah proses memasak selesai, masing-masing pria mengambil bagiannya untuk dibawa pulang. Saat ini mereka menggunakan parutan kelapa listrik, blender, dan kompor gas. Di banyak acara bersifat tradisional saat ini, jamuan prasmanan untuk tamu undangan biasanya dipesan dari perusahaan catering professional, lengkap dengan pelayan yang terlatih, peralatan makan keramik dan perak bahkan mangkuk stainless steel berpenghangat. Hidup telah berubah. Hal yang sama yang masih tersisa hingga kini adalah: menu tradisional yang sama dimasak oleh para pria, dengan bahan makanan yang sama dana rasa yang serupa, di balai desa yang sama. Apa yang dimasak oleh para lelaki ini tidak disajikan lagi sebagai hidangan utama untuk para tamu, tetapi secara sederhana disajikan sebagai bagian dari tradisi. Karena alasan ekonomi, peralatan modern digunakan untuk menghemat waktu bagi para pria. Segera setelah proses memasak selesai, para pria segera kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.

Pergelaran untuk umum di ruang terbuka, sebagai bagian dari berbagai acara tetap menjadi sebuah tradisi. Tari-tarian, musik dan tema pergelaran tidak berubah. Semangat kebersamaan, suasana, dan makna dari acara tetaplah sama. Tetapi yang berbeda adalah susunan kerumunan orang yang menonton pergelaran. Dalam kerumunan orang itu terlihat juga para wisatawan. Barang-barang yang ditawarkan oleh para penjual makanan bukan lagi minuman atau kue buatan rumah tetapi umumnya minuman ringan dalam botol, bir kaleng, kue-kue buatan pabrik yang terbungkus dengan indah dan tentu saja permen karet dan kembang gula. Penerangan berubah dari obor sederhana atau lampu templek menjadi lampu spot listrik dan sistem tata suara modern yang memungkinkan pemirsa di luar mendengarkan pembicaraan dari luar lokasi acara atau dari jalan raya. Banyak remaja pria dan wanita berseliweran di antara kerumunan orang untuk sekedar melihat-lihat daripada menonton pergelarannya, hal yang sama terjadi limapuluh tahun lalu.bedanya adalah kebanyakan dari mereka memakai blue jeans, sepatu kanvas dan mengendarai sepeda motor, tercium pula aroma wewangian import, yang tidak tersedia limapuluh tahun yang lalu.

Limapuluh tahun yang lalu, kami tidak menggelar pertunjukan secara rutin setiap minggunya. Kami menunggu agen-agen perjalanan untuk datang dan mengatur kontrak secara lisan, bukan dalam perjanjian tertulis. Para penari dan pemusik bekerja bahu-membahu untuk mempersiapkan dekorasi dan tempat duduk. Terkadang tawaran manggung untuk kelompok kami terima dari hotel terbesar di Bali, yaitu Bali Hotel di Denpasar, atau Istana Presiden di Tampaksiring, untuk menghibur tamu-tamu penting seperti para kepala negara yang berkunjung ke Bali. Seringkali dua kelompok penari Bali berbagi panggung dengan kelompok orkestra asing dalam satu malam. Untuk acara seperti ini anggota kelompok kami harus bergantian menari dan memainkan musik selama dua jam, dan saya sendiri mengambil peran utama Raja Pala dalam sebuah drama tari. Biasanya, saat pertunjukan kami usai, sang tuan rumah Presiden Soekarno memberikan beberapa kotak kecil berisikan set rias muka kepada para penari. Kemudian beliau mengundang kami untuk bergabung dalam tarian Lenso bersama para tamu diiringi alunan musik barat yang memainkan lagu-lagu Indonesia. Merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi setiap penari ketika menerima bingkisan kecil dari presiden kami. Bukan dilihat dari nilai barang tersebut, tetapi makna yang terkandung di dalamnya. Orangtua saya berkata bahwa di masa-masa awal mereka tidak punya tata rias bermerek. Saat itu mereka hanya menggunakan arang, perasan jeruk, lempung tanah kuning, dan sirih untuk merias diri sebelum menari.

Tampil untuk hadirin asing di luar negeri pertama kali dimulai tahun 1931, saat kelompok Gunung Sari dikirim ke Eropa untuk manggung di Marine Theater, Paris. Bali masih dalam pendudukan pemerintah colonial Belanda saat itu, hingga apapun yang kami lakukan adalah atas nama sebuah koloni Belanda. Setelah kemerdekaan dan lepas dari kolonialisme kami dikirim ke Amerika Serikat dan Eropa pada tahun 1952 dan 1953 dalam suatu perjalanan panjang selama enam bulan. Di tahun 1968 saya diundang untuk bergabung dengan kelompok penari dan pemusik almarhum Ida Bagus Tilem untuk memperkenalkan Hotel Bali Beach yang baru saja dibuka. Pertunjukan ini digelar selama tiga minggu di Bangkok. Di tahun 1971 kami berpartisipasi dalam Festival Moornba Australia dan kami tampil di Sydney, Melbourne dan Canberra. Perjalanan lain yang pernah saya ikuti adalah acara yang dibuat oleh Presiden PATA, dan kami tampil di semua negara di Asia dan Pasifik. Perjalanan lain yang menyuguhkan tarian dan musik Bali diantaranya; tahun 1977, bersama kelompok Art Centre dalam acara Asian Festival di Hongkong; tahun 1981 di New York, San Fransisco dan Mexico; 1985 saat Tsukuba Exhibition di Tokyo; 1988 bersama kelompok Tirta Sari di Okinawa dan selanjutnya 1990 di Kawasaki City; 1991, sebuah pergelaran gabungan antara kelompok Tirta Sari dan pelajar Jepang yang mempelajari tarian dan musik Bali yang berlangsung di Kyoto, Nagoya, dan Gifu; 1996 kelompok Gunung Sari tampil di berbagai kota di Amerika Serikat; 1997 rangkaian penampilan dan eksebisi pada Festival Tosimaen, dan perjalanan terakhir pada 1998 ketika kami tampil di Perancis, Jerman, Belanda dan Swiss.

Hidup sebagai seniman, khususnya sebagai penari, tidaklah mudah. Pergelaran mingguan yang diadakan di desa kami tidaklah cukup untuk menopang kehidupan kami. Oleh karenanya, banyak seniman yang harus mencari penghasilan dari pekerjaan lain seperti pegawai negeri, guru, petani, atau pedagang. Sekali waktu pemerintah memberi subsidi kepada kelompok kami, tetapi jumlahnya sangat kecil. Hanya sekali kami menerima sejumlah dua juta rupiah dari Gubernur Bali, bersamaan dengan Piagam Penghargaan.

Dibandingkan dengan seniman yang bergerak di bidang lain, para penari dan pemusik kurang memiliki kesempatan untuk menjadi lebih produktif, apalagi jika berkecimpung dalam seni pertunjukan tradisional Bali. Hanya sedikit dari produk teknologi modern yang dapat diterapkan ke dalamnya. Ketika para pemahat dapat dengan mudah menggunakan peralatan listrik untuk pekerjaan kayu, dan tungku elektrik atau minyak tanah untuk mengeringkan kayu, sama halnya dengan para pelukis yang dengan mudahnya menggunakan pewarna cepat kering, dan para produser film yang menggunakan animasi computer dan mesin-mesin editing, para seniman pertunjukan tradisional harus tetap setia dengan peralatan tradisionalnya. Biaya pengiriman peralatan tradisional ini tidaklah murah, tetapi tidak mungkin juga untuk merancang model yang baru yang dapat dengan mudah dibongkar pasang. Ruang yang diperlukan untuk satu penampilan, jumlah penampil dalam satu panggung, adalah hal yang lebih penting untuk dipecahkan oleh para produser. Masalah ini kerap muncul ketika kami merancang kontrak pertunjukan dengan sponsor dari luar negeri, ditambah lagi berbagai macam peraturan baik di Indonesia maupun di Negara yang akan dikunjungi. Di sisi lain, permintaan akan sebuah kehidupan yang lebih nyaman, kerja yang lebih produktif, dan kualitas yang lebih tinggi semakin kuat. Banyak kelompok-kelompok yang menampilkan pertunjukan dengan kualitas yang buruk secara rutin dengan alasan keuangan hanya untuk menjaga kelompok tetap hidup. Mereka juga memiliki masalah dengan anggotanya sendiri yang sangat sulit mendapatkan waktu luang untuk latihan rutin, utamanya karena anggota kelompok mereka harus bekerja keras untuk menopang kehidupan keluarga mereka.

KESIMPULAN:

  • Di satu sisi, masyarakat Peliatan sudah mencapai satu titik perekomonian yang mana jauh lebih tinggi dibandingkan limapuluh tahun yang lalu. Tingkat kunjungan wisatawan yang terus meningkat membuka peluang bagi masyarakat lokal untuk mendapatkan pendapatan lebih bagi toko-toko, penginapan kecil, restoran kecil, industri rumah tangga dan jasa layanan yang lain. Kegiatan-kegiatan ini membutuhkan lebih banyak tenaga kerja dari wilayah sekitarnya. Di sisi lain, banyak penduduk asli Peliatan yang harus tinggal di suatu tempat jauh dari desanya karena pekerjaan yang mereka punya.
  • Banyak penduduk desa yang sudah tua tetap menjalankan ritme kehidupan pertanian. Mereka selalu memiliki waktu untuk berbincang di kedai kopi dan balai desa di sore hari, dan beberapa orang yang lain dating dengan membawa ayam jantan yang biasa dielus sambil berbincang. Lebih banyak lagi orang, generasi muda yang produktif, seringkali berkata bahwa mereka terlalu sibuk untuk bias datang ke acara pertemuan desa (banjar), atau terlalu banyak pekerjaan yang mereka harus lakukan sehingga tidak ada waktu lagi untuk melakukan kegiatan non produktif.
  • Pembayaran bagi para seniman yang sudah tampil dapat diterima di masyarakat, tetapi mereka membawa pesan yang sifatnya etika lebih daripada sisi ekonomis. Perjanjian formal dan pasti hanya diperuntukkan bagi para seniman panggung Bali dengan promoter dari luar wilayah Bali.
  • Penggunaan teknologi modern dalam kegiatan yang sifatnya tradisional tidak serta merta mengubah pemahamanan masyarakat terhadap tradisi itu sendiri.
  • Standard hidup dan pendapatan yang lebih tinggi diikuti oleh lebih banyak lagi kebutuhan. Orang yang lugu tetapi memiliki uang banyak dapat dengan mudahnya tergoda oleh iklan yang sering membawa orang ke gaya kehidupan yang konsumtif.
  • Dampak positif dari meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Peliatan diikuti pula oleh meningkatnya permintaan berbagai macam barang untuk melayani para pengunjung. Adanya jarak antara standard para pengunjung dengan standar yang diterapkan penduduk lokal mengakibatkan melambungnya harga makanan dan barang-barang kebutuhan pokok dibandingkan daerah-daerah non tujuan wisata di Bali. Bagi mereka yang berkecimpung dalam bisnis pariwisata, perbedaan harga ini dapat dimaklumi. Bagi mereka yang berpendatan sesuai standard lokal perbedaan yang mencolok ini tentu akan membawa masalah.

PESAN-PESAN:
  • Pandangan umum tentang Peliatan, dan desa-desa lainnya di Bali yang memiliki kondisi dan masalah yang sama, data menjadi suatu laboratorium lapangan bagi para sosiolog untuk mempelajari hubungan antara tradisi lokal, pariwisata, budaya, dan pertumbuhan ekonomi.
  • Suatu dasar untuk memfasilitasi para pelajar asing dan peneliti yang dapat dikembangkan untuk keuntungan masyarakat lokal dan para akademisi di dunia.
  • Pendidikan informal dapat diberikan kepada anak-anak setempat untuk mengantisipasi perubahan yang sangat cepat ke depannya, khususnya dampak dari perubahan politik di Indonesia, sistem perekonomian global, dan permasalahan ekologi.

Bapak ibu yang terhormat,

Demikianlah saya sampaikan tentang apa yang saya ketahui, apa yang saya pikir saya tahu, dan apa yang saya pikir perlu untuk saya ketahui. Terima kasih atas perhatian dan partisipasinya.

Aum shanti, shanti, shanti, Om.