Selasa, 08 November 2016

Kisah Perjalanan Resi Markandya ke Bali


Terlampir beberapa foto baru dari kami. Ini foto-foto kunjungan kami ke pura-pura di Lembah Wos yang terletak diantara Campuan (Ubud) dan Taro.

Kami diundang oleh Pak Agung Muning, yang sudah lama kami kenal. Namun kami saling memberi kabar secara lebih intensif mulai tahun lalu. Beliau adalah kurator Museum Puri Lukisan di Ubud.

Dia mulai bekerja di sana sejak awal berdirinya museum itu, dan sekarang usia beliau 51 tahun. Dulunya dia merupakan tangan kanan dari Rudolf Bonnet dan sekaligus teman baik dari Tjokorda Agung Sukawati.

Dia bercerita banyak tentang masa-masa itu dan tentang para seniman Pita Maha. Tapi untuk hal ini mungkin saya ceritakan lain kali saja.

Pertama-tama kami ingin menyebutnya sebagai “Laki-laki yang tidak tahu usianya” Sebab bila anda menyanyakan usianya dia selalu menjawabnya dengan kalimat di atas. Jadi sejak tahun lalu kami mengadakan perjalanan dengannya, karena dia banyak tahu tentang tempat-tempat istimewa. Dan mengenai Taro, dia mengawali pembicaraannya tentang perjalanan suci Sri atau Rsi Markandya. Dia memperkenalkan kami dengan Tjokorda Raka Kerthyasa di purinya di Hotel Ibah untuk mendengarkan lebih rinci tentang perjalanan tersebut.

Ibah, berdekatan dengan Pura Gunung Lebah, pura yang sudah kami kunjungi beberapa kali. Kami selalu merasa nyaman dan tenang melakukan meditasi di pura tersebut. Dan kami rasakan bahwa ada sesuatu yang istimewa di pura ini, tapi kami tidak tahu apa itu. .

Tjok Raka bilang bahwa Pura Gunung Lebah dapat dianggap sebagai pusat spiritual di Bali. Campuan artinya ‘bercampur’. Karena dua sungai (salah satunya adalah sungai Wos) bertemu di sana. Dan Ubud artinya obat. Karena banyak orang yang bisa sembuh. Dan ini menjadi alasan juga bagi Rsi Markandya untuk memulai perjalanannya yang tersohor itu. Tjok Raka menceritakan kepada kami secara keseluruhan. Singkatnya seperti ini. Dari Jawa, (dekat Gunung Raung) beliau melihat cahaya yang datang dari bagian timur Bali, yakni dari daerah yang sekarang disebut sebagai Besakih. Beliau kemudian memutuskan untuk berangkat bersama ratusan pengikutnya. Beliau mesti mengadakan perjalanan dua kali karena beliau menemui kegagalan saat perjalanan pertama. Banyak dari pengikutnya yang meninggal. Penyebab kegagalan tersebut adalah mereka tidak menghaturkan sesaji dengan benar. Baru pada saat perjalanan yang kedua mereka melaksanakannya dengan benar dan beliau lalu mendirikan agama Shiwa Buddha (atau hindu-dharma, agama hindu bali) di Bali.

Dari Besakih mereka melanjutkan perjalanan ke Campuan dan mendirikan Pura Gunung
Lebah , yang artinya gunung yang rendah. Dari Campuan beliau menembus hutan ke arah utara, yakni Taro. Dan di sana beliau mendirikan Pura Gunung Raung.
Kata ‘Taro’ artinya salinan atau klise atau mengikuti, atau semacamnya. Saat orang sembahyang di Taro mukanya menghadap ke arah barat, yakni Jawa, ke arah
Gunung Raung. Belia membawa serta sapi putih, dan sapi putih hingga kini masih dipakai bila ada upacara-upacara keagamaan tertentu. Dan terjemahan dari hal ini adalah: apapun yang anda butuhkan, anda bisa mendapatkan dari sana.

Dalam perjalanannya dari Campuan ke Taro, Rsi Markandya beberapa kali beristirahat. Dan setiap kali beliau istirahat/berhenti, beliau mendirikan pura. Dan sampai kinipun pura-pura itu masih ada, misalnya Pura Pucak Payogan (yang artinya pusat meditasi, karena mengandung kata ‘yoga’. “Sebuah tempat yang amat suci,” menurut Tjokorda Raka Kerthyasa.

Dan ada juga Pura Suci, tidak jauh dari Pura Pucak Payogan, juga sangat disucikan . Saya mulai perjalanan saya dari Pura Gunung Lebah, yang sebelumnya sudah pernah kami kunjungi beberapa tahun silam. Letaknya sangat dekat dengan sekolah. Kebetulan saat itu adalah Hari Raya Saraswati. Dewi Saraswati adalah Dewi Ilmu Pengetahuan dan Sastra. Jadi kami benar-benar beruntung dapat ikut serta sembahyang dan upacara serta siswa dan guru yang ramah-ramah.

Dan di tengah-tengahnya ada patung Rsi Markandya. Jalan naik ke arah utara menuju Payogan bernama Jalan Markandya. Dari sebuah pinggiran sungai, saya sempat mengabdikan gambar beliau. Daerah sekitarnya memang benar-benar wilayah beliau. Rsi Marakandya sepertinya ada dimana-mana di lembah Wos.

Saat kami mengunjungi Pura Pucak Payogan tahun lalu, kami ditemani oleh Agung Muning. Memang pura ini sebuah tempat yang sangat bagus untuk meditasi. Di belakang pura sebuah pemandangan pepohonon dan hutan hijau yang menghampar. Di pura itu kami melihat patung penyu dan dua ekor naga. Kombinasi keduanya bukan saja menopang linggih padmasana, tetapi juga menopang beberapa pelinggih yang beratap meru. Yang jelas, di dalam pura nuansa hijau begitu kuat sehingga memberikan suasana yang magis.

Di Pura Suci kami sangat beruntung bertemu dengan Pak Marjana, seorang peluskis dengan gaya Keliki, beliau mempunyai galeri di pinggir jalan yang sama. Dia memberikan keterangan tentang pura tersebut. Dan kami senang kami jadi banyak tahu. Saya sudah cetak foto2 yang saya ambil dari blog ‘baliluwih’. Foto-foto tersebut adalah foto odalan yang berlangsung bulan Oktober 2008. ‘Gedong’ itu sekarang kosong, lain dengan yang ada di foto yang penuh dengan barong, yang dibawa dari pura-pura di sekitarnya.

Di antara foto-foto yang saya lihat di weblog, ada foto Tjokorda Raka Kerthyasa. Tampaknya pura ini sangat penting bagi keluarga puri. Pak Marjana bilang sama saya bahwa dia berada di sana pada saat itu dan tahu bahwa dia mengenali dirinya di foto tersebut.

Bagi kami sebagai orang luar, sangat berguna bagi kami melihat semua pelinggih-pelinggih meru tersebut yang berisi papan nama dari para dewa. Salah satunya adalah pelinggih yang diabadikan untuk Ratu Suci. Di luar areal pura, terdapat sebuah pohon pulé yang cabang-cabangnya merayap sepanjang tembok bagaikan sebuah ‘pohon pelindung’. Dari kayu besar inilah topeng-topeng barong dibuat karena jenis kayunya memang keras. Dan pada sisi yang lain tampak pemandangan sawah yang sangat indah. Dalam perjalana menuju Keliki kami sampai di Taro.

Tahun lalu ada pemugaran besar-besaran yang berlangsung di sana. Dan tahun ini kami kembali ke sana untuk melihat perkembangannya. Kedua gapura candi bentar itu kini sudah selesai seluruhnya. Batu yang dignakan adalah batu hitam. Sepanjang pengamatan kami, tampaknya para tukang yang mengerjakannya hafal betul apa yang harus dikerjakan. Pada saat itu, arsiteknya juga ada di sana dan Pak Muning sempat ngobrol dengannya.

Saat kami tiba, kami juga melihat ada upacara yang berlangsung di tengah sawah yang diperuntukkan bagi hasil panen. Setelah itu kami sempat ngobrol dengan pemangku yang ramah yang berasal dari in Ubud ... jadi perjalanan ini terasa lengkap.
Yang tampak luar biasa adalah ‘balé agung’ yang panjang, mungkin yang terpanjang di Bali. Yang juga menakjubkan adalah atap bambunya. Karena biasanya anda hanya mendapatkannya di desa-desa tradisional.

Dan mungkin ‘Taro’ tidak seterkenal Besakih, namun mungkin sama tua dan sama pentingnya
Bp. Madé Wijaya, kami yakin anda sudah tahu banyak tentang apa yang kami tulis. Kami hanya mau menuangkan dalam tulisan, kunjungan kami ke pura-pura tersebut dan lembah Wos secara keseluruhan.

********************************************************************************************

Pura Gunung Lebah






























********************************************************************************************

Pura Puncak Payogan




























********************************************************************************************

Pura Suci


















********************************************************************************************

Pura Gunung Raung
































********************