Selasa, 03 Mei 2011

Bungklang Bungkling: Uled (Ulat)

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Uled’, di harian Bali Post, Minggu, 24 April 2011, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada

Uled (Ulat)
Jika tidak ada hujan tidak ada angin, tiba-tiba desa anda diserbu oleh ribuan ulat bulu, adakah ini pertanda sesuatu?
“Itu pertanda bahwa ulat tersebut tidak tahu tukang cukur atau salon. Jika ada tukang cukur Maduratna atau salon, tentu tidak akan seragam model bulunya; ada ulat yang keriting, gundul, cepak, dan juga rebonding,” kata I Putu Tawah Matah.
Mereka pada tertawa semua. Begitulah akibatnya jika bertanya pada orang yang kurang waras, jawabannya pun menjadi tidak waras.
“Itu artinya peringatan terhadap diri kita. Mungkin ada sesaji yang kita haturkan kurang, atau baktinya yang tidak tulus, sahut I Made Tirtayatra Miratdana.
Begitulah akibatnya jika senang sekali merasa seperti paling tahu kehendak Ida Bethara (Tuhan). Ketika terjadi gunung meletus, katanya Ida Bethara murka, ketika terjadi tsunami, katanya Ida Bethara ngambek. Ada ulat mewabah, katanya Ida Bethara tersinggung karena sesaji (aci-aci) nya kurang. Sepertinya Ida Bethara tidak punya pekerjaan lain selain membuat bencana dan mala petaka.
“Pola pikirmu sama seperti Ketua DPR yang dengan santainya mengatakan bahwa wabah ulat bulu merupakan peringatan Tuhan. Jika Tuhan memang senang memberi peringatan tentu “barang” ketua DPR nya yang direbut ulat bulu terlebih dahulu karena memang tidak tahu malu; tetap bersikukuh membuat gedung baru untuk dipakai tidur,” komentar I Wayan Bungut Lengut.
Jika memang setiap kali Ida Bethara emosi lantas membuat bencana—gunung meletus, gempa bumi, wabah rabies, wabah ulat—lantas apa yang akan dibuatnya jika Ida Betara merasa senang? Pasti hujan emas, gunung mengeluarkan uang serta angin yang membawa supermi.
“Karena sampai sekarangpun belum ada hujan emas, maka sampai jika kita ingin mempunyai uang kita harus bekerja mengeluarkan keringat, dan jika kepingin supermi mesti beli sendiri; artinya cuma satu: Ida Bethara tidak ada kaitannya dengan urusan gunung meletus maupun wabah ulat,” begitu kesimpulan I Wayan.
Mereka semuanya mengangguk-angguk setuju. Memang tidak ada yang suka jika dibilang Ida Betara dikatakan hipertensi atau emosi tinggi, sedikit-sedikit membuat bencana, sedikit-sedikit tersinggung.
Ida Bethara kita memang santai, tidak senang marah-marah. Muara sungai di urug oleh investor, tanah milik pura di kontrakkan menjadi vila, pura yang dijadikan obyek wisata, upakara/upacara dijadikan proyek, tetap saja Ida Bethara kita santai.”
Ida Bethara percaya manusia sudah pintar, bisa berfikir sendiri, sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk.
“Manusia lahir sudah membawa otak. Itu artinya kita disuruh untuk berfikir, supaya tidak setiap ada bencana , kita langsung menyatakan bahwa itu kehendak Tuhan. Jika kita berfikir seperti itu, sepertinya rugi Ida Bethara memberi manusia kemampuan untuk berfikir (idep).
Artinya, urusan ulat tidak ada kaitannya dengan Ida Bethara.
“Bisa jadi wabah ulat bulu ini disebabkan oleh semakin berkurangnya populasi semut dan burung yang berfungsi memakan ulat. Bisa pula karena ulatnya tidak tahu soal KB. Apalagi sekarang ini lagi musim hujan sehingga terasa dingin , tentu ulatnya tidak mempunyai kegiatan lainnya selain sibuk “membuat anak” saja,” kata I Wayan lagi.
Mereka semua menggangguk setuju. Jika ulatnya tahu KB, tahu tingginya biaya sekolah, asuransi kesehatan, cicilan dan kredit di sana sini, tentu ulatnya tidak akan berani beranak, minimal bulunya akan lepas sehingga menjelma menjadi ulat yang botak karena stress memikirkan hidup.
Akan tetapi, sejelek-jeleknya ulat, dia tetap lebih baik dari orang jahat. Tidak ada orang jahat yang bisa berubah menjadi “kupu-kupu” (orang baik), apalagi menghasilkan benang sutra yang bagus (menghasikan sesuatu yang berguna).” Paling-paling orang jahat akan berubah menjadi orang yang bertampang insyaf dan tobat, ke sana kemari membawa-bawa nama Tuhan dan sepertinya paling tahu kehendak Tuhan.

==================================================================


Uled (Hairy Caterpillars)
“Recently thousands of hairy caterpillars have “attacked” villages. What does it mean?” comes a question.
It means that the they “never go to a barber or beauty salon”. If they do, their “hairy” styles would be different; curly, bald, short hair, and re-bonding as well,” replies I Putu Tawah Matah (Just Talk Without Thinking).
Everyone laughs. They realize that that kind of comment always comes when a question is asked to crazy people like I Putu.
“It’s a sign for us. Perhaps we should carry out bigger rituals, or we might have done something wrong that make the gods angry,” comments I Made Tirtayatra Miratdana (Pilgrimage Funded By ‘Dirty’ Money).
Everyone seems to know everything about the gods’ minds: when there is a volcanic eruption, or a tsunami, or a caterpillar plague, they say the gods are angry. They think that the gods have no other job other than creating disasters.
“The way you think is similar to the Legislative Assembly members who say the caterpillar epidemic is a “warning” from God. If God likes creating disasters, the first target should have been them as they never listen to the people. They keep wanting to build a new huge hotel-like office for themselves when most of Indonesian are still living in poverty,” says I Wayan Bungut Lengut (Sweet Talk).
“If the gods created natural disasters — volcanic eruptions, earthquakes, rabies or caterpillar epidemics — every time they got angry, what would they do when they were happy? Distribute gold, money, rice or Supermi noodles?”
“As to date we have never seen things like that, it means that we still have to work hard to survive, or you have to buy your own supermi if you want. The conclusion is the gods have nothing to do with natural disasters,” concludes I Wayan.
Everyone nods. They don’t like people who say the gods are often angry or create natural disasters.
“Our gods (bhetara) are easy, they do not like swearing at their followers: when a river delta in Kuta was claimed and filled in by an investor, or when a temple’s property is rented out for villas, or when temples are changed to tourist attractions, or when ceremonies and rituals become business-oriented ……….. our gods never complain”
It seems our gods know well that humans are smart and know what they are doing.
“We are born to think: that’s why we have to use our brains, and not always blame our gods every time we have a problem or a disaster. Otherwise, it’s no use the gods giving us brain.”
“So hairy caterpillar epidemic has nothing to do with the gods.”
“I would think that this epidemic has been caused by extinction of birds and ants (less and less predators that prey on hairy caterpillars). Or the hairy caterpillar might not be aware of “family planning”; and as it has been raining recently, they breed very fast,” says I Wayan.
Were the caterpillars be human, they would know KB (Family Planning program), and how expensive education and health insurance is, there were bills to pay, hence they would think twice before breeding; knowing how expensive life is.
“Well, no matter how bad the hairy caterpillar epidemic is, don’t they know that caterpillars will turn into beautiful butterflies or produce expensive silk.
“No matter how destructive the caterpillars are, they are much better than bad people. Bad people never turn into good ones or produce good things. Instead, they just turn into a bunch of hypocrites who they pretend to know everything about the gods or act in the name of the gods.