Jumat, 06 Mei 2011

SUATU TEMPAT DI PASIFIK SELATAN

Disadur dari kolom Bali Landscaping dari Majalah ‘Bali Styles Vol.7 No.12011’ berjudul “Somewhere in The South Pasific”. Diterjemahkan oleh Putu Jaya Eka Putra.


SUATU TEMPAT DI PASIFIK SELATAN

Telah ditakdirkan. Seperti jelas terlihat. Untuk melanjutkan perhatian dunia terhadap desain arsitektur dan lansekap Bali. Terkenal sebagai praktisi ternama dalam seni dan khasanah budaya Asia, Made Wijaya telah berhasil sekali lagi. Kali ini di tempat yang sangat jauh, Florida, berbekal materi desain untuk Taman Asia sebagai bagian dari Kebun Raya Naples. Berikut ini adalah artikel mengenai hal tersebut oleh Mia Porsche.

Teks oleh Mia Porsche | Foto-foto atas sepengetahuan dan ijin dari Made Wijaya



Di tahun 2006, Made Wijaya, desainer lansekap ternama dari Bali diminta oleh manajemen Kebun Raya Naples untuk bergabung dalam tim ahli taman tropis untuk mengembangkan masterplan baru bagi Taman Asia yang akan diperluas.

Saat itu, kebun raya tersebut – berada tepat di atas jalur perairan , dipenuhi oleh buaya air tawar dan burung-burung – masih dalam skala kecil tetapi tetap terawat dengan sokongan dana dari sebuah komunitas pensiunan yang berasal dari dunia investasi perbankan.

Made Wijaya bersama dengan Raymond Jungles, Bob Trokowski dan Ellen Goertz, tiga orang ‘sahabat’ dalam perkumpulan arsitek lansekap Amerika Serikat, mengembangkan sebuah masterplan yang mencakup rangkaian ‘ruang pameran’ bagi perwakilan taman-taman Brazil, Karibia, Florida, dan Tropis Asia, ditambah beberapa lokasi taman untuk anak dan aktifitas lainnya.

Setelah proses masterplan berakhir, Made Wijaya dan tim yang umumnya terdiri dari asisten desainer khusus Bali dan para seniman Bali merancang sebuah “Taman Asia” yang akan memberi pengetahuan kepada khalayak ramai akan pentingnya kawasan Asia Tenggara dalam masa eksplorasi dan perdagangan (perdagangan rempah khususnya). Dengan cepat Made Wijaya menemukan bahwa sekitar 70% benih tanaman yang ada di dunia berasal dari Asia dan apa yang dipikir oleh sebagian besar warga Amerika, bahwa Bali adalah “suatu tempat di Pasifik Selatan”.

Desain akhir Taman Asia meliputi beberapa bagian, yaitu bagian Asia Kuno – tempat pemujaan berundak dan panggung batu, disebut COMPANG, ditemukan di desa-desa kuno mulai dari Timor hingga ke Tibet, ditambah sebuah replika ‘reruntuhan’ candi Hindu Jawa yang diambil dari Candi Sukuh, candi terakhir era Hindu Jawa, didesain dalam gaya Jawa yang ‘asli’. Tim Wijaya juga mendesain sebuah lahan persawahan dan area penjualan dalam taman yang berisikan tanaman dan rempah-rempah dari Asia, yang berlokasi di sebelah paviliun Thailand yang menghadap kolam air sebagai simbol pentingnya elemen air dalam seni menata taman Asia. Bahkan Taman gaya Bali dibuat replikanya dari Pura Beji yang banyak ditemukan di sekitar pusat-pusat mata air di pedesaan Bali. Pintu masuk taman terinspirasi dari pintu masuk menuju taman makam raja-raja yang terkenal di Vietnam Tengah, di luar wilayah Hue, dekat Danang.

Di awal tahun 2010 pekerjaan dimulai di bawah pengawasan direktur kebun raya, Brian Holley, dan juga manajer proyek, John Carson. Di bulan Juli 2010, empat orang seniman pertamanan Bali sebagai bagian dari pasukan elit PT. Indosekar yang tiba di Amerika untuk memulai proses perakitan paviliun, candi dan patung-patung, yang merupakan hasil karya seniman patung handal Made Cangker, berasal dari Desa Keramas, dekat Klungkung. Secara khusus, batu kapur setempat dibentuk menjadi teras dan anak tangga sehingga menyerupai gaya Asia yang sebenarnya, tetapi juga mewakili apa yang dilakukan oleh bangsa Maya dan Amerindian.



Seperti diperkirakan, orang-orang Bali menjadi terkenal di lapangan dan juga bagi komunitas lokal. Dewa Sucipta, sang pemimpin tim, ditampilkan dalam koral lokal (Naples Daily) sebagai “master gardener, guru meditasi, dan si bokong padat,” oleh staf wartawan Sally Entot Malulu.

Mereka mempesona bagai sekumpulan macan kumbang dengan keahlian memahat mereka, kemampuan merangkai atap alang-alang, penanaman dan keterampilan tangan. Made Wijaya sendiri melakukan dua kali kunjungan ke Naples dalam tiga bulan terakhir masa pelaksanaan proyek. Dalam kunjungan yang terakhir, beliau memberikan kuliah bagi anggota klub Kebun Raya dengan judul “Gerakan Taman Tropis Romantis dan Depresi Pasca Aliran Zen”. Beliau menjelaskan mengenai gagasan bahwa tampilan “kecupan abad ini” menjadi kunci sukses dalam taman tropis, dan beliau ingin Taman Asia di Kebun Raya Naples tampil dalam keasliannya dan bukan seperti taman bertema Hindu. Beliau juga menambahkan mengenai beberapa pohon Palem Sabel lokal ke dalam kumpulan tanaman tropis untuk mendapatkan kesinambungan dengan lansekap sekitar dan areal semak belukar.

Taman Asia dibuka oleh Sarah Palintanggal 9 November 2010 dalam riuh rendah tepuk tangan. Orang-orang Bali, dengan bantuan Made Wijaya yang terlahir kembali sebagai orang Bali (terlahir di Australia sebagai Michael White) telah berhasil sekali lagi menampilkan karya kreatif dari pulau ini.

Kebun Raya Naples (Naples Botanical Garden)

4820 Bayshore drive Naples, Fl 34112

Tel. +1239643 72 75/ +1 877-438-1874

Website: www.naplesgarden.org

Contact: PT. Wijaya Tribwana International

Villa Bebek

Jalan Pengembak 9B, Mertasari – Sanur 80228

Bali – Indonesia

Tel. +62 361 287668/287632

Fax. +62 361 286731

eMail. wlands@indosat.net.id

ptwijaya@indo.net.id

Website. www.ptwijaya.com